Kondisi musim kemarau senantiasa menghadirkan ujian berat bagi kalangan petani di Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Di tengah keterbatasan ketersediaan air irigasi, komunitas agraris setempat sangat memerlukan komoditas pertanian pengganti yang berdaya tahan tinggi serta sanggup menghasilkan keuntungan finansial yang menjanjikan.
Bagi sejumlah kalangan penggarap tanah di Wonogiri, tanaman tembakau hadir menjadi alternatif strategis untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan kala musim kering melanda. Sifat biologis vegetasi ini yang hemat air memberi peluang bagi area persawahan maupun tegalan untuk tetap berproduksi secara produktif sebelum tibanya curah hujan.
Peluang ekonomi ini kian kokoh berkat adanya kolaborasi kemitraan antara PT HM Sampoerna Tbk. (Sampoerna) bersama para petani tembakau melalui jaringan perusahaan penyuplai, yang menjadi representasi nyata dari dedikasi perusahaan guna mengangkat kesejahteraan masyarakat luas di dalam rantai pasok industrinya.
Hingga saat ini, Sampoerna tercatat telah memberikan bimbingan serta pendampingan langsung kepada lebih dari 22.500 petani tembakau beserta cengkih, dengan mengedepankan implementasi kaidah-kaidah agrikultur berstandar mutu tinggi mulai dari penanaman benih hingga masa pemetikan hasil panen.
Lewat penerapan Praktik Pertanian yang Baik (Good Agricultural Practices/GAP), pedoman Kode Praktik Pekerja Pertanian (Agricultural Labor Practices/ALP), serta pendampingan intensif, para penggarap tanah tidak sekadar memperoleh wawasan agronomis dan lonjakan hasil bumi, melainkan juga kesempatan nyata dalam memperluas skala usaha tani secara ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Penerapan Praktik Pertanian yang Baik tersebut membimbing para petani memahami tata cara penanaman tembakau yang tepat sasaran, dimulai dari tahap pembenihan, pemeliharaan struktur tanah, formula pemupukan berimbang, manajemen pemakaian air yang efisien, hingga metode penanganan pascapanen demi mengamankan mutu lembaran daun tembakau.
Di samping peningkatan kapabilitas sumber daya manusia, penguatan produktivitas perkebunan turut ditopang melalui peremajaan alat-alat pertanian modern, seperti halnya pengadaan mesin pemanen padi serbaguna yang mampu memotong bulir padi sekaligus menghaluskan tekstur tanah sebagai persiapan menanam aneka komoditas berikutnya.
Sementara itu, regulasi Kode Praktik Pekerja Pertanian berperan aktif membangun ekosistem ketenagakerjaan yang etis pada skala perkebunan rakyat, melingkupi jaminan keselamatan serta kesehatan kerja, pencegahan eksploitasi tenaga kerja anak di bawah umur, dan penghormatan penuh terhadap hak-hak para buruh harian lepas.
Salah satu sosok penggarap yang telah memetik faedah dari skema kemitraan tersebut ialah Katino (46), seorang warga asal Eromoko, Wonogiri. Kisah hidupnya sebagai pembudidaya tembakau berawal dari sebuah pengalaman bersahaja yang pada akhirnya mengubah garis perjalanan masa depannya.
Kala itu, pandangannya tertuju pada seorang kakek petani berusia kurang lebih 70 tahun yang baru saja menuntaskan transaksi penjualan hasil panen tembakau di sebuah fasilitas pergudangan. Bagi Katino yang saat itu masih berprofesi sebagai pengemudi truk ekspedisi, peristiwa tersebut memantik inspirasi mendalam mengenai bagaimana jerih payah di bidang pertanian mampu menghadirkan taraf hidup yang jauh lebih mapan.
Bermodalkan tekad kuat serta semangat belajar tinggi, Katino lantas memantapkan hati untuk mendalami agribisnis tembakau secara sungguh-sungguh sejak tahun 2019. Pada fase permulaan ia menimba pengalaman dari rekan-rekan sejawat, sebelum akhirnya memperoleh pendampingan langsung dari pihak Sampoerna melalui mitra pemasok resminya.
"Dari awal tanam itu kan ada proses pembibitan, saya dikasih tahu cara penyebaran benihnya, cara ngerawat bibitnya harus berapa hari atau berapa jam. Terus diajarin juga cara nyebar yang benar gimana, cara pemupukan pupuk dasarnya gimana, sampai proses penyiramannya pun semua dikasih tahu. Dengan adanya pendamping lapangan, kita yang awalnya dari awal gak tahu apa-apa, sekarang jadi tahu," tutur Katino.
Bagi figur Katino, nilai guna dari bimbingan lapangan yang ia terima bukan semata-mata menyangkut penambahan wawasan teknis bercocok tanam, melainkan juga pembaharuan pola pikir dalam mengelola potensi lahan pertanian secara menyeluruh.
Dirinya menyadari sepenuhnya bahwa tiap-tiap fase agrikultur, mulai penyeleksian bibit unggul, kalkulasi masa tanam yang presisi, hingga perlakuan dosis nutrisi tanaman, memegang peranan krusial terhadap standar mutu serta tonase tembakau yang nantinya diperoleh.
Ketertarikan Katino dalam membudidayakan tembakau juga berakar erat dari karakteristik cuaca di teritori Wonogiri. Selama puluhan tahun lamanya, fase kemarau di kawasan perbukitan ini identik dengan lahan tidur yang telantar akibat ketiadaan aliran air bersih.
