Sembilan Perusahaan Bersiap Gelar IPO di BEI per Oktober 2026, Sektor Kesehatan Terbanyak

Posted on
banner 336x280

PT Bursa Efek Indonesia mengabarkan bahwa terdapat sembilan korporasi yang masuk dalam pipeline penawaran umum perdana saham per 23 Oktober 2026, yang mana bidang kesehatan tampil paling dominan. Penggalangan modal dari agenda IPO sepanjang tahun berjalan ini telah menyentuh angka Rp2,16 triliun.

JAKARTA – Otoritas PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan perkembangan terbaru mengenai sembilan entitas bisnis yang tengah mengantre untuk melangsungkan Initial Public Offering (IPO) hingga tanggal 23 Oktober 2026. Keberadaan daftar antrean ini menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan pihak bursa dalam memperbanyak jumlah emiten di panggung pasar modal nasional.

Saidu Solihin selaku Direktur Penilaian Perusahaan BEI menerangkan perincian dari sembilan calon emiten tersebut menurut kelompok nilai asetnya. Tercatat ada tiga korporasi berkategori aset jumbo di atas Rp250 miliar, lima perseroan tergolong kelas menengah dengan kepemilikan aset Rp50 miliar hingga Rp250 miliar, serta satu calon emiten berskala mini yang asetnya di bawah Rp50 miliar.

Penentuan skala nilai kekayaan korporasi tersebut berpijak langsung pada aturan POJK Nomor 53/POJK.04/2017. Ditinjau dari klaster industrinya, ranah kesehatan memimpin daftar antrean pencatatan dengan kontribusi empat calon emiten, disusul oleh sektor energi serta material dasar yang masing-masing diwakili dua entitas, ditambah satu pelaku usaha dari industri finansial.

Sepanjang perputaran kalender 2026 hingga batas 23 Oktober, bursa mencatat dinamika aksi korporasi yang cukup semarak. Sudah ada tujuh emiten baru yang resmi mencatatkan saham perdananya ke publik, dengan akumulasi modal segar yang sukses dikumpulkan menembus angka Rp2,16 triliun.

Melalui realisasi pencatatan saham anyar tersebut, total emiten yang aktif bernaung di bursa saham Tanah Air kini genap menjadi 963 perusahaan. Regulator bursa terus mengincar ekspansi ini agar mampu menyentuh target sebanyak 1.100 entitas tercatat saat memasuki tahun 2030 kelak.

Penerbitan Efek Utang dan Rights Issue

Tak sebatas pasar saham, denyut pasar modal domestik juga diperkuat oleh penerbitan Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS). Menjelang akhir Oktober 2026, BEI merangkum kehadiran 149 emisi obligasi maupun sukuk yang diterbitkan oleh 66 institusi, dengan total perolehan dana mencapai Rp151,95 triliun. Dalam kurun waktu yang identik, terdapat 25 emisi obligasi berikutnya dari 16 korporasi yang masih menanti giliran rilis di pasar dari beragam latar industri.

Sementara itu, aktivitas penghimpunan modal lewat skema Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue turut bergulir dinamis. Terhitung sebanyak 16 korporasi sudah menuntaskan aksi korporasi rights issue per 23 Oktober 2026 dengan akumulasi kapitalisasi menyentuh Rp37,35 triliun. Saat ini, tercatat masih ada satu emiten dari ranah properti yang bersiap di antrean pelaksanaan aksi penambahan modal tersebut.

Materi pemberitaan ini dirangkum dengan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan.

BEI Catat 9 Perusahaan Antre IPO hingga Oktober 2026, Sektor Kesehatan Mendominasi

Kejari Bone Bolango Verifikasi 22 Pasangan Calon Peserta Isbat Nikah via Program JAKSA SAKTI

Bahlil Bidik PNBP Sektor ESDM Tembus Rp165 Triliun pada 2026

Pangdam XIII/Merdeka Tegaskan Komitmen Kawal Program Nasional di Sulut dan Gorontalo

Modus Jualan Sayur, Dua Pencuri Gasak Emas Rp367 Juta di Ponorogo