Jakarta, CNBC Indonesia – Sektor industri makanan dan minuman (mamin) di tanah air diprediksi tetap sanggup mengukir tren positif hingga penutupan 2026. Walau didera ragam tantangan, laju ekspansi sektor ini ditaksir konsisten berada pada rentang 6% sampai 6,5%.
Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S. Lukman mengungkapkan bahwa peluang bisnis mamin terbilang cerah menjelang pergantian tahun. Rasa percaya diri ini dilandasi oleh capaian sektor manufaktur tersebut yang tetap kokoh selama enam bulan pertama 2026.
"Saya kira kalau pertumbuhan, saya masih optimistis ya, masih bagus. Sekitar 6%, 6,5% gitulah. Masih bisa tumbuh," kata Adhi kepada CNBC Indonesia seusai agenda Krista Food Expo 2026 di PIK 2026, Rabu (4/11/2026).
Selama paruh pertama atau semester I-2026, laju pertumbuhan sektor mamin menembus 6,51%. Realisasi ini menjadi motor penggerak utama geliat manufaktur domestik di saat tekanan ketidakpastian finansial dunia belum mereda.
Sektor ini pun memegang peranan krusial bagi struktur ekonomi Indonesia, baik lewat sumbangsih produk domestik bruto (PDB), serapan lapangan kerja, hingga perputaran modal investasi.
"Industri makanan dan minuman saat ini terus tumbuh dan menjadi salah satu industri yang resilience di tengah berbagai gejolak dunia. Semester I-2026 kita tumbuh 6,51%, jauh di atas pertumbuhan ekonomi Indonesia dan juga berkontribusi besar terhadap PDB kita," tutur Adhi.
Kendati begitu, para pebisnis kini mewaspadai beberapa regulasi pemerintah yang berpeluang menekan dinamika operasional. Salah satu poin krusial adalah wacana pengenaan tarif cukai Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK).
Regulasi anyar itu memicu kekhawatiran lantaran pabrikan wajib mengkalkulasi imbasnya pada harga jual ritel serta kekuatan belanja masyarakat. Pasalnya, komoditas minuman kemasan merupakan pilar terintegrasi dalam mata rantai ekosistem industri makanan dan minuman.
Ketika disinggung perihal efek langsung kebijakan tersebut terhadap laju bisnis ke depan, Adhi menyatakan pihaknya masih mencermati kelanjutan dialog regulasi.
"Kita sedang diskusikan, mudah-mudahan nggak turun (kalau diterapkan)," jelas Adhi.







