AirNav Indonesia membagikan rekam jejak pengoperasian Free Route Operation (FRTO) pada ruang udara kepulauan dalam agenda ICAO Air Navigation World – Air Traffic Flow Management (ATFM) 2026 yang berlangsung di markas besar ICAO, Montreal, Kanada, pada 5-9 Oktober 2026.
Pada pertemuan bergengsi sektor dirgantara global itu, Direktur Operasi AirNav Indonesia Setio Anggoro hadir sebagai panelis sesi FUA & Free Route Airspace lewat presentasi bertajuk "Sequencing Free Route Operation (FRTO) Across Indonesia's Archipelagic Airspace".
"FRTO memberi keleluasaan kepada maskapai untuk memilih lintasan penerbangan berdasarkan kondisi dan kebutuhan operasional. Tantangannya adalah memastikan kebebasan memilih lintasan tersebut tetap didukung sistem, prosedur, dan kompetensi personel yang memadai," ujar Setio dalam rilis pers, Sabtu (10/10).
Gagasan FRTO bermula saat masa pandemi COVID-19 tahun 2020 kala mobilitas penerbangan mengalami penurunan tajam. Merespons permohonan International Air Transport Association (IATA), AirNav menggandeng Direktorat Jenderal Perhubungan Udara guna menguji coba User Preferred Route (UPR), didukung Indonesia Air Traffic Controllers Association (IATCA).
Usai melewati rangkaian pengujian serta telaah risiko keselamatan terukur, skema FRTO diresmikan secara menyeluruh di FIR Jakarta beserta Ujung Pandang pada 5 Oktober 2023, mencakup ketinggian jelajah FL330 sampai FL600.
Setio mengungkapkan bahwa pengaplikasian FRTO di tanah air menyajikan tantangan khusus. Pasalnya, AirNav mengelola wilayah udara seluas 7,79 juta kilometer persegi di atas 17.000 lebih pulau, sekaligus terhubung dengan 10 FIR dari negara-negara tetangga.
Guna memitigasi potensi konflik armada yang kian dinamis, AirNav memodernisasi infrastruktur otomasi serta kapasitas pengatur lalu lintas udara. Ketentuan separasi minimum, jalur koordinasi terpadu, hingga protokol keselamatan mutlak dipertahankan dalam operasional harian.
Selain itu, AirNav memperlebar jangkauan koneksi batas ruang udara lintas negara. Milestones strategis mencakup sinergi penuh bersama FIR Oakland sejak Maret 2023, FIR Port Moresby pada Juni 2024, hingga implementasi komprehensif rute Indonesia-Australia pada Juli 2025.
Dalam kurun 2020 hingga 2025, tercatat 10.578 pergerakan pesawat telah memanfaatkan fasilitas FRTO di FIR Jakarta dan Ujung Pandang. Lonjakan signifikan terjadi pada 2025 dengan kenaikan 82 persen dari 2.770 penerbangan menjadi 5.030 pergerakan.
Data AirNav Indonesia menunjukkan, adopsi FRTO selama 2025 memangkas pengeluaran avtur maskapai sampai USD 8,04 juta serta mereduksi pelepasan karbon dioksida (CO₂) sebesar 5.426 ton.
Optimalisasi rute penerbangan ini terbukti nyata memangkas jarak tempuh, menghemat durasi perjalanan, serta mengendalikan pembakaran bahan bakar armada.
"Ke depan, FRTO menjadi salah satu fondasi pengembangan Trajectory-Based Operations (TBO). AirNav juga menyelaraskan pengembangan kompetensi pemandu lalu lintas udara dengan ICAO APAC Project 30/10 sebagai bagian dari modernisasi layanan navigasi penerbangan," ucap Setio.
