Kiat Pengemudi Ojek Online Bertahan Hidup Lewat Lima Aplikasi Sekaligus

Posted on
banner 336x280

Liputan6.com, Jakarta – Denting nada dering pemberitahuan gawai telah menjadi irama rutin dalam alur kehidupan keseharian seorang pemuda bernama Radhit (27). Notifikasi tersebut bukan cuma berasal dari sebuah perangkat lunak tunggal, melainkan berasal dari lima aplikasi transportasi daring atau ojek online (ojol) yang selalu siaga dan menyala bersamaan di dalam telepon genggam pintarnya. Dirinya memang dituntut untuk benar-benar lihai serta cermat dalam menyortir dan menata seluruh sistem kerja tersebut agar kans untuk mengantongi panggilan orderan pelanggan menjadi jauh lebih lebar terbuka di tengah kerasnya persaingan aspal jalanan.

Bagi sosok Radhit, menghidupkan dan menjalankan lima platform digital kemitraan secara serentak di lapangan bukan sebatas taktik biasa untuk menjaring kuantitas penumpang yang lebih melimpah atau mengumpulkan tumpukan orderan pesan-antar komoditas makanan. Terdapat tumpukan desakan tanggungan operasional dan kebutuhan primer keseharian yang mutlak wajib dipenuhi secara teratur, sementara pemasukan harian yang mampu dipetik dari sebuah platform tunggal belakangan ini dirasakannya sudah tidak lagi mencukupi untuk menopang beban dapur.

banner 468x60

Terhitung sudah menginjak masa tempo dua warsa ke belakang Radhit menekuni mata pencaharian sebagai seorang juru mudi transportasi daring ojol. Pada fase permulaan, profesi mengaspal di jalanan ini sejatinya sekadar dijadikan batu loncatan atau sumber nafkah sambilan belaka tatkala dirinya masih berada dalam fase menanti kepastian pengumuman penerimaan berkas lamaran pekerjaan profesional pada ranah spesialisasi konten kreator serta pengelola media sosial.

Kala masa-masa itu berlangsung, ia melakoni rutinitas sebagai mitra pengemudi ojol yang menyusuri sudut-sudut jalanan Ibukota Jakarta sembari tetap sabar memantau rangkaian tahapan proses penyaringan rekrutmen pegawai di salah satu instansi korporasi. Tahapan berkas seleksi lamaran kerja tersebut pada akhirnya berbuah manis karena ia dinyatakan lolos diterima bekerja, hingga sempat menjalani aktivitas berkarier formal yang memang selaras dengan bidang bakat serta peminatan pribadinya.

Kendati demikian, alur perjalanan karier di meja kantor tersebut rupanya tidak selalu bergulir secara mulus tanpa hambatan. Persoalan tertundanya hak penerimaan upah jerih payah atau gaji bulanan yang sama sekali tidak kunjung dicairkan oleh pihak perusahaan selama durasi dua bulan berturut-turut pada akhirnya memaksa Radhit memantapkan langkah mengambil keputusan sulit untuk mengajukan pengunduran diri secara resmi. Mulai dari titik itulah, dirinya lantas memutuskan banting setir dan menaruh sandaran hidup dengan menjadikan kemudi ojol sebagai ladang pencarian nafkah primer.

"Oktober tahun kemarin, saya memilih resign karena gaji saya tidak cair selama dua bulan, lalu menjadi driver ojol sepenuhnya," tutur Radhit sewaktu membagikan kisah perjuangannya saat berbincang hangat bersama awak media Liputan6.com pada hari Selasa (3/11/2026).

Semenjak palu keputusan tersebut diputuskan, hamparan aspal jalan raya pun resmi berubah wujud menjadi gelanggang utamanya dalam mengais rezeki rupiah. Walaupun demikian, ia tak menampik bahwa realitas bekerja membanting tulang sebagai pengemudi ojol kian hari terasa semakin berat dan melelahkan jika dibandingkan dengan periode awal ketika ia mulai mencicipi profesi kemudi ini pada kurun waktu tahun 2024 silam.

