Aksi gempuran yang dilancarkan kelompok Houthi ke kawasan teritorial Arab Saudi kian memanas pada hari Senin waktu setempat. Berikut ini merupakan deretan fakta terbarunya:
1. Houthi Rudal Balistik Bandara Riyadh
Pihak pemberontak Houthi di Yaman mengklaim telah mengarahkan proyektil ke sasaran strategis, yakni Bandara Internasional Riyadh pada hari Senin memanfaatkan rudal balistik. Gempuran ini terjadi setelah puluhan jiwa dilaporkan tewas serta ratusan lainnya menderita luka-luka akibat aksi pemboman berturut-turut yang menyasar kompleks fasilitas bandara tersebut pada hari Kamis, Sabtu, dan Minggu kemarin.
"Angkatan bersenjata kami berhasil menargetkan Bandara Internasional (King) Khalid di Riyadh, ibu kota musuh Saudi, pada malam ini dengan rudal balistik," kata perwakilan militer Houthi, Yahya Saree sebagaimana diwartakan AFP.
"Serangan tersebut mengenai sasaran dengan tepat," imbuhnya.
Ia membeberkan bahwa armada Houthi turut membidik pangkalan militer Khamis Mushait di wilayah selatan kerajaan menggunakan armada pesawat nirawak (drone).
2. Saudi Benarkah Cegat Rudal Balistik
Koalisi militer pimpinan Arab Saudi mengonfirmasi pada hari Senin bahwa pertahanan udara mereka berhasil menyergap rudal balistik yang dilepaskan Houthi di atas wilayah udara ibu kota Riyadh. Kepastian pencegatan itu disampaikan juru bicara koalisi, Mayor Jenderal Turki al-Malki, melalui platform X.
"Intersepsi dan penghancuran rudal balistik yang diluncurkan oleh milisi teroris Houthi menuju Riyadh," demikian pengumumannya.
3. Warga Asing Ditangkap Karena Rekam Serangan di Arab Saudi
Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Riyadh pada hari Senin mengabarkan sejumlah warga negaranya ditahan akibat merekam peristiwa di Arab Saudi. Perwakilan diplomatik tersebut merilis warta resmi tanpa menguraikan jumlah pasti orang yang diringkus maupun perkembangan pembebasan mereka.
"Arab Saudi telah memperingatkan bahwa tindakan merekam, memublikasikan, atau menyebarkan informasi terkait upaya penangkisan rudal dan pesawat nirawak (drone) beserta lokasi dampaknya dapat menjerat Anda dalam masalah hukum," tulis peringatan resmi Kedutaan AS.
Sejumlah ekspatriat di Riyadh turut mengungkapkan kepada wartawan AFP bahwa rekan mereka diringkus petugas kepolisian lantaran mengabadikan rekaman audio visual kondisi teranyar serta menyebarkannya di media sosial.
4. Houthi Warning Amerika
Pejabat faksi Houthi melayangkan ultimatum pada hari Senin terhadap Washington. AS diperingatkan bakal menerima balasan cepat dan menyakitkan jika campur tangan dalam perang di Yaman. Gertakan ini mengemuka setelah tersiar kabar Arab Saudi meminta bantuan militer AS, ditambah respons Presiden Donald Trump yang memperlihatkan sinyal hijau untuk bergabung dalam koalisi.
"Jika AS terlibat dalam agresi terhadap Yaman, kami tidak akan menunda-nunda keputusan untuk membalas; sebaliknya, akan ada tanggapan cepat dan menyakitkan yang menyasar AS serta seluruh kepentingannya di kawasan ini," tegas biro politik Houthi, Mohammed Al Bukhaiti.
"Seluruh karyawan dan pekerja di fasilitas minyak serta bandara Arab Saudi untuk menjauhi lokasi-lokasi tersebut, karena tempat-tempat itu telah menjadi sasaran yang sah," serunya.
5. Houthi Warning Semua Pekerja di Perusahaan Minyak Saudi
Kelompok Houthi menegaskan sasaran serangan tidak hanya fasilitas lapangan terbang, melainkan juga meluas ke perusahaan minyak setempat. Melalui pengumuman resmi hari Senin, petinggi Houthi menginstruksikan para staf korporasi minyak Arab Saudi agar segera menyingkir dari tempat kerja demi menghindari bahaya amunisi.
6. Bandara Riyadh Masih Setop Operasi
Otoritas penerbangan Arab Saudi memperpanjang penutupan jalur operasional gerbang transportasi udara internasional Riyadh menyusul rentetan penyerbuan dari Houthi. Otoritas Umum Penerbangan Sipil (GACA) menyatakan perpanjangan penutupan layanan penerbangan di Bandara Internasional King Khalid demi prosedur evaluasi keselamatan dan operasional.
