Laju harga komoditas emas diproyeksikan bakal terus bergerak fluktuatif sepanjang pekan mendatang akibat tertekan oleh penguatan kurs dolar AS.
JAKARTA — Nilai emas batangan serta logam mulia diperkirakan bakal melanjutkan pola penurunan dalam kurun waktu satu pekan ke depan. Estimasi rentang nilai tukar komoditas berkilau ini diprediksi berada pada kisaran level Rp 2,39 juta hingga menembus Rp 2,69 juta per gram.
Ibrahim Assuaibi, selaku Pengamat Mata Uang dan Komoditas, memaparkan fakta bahwa pada penutupan perdagangan bursa akhir pekan, banderol emas global bertengger pada level 3.997 dolar AS per troy ounce. Seandainya terjadi tren penurunan kembali, ambang batas penopang atau support pertama bagi emas pasar dunia diproyeksikan bertengger pada nilai 3.951 dolar AS per troy ounce.
“Lalu, dalam rentang sepekan ke depan jika mengalami koreksi lanjutan, targetnya berada di 3.884 dolar AS per troy ounce. Nilai ini bilamana tersentuh berpotensi mencatatkan rekor paling rendah apabila dikomparasikan terhadap periode tahun 2025–2026,” tutur Ibrahim melalui rekaman pernyataan kepada awak media, Ahad (25/10/2026).
Sebaliknya, andai instrumen safe haven ini justru mengalami tren reli kenaikan, area resistensi mula-mula harga emas global berada di posisi 4.053 dolar AS per troy ounce. Jika momentum apresiasi tersebut konsisten berjalan selama satu pekan, lompatannya diperkirakan sanggup menuju level 4.138 dolar AS per troy ounce.
Sementara itu, instrumen logam mulia di pasar domestik menutup sesi akhir pekan pada angka Rp 2,525 juta per gram. Menurut hitungan kalkulasinya, apabila mengalami tekanan jual, logam mulia bakal merosot menuju Rp 2,505 juta per gram. Dalam kurun waktu tujuh hari ke depan, jika pelemahan terus berlanjut, banderolnya bisa terjerembap mencapai Rp 2,39 juta per gram.
Namun, bilamana terjadi pembalikan arah menguat, titik hambatan pertama logam mulia terpantau pada level Rp 2,545 juta per gram. Apabila akselerasi kenaikan bergulir sepekan penuh, banderol logam mulia diproyeksikan menyentuh angka Rp 2,69 juta per gram.
“Dengan demikian, emas internasional pada perdagangan pekan depan berpeluang diperjualbelikan pada rentang 3.884 dolar AS hingga 4.138 dolar AS per troy ounce. Di sisi lain, instrumen logam mulia diperkirakan bergulir di area Rp 2,39 juta sampai Rp 2,69 juta per gram,” terangnya.
Berbarengan dengan perkiraan tersebut, Ibrahim memprediksikan performa indeks dolar AS pada transaksi sepekan ke depan berada pada area 100,90 sampai 103,10. Situasi tersebut mengindikasikan bahwa menjelang penutupan pekan terakhir Oktober 2026, dominasi mata uang greenback diperkirakan terus mempertahankan tren kenaikan.
Mengenai bursa komoditas energi global, ia menaksir harga minyak mentah jenis WTI akan mempertahankan kenaikannya di kisaran 96,90 sampai 108,30 dolar AS per barel. Bersamaan dengan itu, acuan minyak jenis Brent ditaksir diperdagangkan konsisten melampaui level 115 dolar AS per barel.
Di saat bersamaan, posisi nilai tukar rupiah berpotensi kembali tertekan akibat melesatnya indeks dolar AS serta melonjaknya harga komoditas minyak mentah. Mata uang Garuda diramal berpotensi melemah hingga bertengger di kisaran Rp 18.200 per dolar AS.
“Lantas apa faktor yang memicu harga emas dunia, logam mulia, nilai rupiah, minyak bumi, dan indeks dolar sangat bergejolak? Satu pemicu utamanya adalah ketegangan geopolitik,” ungkapnya.
Dirinya menerangkan bahwa kondisi ketegangan di kawasan Eropa Timur kini semakin membara. Pihak Ukraina dilaporkan telah menguasai persenjataan militer modern yang mampu mengimbangi superioritas militer lawannya, Rusia. Ia mengkalkulasi konfrontasi militer ini belum akan tuntas sebelum terlihat adanya indikasi kesepakatan damai nyata.
Pada wilayah Timur Tengah, pertempuran bersenjata pun belum menunjukkan sinyal mereda. Teheran diyakini bertindak kian agresif menyasar kapal-kapal komersial di jalur Selat Hormuz seandainya kubu AS melancarkan agresi militer. Otoritas Iran dilaporkan mulai mengincar pejabat maupun personel AS di Timur Tengah sehingga membuat Washington memangkas jumlah perwakilan korps diplomatiknya untuk ditarik pulang. Di saat bersamaan, Teheran bersiaga melakoni kontak perang terbuka dengan militer AS di kawasan perairan Laut Oman.
“Konsekuensinya, sangat terbuka peluang terjadinya pertempuran dahsyat, yakni pertempuran darat antara pihak Iran berhadapan dengan AS, tinggal menanti hitungan waktu saja, mengingat konsentrasi milisi bersenjata ribuan pasukan telah terkonsentrasi amat masif di perbatasan wilayah Iran dan Oman,” urainya.