Berdasarkan pengamatan dan sudut pandang Radhit pribadi, salah satu akar masalah paling krusial yang memicu penurunan tersebut tiada lain adalah ledakan kuantitas mitra pengendara baru yang terus-menerus bertambah kian padat tanpa henti, sedangkan pada waktu yang sama kuantitas permintaan pesanan riil dari kalangan pelanggan pengguna jasa justru kian tertekan dan terbatas. Dinamika ketimpangan pasar yang timpang inilah yang memicu iklim persaingan antar sesama pengemudi guna merebut setiap lembar orderan menjadi berkali-kali lipat jauh lebih sengit dan ketat.

"Saat ini, menjadi driver ojol sangat berat untuk dilakukan. Aplikator seperti Shopee, Maxim, Lalamove, dan InDrive selalu membuka peluang driver baru yang mengakibatkan driver semakin banyak, sementara orderan semakin sedikit," ucapnya memaparkan kenyataan pahit di lapangan.

Tekanan kondisi yang serba rumit tersebut pada akhirnya memicu Radhit untuk memeras otak demi menyusun siasat bertahan hidup. Menginjak permulaan periode tahun 2025, ia pun secara resmi mulai mengadopsi dan menerapkan taktik operasional multi-apping, sebuah kiat lapangan yang mengandalkan pengaktifan beberapa macam sistem aplikasi ojol secara serempak sekaligus demi melipatgandakan potensi penerimaan panggilan orderan harian.

Dalam kesehariannya saat ini, tercatat terdapat lima entitas penyedia aplikasi jasa yang konsisten ia pasang dan jalankan secara aktif di perangkatnya, antara lain Shopee, Maxim, InDrive, Lalamove, serta satu platform lokal ACI yang jamak beroperasi merambah wilayah teritorial Jawa Timur.

Tata cara pengoperasian variasi aplikasi tersebut tentu tetap diselaraskan dengan letak geografis kawasan di mana ia tengah mangkal mencari orderan. Pada fase masa sekarang, Radhit telah menetap dan berdomisili di wilayah Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Di teritorial Jombang tersebut, ekosistem pemesanan dari Shopee, Maxim, serta kemitraan ACI diakuinya tampil sebagai jajaran aplikasi yang paling hidup dan ramai dipesan konsumen. Kondisi pergerakan ini sangat berlainan jika dibandingkan dengan masa lalunya kala masih mengaspal di belantara Jakarta, di mana dirinya condong mengandalkan aplikasi transportasi ojol seragam hijau.

Bagi benak nurani Radhit, menaruh tumpuan hidup semata-mata pada satu buah bendera aplikator tunggal dipandangnya sudah teramat muskil untuk sekadar menutup kalkulasi pembiayaan belanja kebutuhan hidup harian. Hal tersebut didasari oleh realitas bahwa total nominal perolehan bruto yang masuk ke dompet aplikasi pengemudi bukanlah representasi dana bersih seutuhnya yang serta-merta bisa dibawa pulang secara utuh ke rumah.

Masih berderet pos pengeluaran mutlak yang harus dipotong, mulai dari anggaran pasokan bahan bakar bensin, alokasi paket internet data gawai, penggantian pelumas oli mesin secara berkala, jatah makan minum harian pengemudi di jalanan, pembayaran tagihan tarif listrik rumah tangga, sampai dengan cadangan biaya perawatan reparasi suku cadang kendaraan bermotor yang harus disisihkan dari laba harian. Situasi pengeluaran tersebut dipastikan bakal bertambah pelik bagi pundak para pekerja roda dua yang telah berumah tangga dan memikul anak istri.

"Sebenarnya untuk saat ini memanglah tidak cukup kalau mengandalkan 100 persen pendapatan dari ojol di satu aplikasi saja. Karena kita belum menyisihkan pendapatan harian untuk keperluan bensin, paket data, oli, makan, listrik, dan beberapa part untuk diservis. Belum lagi jika sudah berkeluarga, harus membagi lagi untuk kebutuhan dapur dan rumah tangga," kata dia secara gamblang merinci rincian beban operasional.

Berbekal keberanian menyalakan banyak perangkat aplikasi secara berbarengan, Radhit secara otomatis memiliki ceruk peluang yang lebih luas dalam menangkap lonjakan tawaran pesanan. Keuntungan tambahannya, ia memegang keleluasaan untuk menyortir dan memfilter pesanan yang paling rasional berdasarkan parameter bobot tarif per kilometer serta arah rute perjalanan yang hendak ditempuh.