Aparat berwenang tidak merilis tanggal pasti operasional dipulihkan. Namun, pejabat senior bidang penerbangan lintas Teluk mengungkapkan mobilitas transportasi udara terhenti sepanjang sisa hari kerja aktif di Arab Saudi, bersandar pada memo resmi regulator kepada asosiasi penerbangan pada Senin.
"Mereka memberi tahu kami bahwa penangguhan akan berlangsung setidaknya hingga hari Kamis. Tidak ada penerbangan hingga akhir pekan," ungkap narasumber tersebut kepada AFP.
Narasumber menambahkan bahwa blok Terminal 3 dan 4 mengalami kerusakan nyata, merembet ke sistem radar navigasi dan telekomunikasi, sementara kondisi fisik landasan pacu belum rampung diinspeksi.
7. Maskapai Batalkan Penerbangan
Maskapai Uni Emirat Arab, Etihad Airways, pada Senin mengonfirmasi penghentian rute penerbangan ke Riyadh hingga sepekan mendatang akibat gangguan keamanan kawasan. Maskapai tersebut sebelumnya sudah membekukan layanan penerbangan menuju Dammam dan Jeddah sepanjang pekan berjalan.
Langkah serupa diterapkan maskapai nasional Bahrain, Gulf Air, yang membatalkan seluruh jadwal penerbangan ke Riyadh hingga Sabtu. Sementara itu, pejabat operator Riyadh Metro membeberkan kepada jurnalis AFP bahwa akses transportasi terpadu ke tiga stasiun di area bandara dihentikan sementara.
8. Respons China
Pemerintah China mengutuk serangan rudal Houthi terhadap fasilitas bandara dan objek vital energi Arab Saudi, serta menyuarakan keprihatinan serius atas meningkatnya tensi militer kedua pihak.
"China mengecam serangan yang menyebabkan banyak korban jiwa dan menyatakan kekhawatiran serius atas eskalasi konflik tersebut," ungkap juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, dalam taklimat pers berkala.
"Kami menyerukan kepada pihak-pihak terkait untuk menghindari tindakan yang dapat meningkatkan ketegangan regional, menyelesaikan perbedaan dan sengketa melalui dialog dan negosiasi, serta mewujudkan perdamaian dan stabilitas di kawasan sesegera mungkin," desaknya.
9. Sikap Iran
Pihak berwenang Iran pada Senin menyatakan prihatin atas eskalasi pertempuran antara Houthi dan Arab Saudi, sembari menyatakan kesiapan untuk memfasilitasi dialog damai.
"Kami sangat prihatin dengan perkembangan yang terjadi di Semenanjung Arab," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, dalam konferensi pers mingguan.
"Kami benar-benar tidak ingin permusuhan dan perang terus berlanjut antara dua negara Islam," imbuh Baqaei seraya mendorong para pihak menyelesaikan konflik melalui dialog.
Kelompok Houthi diketahui merupakan bagian dari aliansi Poros Perlawanan pimpinan Teheran yang menentang pengaruh Israel, bersama kelompok Hizbullah di Lebanon serta faksi paramiliter Syiah di Irak.
10. UEA Teriakkan Penguatan Kerja Sama Negara Teluk
Menanggapi situasi yang kian genting, pejabat senior Uni Emirat Arab (UEA) pada Senin menyerukan konsolidasi antarnegara di jazirah Teluk untuk memperkokoh pertahanan kawasan dari ancaman gempuran Houthi.
"Sejak awal agresi terhadap negara-negara Teluk Arab-yang didasarkan pada kesalahan perhitungan pihak agresor yang menganggap kawasan ini sebagai mata rantai terlemah dalam perang yang sebenarnya ingin kami hindari-telah menjadi jelas bahwa kita semua menjadi sasaran," tulis penasihat senior Gargash di media sosial X.
"Perlu adanya upaya menghidupkan kembali tindakan bersama oleh negara-negara Teluk, khususnya di bidang keamanan dan pertahanan, serta memperkuat sistem keamanan kolektif," lanjutnya.
"Telah terjadi kelemahan serius yang mendorong pihak lain untuk melanggar wilayah kita," tuturnya.
11. Harga Minyak
Ketegangan geopolitik ini mendorong harga minyak mentah menguat pada perdagangan Senin usai Houthi menggempur target infrastruktur di Arab Saudi. Situasi tersebut memperbesar kecemasan pasar terhadap pasokan bahan bakar menjelang musim dingin belahan bumi utara.
Harga minyak terkerek sekitar 2%. Minyak mentah Brent naik menyentuh level US$ 106,65 per barel, sedangkan jenis West Texas Intermediate (WTI) menguat ke posisi US$ 93,74 per barel.