Dalam suasana kemarau panjang, sebagian besar penduduk desa biasanya hanya pasrah menantikan tibanya musim penghujan. Namun demikian, tanaman tembakau memperlihatkan keunggulan tersendiri karena tidak bergantung pada pasokan air berlebih, sehingga sanggup mengaktifkan lahan tidur agar menghasilkan pemasukan finansial yang nyata.
Kerja keras dan konsistensi Katino akhirnya membuahkan hasil membanggakan. Terhitung mulai tahun 2023, taraf kesejahteraannya merangkak naik secara pasti, ditandai oleh lonjakan penghasilan yang memberinya kemampuan untuk menebus petak sawah baru serta memperbesar skala bisnis perkebunannya.
Kini, pria tersebut mengelola bentangan lahan seluas kurang lebih 9.000 meter persegi yang tersebar di tiga lokasi terpisah, ditambah satu hamparan lahan sewa, sembari mempekerjakan sejumlah tenaga buruh lokal guna menggerakkan sistem pergiliran komoditas pada musim hujan dan kemarau.
Kepuasan serupa dialami oleh Purwanto (34), pengolah tanah lainnya di Wonogiri yang menyimpan rekam jejak unik dalam menggeluti ladang tembakau. Praktik rotasi tanaman terbukti bukan sekadar taktik adaptasi menghadapi fluktuasi iklim, melainkan turut mendongkrak ketahanan ekonomi keluarganya secara signifikan.
Setelah sempat mengadu nasib di Ibukota Jakarta sebagai pekerja di sebuah entitas korporasi swasta, Purwanto membulatkan tekad pulang kampung demi merawat orang tuanya sekaligus menggarap tanah peninggalan keluarga. Tindakan tersebut mengawali perjalanannya berkecimpung di sektor agraris hingga akhirnya mengenal budidaya daun emas tembakau.
"Saya pulang ketika musim kemarau. Tetangga-tetangga tanam tembakau. Saya mulai belajar ikut menanam. Awalnya tidak banyak, hanya untuk belajar," kenang Purwanto.
Bermula dari langkah awal tersebut, Purwanto kemudian membangun relasi kemitraan produktif dengan pihak Sampoerna melalui anak perusahaan pemasoknya. Berdasarkan penuturan Purwanto, program supervisi yang diperoleh merangkum seluruh tahapan budidaya sehingga memberikan jalan keluar praktis atas kendala-kendala di lahan pertanian.
"Kita dapat penyuluhan, bimbingan teknis, dan pendampingan untuk penanamannya. Mulai dari pembibitan, penanaman, bahkan sampai pascapanen pun kita masih didampingi oleh petugas lapangan."
Di mata Purwanto, asistensi berkelanjutan tersebut membuat rutinitas penanaman berlangsung jauh lebih terstruktur dan terukur. Dirinya tak lagi berpijak pada kebiasaan tradisional warisan masa lalu semata, melainkan mempraktikkan metode budidaya modern yang telah teruji lewat sistem kemitraan terpadu.
Strategi pendampingan terarah ini memudahkan dirinya mengontrol kesegaran dan mutu tanaman sejak tahap persemaian bibit hingga hari pemetikan, sehingga hasil petikan panen yang diperoleh jauh lebih seragam dan memiliki nilai jual pasar yang kompetitif.
Kemitraan yang Mendorong Kesejahteraan Petani
Sama halnya dengan pengalaman Katino, Purwanto pun merasakan peranan signifikan program kemitraan dalam menata struktur finansial rumah tangganya. Pemasukan dari komoditas tembakau melonggarkan ruang anggaran keluarga untuk mempersiapkan musim tanam berikutnya secara matang, termasuk kebutuhan budidaya padi yang senantiasa menjadi pilar utama mata pencahariannya.
"Kalau sekarang, sebagian hasilnya bisa kami sisihkan untuk modal musim tanam berikutnya. Jadi kebutuhan untuk pupuk, padi, maupun tembakau bisa dipersiapkan lebih awal," jelas Purwanto.
Kegigihan Purwanto pun mengantarkan transformasi nyata pada kondisi perekonomian keluarganya. Bangunan tempat tinggal orang tuanya yang tempo dulu hanya berdindingkan bilah kayu sederhana kini telah bertransformasi menjadi hunian bertembok kokoh yang jauh lebih aman dan nyaman.
Tak berhenti pada skala rumah tangganya sendiri, kelimpahan hasil panen tembakau telah menopang kebutuhan hidup puluhan kepala keluarga di seantero Wonogiri sekaligus memacu denyut sirkulasi perekonomian di tingkat pedesaan.
"Setelah panen tembakau, ada yang beli mobil keluarga buat disewain. Ada juga yang beli mobil jasa angkut barang," imbuhnya.
Dampak berantai tersebut, sebagaimana diutarakan Purwanto, pada gilirannya merevolusi cara pandang masyarakat sekitar. Kemitraan komoditas tembakau yang mendatangkan keuntungan nyata sanggup memotivasi warga untuk menetap dan membangun potensi ekonomi lokal di tanah kelahiran ketimbang merantau ke daerah perkotaan.
Bercermin dari rekam jejak perjuangan Katino serta Purwanto, eksistensi tembakau melampaui kedudukannya sebagai tanaman selingan di musim kering. Lewat ketelatenan para penggarap tanah, tembakau sukses menebarkan optimisme hidup yang lebih mapan bagi sanak keluarga dan lingkungan sekitarnya, sembari terus memelihara kesinambungan ketahanan pangan melalui tata kelola agraria yang lestari.
Mereka berdua merefleksikan profil figur pejuang lokal yang tak sebatas memperjuangkan kemakmuran rumah tangga, melainkan turut menggerakkan dinamika roda perekonomian wilayah.