Meskipun demikian, penerapan siasat multi-aplikasi ini sejatinya bukan berarti secara otomatis menjadi jaminan bahwa pundi-pundi uang yang dibawanya bakal meroket drastis seketika. Radhit justru menyoroti tajam bahwa polemik perihal rumusan tarif argo dasar serta tingginya potongan komisi yang dipatok oleh perusahaan aplikator masih tetap menjadi batu sandungan yang teramat memberatkan nasib para mitra kemudi.

Sebagai gambaran nyata, ia mencontohkan struktur perhitungan tarif pesanan pada salah satu mitra platform yang kerap digunakannya. Ketika menjalankan rute jarak tempuh antara 1 hingga 4 kilometer, seorang pengemudi terkadang cuma mampu mengantongi uang bersih di kisaran angka Rp7.200 saja. Besaran penghasilan itu bahkan bisa terkikis dan jatuh lebih murah lagi apabila sistem memberlakukan skema rangkap order alias double order secara bersamaan.

"Jarak 1-4 km kita mendapatkan argo Rp7.200. Jika di Jakarta Rp8.000 untuk reguler, dan hub di Rp5.000 sampai Rp6.400. Belum lagi ketika double order. Yang seharusnya Rp7.200 x 2 = Rp14.400, kita cuma dapat di Rp12 ribu sekian," tutur pemuda tersebut dengan nada kecewa mengkritisi skema tarif.

Selain soal tarif argo bawah, Radhit turut menyorongkan perhatian kritis terhadap ragam diversifikasi tingkatan layanan pemesanan yang disodorkan kepada kalangan konsumen, yang terbagi dalam kategori opsi prioritas, varian reguler standar, sampai dengan opsi bertarif hemat. Dalam kacamata pengamatannya, selisih nominal pembayaran yang disetorkan oleh konsumen nyatanya tidak selamanya berbanding lurus alias tidak mencerminkan peningkatan upah riil yang mengalir masuk ke kantong sang pengemudi mitra.

"Semisal kita sebagai customer akan diberikan tiga pilihan pengantaran, prioritas, reguler dan hemat. Prioritas customer bayar lebih mahal, reguler standar, hemat lebih murah Rp3-4 ribu. Namun, dari pilihan tersebut tidak masuk ke kantong driver, melainkan ke aplikator," tutur dirinya mengkritik alur distribusi margin keuntungan yang dinilai tidak proporsional bagi mitra lapangan.

Kiat Cermat dan Taktik Menjalankan Ragam Aplikasi

Mempertahankan ritme kerja lima buah aplikasi operasional sekaligus di atas setang motor tentu mustahil digarap secara serampangan atau tanpa perhitungan matang. Radhit dipaksa memiliki keahlian dan kepekaan tinggi dalam menata arus notifikasi yang bersahut-sahutan agar rantai pesanan yang masuk tidak berakhir saling tumpang tindih secara kacau.

Pola kerja dasarnya sejatinya bertumpu pada logika yang sederhana: manakala salah satu kanal aplikasi telah berhasil membunyikan nada tanda masuknya pesanan, maka sistem aplikasi kompetitor lainnya dapat langsung dinonaktifkan untuk semenit dua menit. Menggunakan metode tersebut, fokus pikiran dan staminanya dapat diarahkan sepenuhnya guna merampungkan tugas satu pengantaran tanpa dipusingkan oleh berondongan sinyal order dari penyedia aplikasi lain.

"Cara memainkan beberapa akun sangat mudah, Kak. Jika aplikasi A bunyi dan mendapatkan food, kalau aplikasi lainnya ada yang penumpang, kita bisa matikan aplikasi lainnya. Kita fokus untuk satu aplikasi tersebut. Jika aplikasi B yang bunyi food, kita bisa nyalakan aplikasi A yang sama-sama hanya melayani food dan paket saja," jelas Radhit menerangkan alur mekanismenya.

