Sebaran kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan dinilai berpotensi mengganggu jarak pandang di area bandara.
JAKARTA — Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terus mengawasi situasi di lapangan serta mempererat koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan industri penerbangan menyikapi dampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terhadap kelancaran dan keselamatan operasional di kawasan Kalimantan.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F Laisa, menjelaskan bahwa kepekatan asap karhutla sangat memengaruhi visibilitas di sekeliling bandar udara, yang secara langsung berimbas terhadap kelancaran jadwal perjalanan udara. Di tengah situasi yang penuh tantangan tersebut, keselamatan penerbangan senantiasa menjadi landasan terpenting pada setiap pengambilan keputusan operasional.
“Keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas utama. Apabila kondisi jarak pandang berada di bawah batas minimum operasional, maka penerbangan dapat mengalami keterlambatan, penundaan, pembatalan, maupun pengalihan sesuai hasil evaluasi kondisi di lapangan dan pertimbangan keselamatan,” tegas Lukman lewat pernyataan tertulis di Jakarta, Selasa (22/9/2026).
Mengacu pada hasil pemantauan intensif dan sinergi bersama Kantor Otoritas Bandar Udara, pengelola bandara, lembaga navigasi penerbangan, maskapai, dan pihak terkait sepanjang rentang 14–20 September 2026, terdata setidaknya 409 penerbangan terdampak di area kewenangan Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah VII Balikpapan. Rinciannya mencakup 141 penerbangan mengalami keterlambatan (delay), 254 penerbangan terpaksa ditunda atau dibatalkan (cancelled/postponed), serta 14 penerbangan harus dialihkan pendaratannya (divert).
“Jumlah penerbangan terdampak tersebut meningkat dibandingkan periode 7–13 September 2026 yang mencatat 159 penerbangan terdampak. Kondisi ini antara lain dipengaruhi oleh menurunnya jarak pandang akibat asap Karhutla,” imbuh Lukman.
Berdasarkan pembagian wilayah, Lukman memaparkan bahwa Provinsi Kalimantan Tengah mengalami dampak paling parah dengan total 201 jadwal penerbangan terdampak, meliputi 79 delay, 121 dibatalkan atau ditunda, dan 1 pendaratan dialihkan. Berikutnya, Kalimantan Timur mencatatkan 138 penerbangan terdampak yang terdiri atas 48 delay, 77 dibatalkan atau ditunda, serta 13 pengalihan rute. Adapun di kawasan Kalimantan Utara terdapat 70 penerbangan terganggu, dengan rincian 14 delay dan 56 dibatalkan atau ditunda.
Lukman menuturkan bahwa jarak pandang terendah selama periode pemantauan itu bahkan sempat menyentuh angka 50 meter di sejumlah simpul transportasi udara, seperti Bandara Tjilik Riwut, Bandara Iskandar, Bandara Haji Muhammad Sidik, dan Bandara APT Pranoto. Penurunan jarak pandang ekstrem ini menjadi kendala operasional yang krusial mengingat setiap pesawat wajib menaati batas minimum operasional dan regulasi keselamatan resmi.
“Sementara itu, berdasarkan pemantauan pada 21 September 2026, dampak kondisi asap Karhutla juga terjadi di sejumlah bandar udara di Kalimantan Barat oleh Kantor Otoritas Bandara Wilayah I Kelas Utama,” beber Lukman.
Di Bandara Supadio, Pontianak, berbagai aktivitas penerbangan dilaporkan mengalami penundaan jadwal antara 42 hingga 195 menit. Tak hanya itu, Lukman mengungkapkan ada sejumlah agenda terbang yang terpaksa dibatalkan lantaran visibilitas berada di bawah standar kelaikan operasional.
“Pada pukul 21.30 WIB, Bandara Supadio berstatus open dengan jarak pandang sekitar 1.100 meter,” pungkasnya.








