Jakarta – Peristiwa pilu dialami seorang pemeran asal Tiongkok, Wang Xing, yang terjerumus menjadi korban tindak pidana perdagangan orang hingga berpindah tangan sebanyak tiga kali cuma dalam rentang empat hari ke komplotan penipuan di Myanmar pada tahun kemarin.
Berdasarkan laporan Channel News Asia, Sabtu (10/10/2026), rincian mencekam perihal tragedi yang menimpa sang pesohor baru saja dibeberkan lewat sebuah tayangan dokumenter anyar bikinan pemerintah Tiongkok yang disiarkan stasiun televisi CCTV sejak Senin (5/10) sampai Rabu (7/10).
Karya dokumenter tiga episode bertajuk The Demise of Telecom Fraud in Northern Myanmar garapan Kementerian Keamanan Publik Tiongkok bersama China Media Group tersebut turut menyoroti langkah masif Beijing saat menumpas komplotan penipuan telekomunikasi di wilayah tapal batas.
Malapetaka yang dihadapi Wang, figur publik yang juga populer lewat nama panggung Xing Xing, berawal pada pengujung 2024. Sosok yang sempat tampil dalam film Ip Man 3 ini terperangkap siasat licik pemilik akun WeChat beridentitas "Yan Shiliu" yang mengaku bertindak selaku asisten sutradara sembari mengiming-imingi tawaran peran palsu.
Usai dinyatakan lolos seleksi rekaman video, Yan secara meyakinkan mengurus tiket penerbangan pergi-pulang serta fasilitas penginapan bagi Wang. Kendati demikian, begitu mendarat di Bandara Suvarnabhumi, Bangkok, tepat pada 2 Januari 2025, Wang malahan diantar seorang pengemudi ke arah utara menuju Mae Sot, bukan ke penginapannya di Phuket. Sadar kendaraannya berbelok arah di sekitar pusat perbelanjaan, ia diam-diam mengirimkan sinyal bahaya rahasia yang sudah disepakati bersama sang pujaan hati.
"Apakah kamu sudah kasih makan kucing?," ucapnya.
Kalimat singkat itu seketika direspons sang kekasih yang bergegas mengadukan kasus hilangnya Wang kepada aparat penegak hukum. Wang kemudian disekap oleh segerombolan lelaki bersenjata api, dilarikan menyeberangi perbatasan menuju Myawaddy di kawasan Myanmar, serta diisolasi dari lingkungan luar. Tatkala berada di ruang sekapan, Wang sempat berupaya menyodorkan tebusan uang demi meraih kebebasan, namun tawaran itu ditepis keras oleh gerombolan penculik.
"Kami tidak butuh uang, melainkan orang," tegasnya.
Beruntung, aparat Kementerian Keamanan Publik Tiongkok yang menjalin kemitraan erat bersama otoritas Thailand dan Myanmar berhasil mengendus jejak sindikat kejahatan lintas negara tersebut lalu mengevakuasinya. Total 17 pelaku kejahatan, termasuk Yan, diringkus oleh regu kepolisian gabungan.
Lewat tulisan pada kanal Weibo miliknya pada Rabu (7/10), Wang mencurahkan rasa terima kasih yang teramat mendalam kepada instansi berwenang atas keberhasilan misi pembebasan dirinya.
"Saya sangat berterima kasih kepada Tanah Air," papar Wang.
Di sisi lain, tayangan tersebut untuk permulaan turut memaparkan kegagalan tiga sesi perundingan pihak Tiongkok kala membujuk dinasti kriminal terpandang di Kokang, kawasan utara Myanmar, agar menghentikan operasi tipu-tipu mereka. Diketahui terdapat empat klan penguasa, yakni trah Bai, Wei, Liu, serta Ming, yang terbukti membangun gurita politik, konglomerasi bisnis, dan milisi militer bersenjata. Kebuntuan mencapai puncaknya setelah dialog selama tiga jam antara utusan Beijing dan delegasi empat keluarga di gedung sempit dekat perbatasan berakhir tanpa mufakat.
Dokumenter ini juga menampilkan rekaman mengerikan di area markas kejahatan, lokasi para korban kerja paksa yang dinilai gagal mencapai target dipaksa berhadapan dengan regu penembak mati di lantai bawah tanah. Menyikapi kekejaman tak manusiawi ini, mahkamah agung Tiongkok pada awal tahun ini menegaskan tindakan hukum keras yang dijatuhkan terhadap para petinggi sindikat tersebut.
"Sindikat kriminal Ming dan Bai telah dibongkar sepenuhnya," ungkapnya.
Sebanyak 16 terdakwa telah divonis hukuman mati, termasuk figur penting keluarga Bai yang telah dieksekusi pada Februari lalu seiring tuntutan Tiongkok yang menghendaki penutupan total sindikat penipuan daring tersebut. Tak hanya itu, otoritas kehakiman turut memastikan bahwa lebih dari 41.000 individu yang dipulangkan dari Myanmar utara resmi dijatuhi hukuman pidana atas keterlibatan mereka dalam jaringan kejahatan telekomunikasi berskala raksasa tersebut.