Kendala pelik baru mulai mencuat ke permukaan ketika ada dua aplikasi berbeda secara serentak memuntahkan pesanan dalam selang waktu yang hampir berbarengan, tetapi membawa titik alamat tujuan destinasi yang berlawanan arah. Menghadapi skenario terjepit semacam ini, naluri Radhit dipaksa lekas menimbang dan memutuskan orderan mana yang dinilai paling masuk akal serta ekonomis untuk dieksekusi.

Apabila jalur trayek pengiriman barang atau orang tersebut benar-benar tidak sejalan atau saling menjauh, langkah yang umumnya diambil adalah mempertahankan satu order terbaik dan merelakan pesanan yang lain dengan cara dibatalkan. Skema kalkulasi tersebut tidak cuma didasarkan pada perbandingan jarak kilometer semata, namun juga memperhitungkan kalkulasi laba bersih dari tarif imbal jasa yang ditawarkan sistem.

Umpamanya saja, terdapat penawaran orderan pertama yang menginstruksikan perjalanan menyusuri arah utara sejauh rentang 10 kilometer, sedangkan di detik yang hampir serupa aplikasi kedua menawarkan pesanan mengarah ke sisi selatan dengan radius 5 kilometer. Di sinilah instingnya bekerja menghitung efisiensi bahan bakar, waktu tempuh, dan tingkat margin keuntungan mana yang paling realistis di lapangan.

Kendati demikian, langkah pembatalan sepihak atas sebuah orderan yang telah terlanjur masuk bukannya bersih dari ancaman konsekuensi. Radhit paham betul bahwa rekam jejak membatalkan pesanan secara berulang kali memiliki potensi besar untuk menggerus nilai performa skor kesehatan akun kemitraannya. Dampak buruknya, sistem algoritma aplikasi bisa saja membatasi atau mempersulit peluang turunnya pesanan-pesanan lanjutan pada jam kerja berikutnya.

"Tetapi jika kedua aplikasi bentrok atau berbeda tujuan atau tidak searah, biasanya kita lewati atau kita cancel sepihak. Kadang kita juga sortir orderan mana yang argonya bagus, itu yang kita ambil. Risiko cancel sebenarnya berdampak terhadap akun driver. Bisa saja anyep atau seperti dicuekin aplikasi," sebutnya menerangkan risiko teknis di balik keputusan tersebut.

Ia tidak memungkiri bahwa pada situasi-situasi tertentu, tindakan pembatalan pesanan terpaksa menjadi jalan keluar darurat yang tak lagi bisa dielakkan, walau batinnya menyadari betul risiko penurunan performa akun sedang mengintai di depan mata.

"Cancel dapat memengaruhi kinerja akun kita juga sebenarnya, tapi apalah arti daripada tidak mendapatkan orderan sama sekali," kata dia secara jujur mengutarakan dilema yang dihadapi para mitra kemudi.

Di samping urusan teknis gawai, perkara seragam serta atribut legalitas kerja turut menuntut kreativitas tersendiri untuk disiasati. Mengingat setiap korporasi aplikator memberlakukan pakem regulasi yang tegas menyangkut keharusan mengenakan jaket maupun rompi resmi berlogo perusahaan, Radhit mengatasinya dengan langkah cerdik lewat pembelian jaket khusus yang dirancang memiliki dua sisi kain berbeda.

Pada lapisan sisi bagian luarnya terpampang identitas visual dan warna dari Shopee, sementara bila kain tersebut dibalik, bagian dalamnya langsung berganti wujud menampilkan corak atribut milik Maxim. Melalui perlengkapan multifungsi ini, dirinya tinggal membalikkan badan jaket sesuai dengan bendera aplikasi mana yang pesanannya sedang dikerjakan saat itu juga.

"Saya membeli jaket di online yang memiliki dua sisi. Misal sisi luar Shopee, dalam Maxim. Kita di saat tersebut bisa langsung membalik jaket untuk berhadapan dengan customer," ungkapnya seraya tersenyum membeberkan kiat praktis tersebut.

Adapun untuk keperluan aplikasi lain yang menerapkan penegakan disiplin atribut secara ekstra ketat, ia beserta kelompok pengemudi lainnya lazim menerapkan siasat penyesuaian yang serupa. Salah satu langkah yang paling jamak digunakan yakni mengenakan rompi bolak-balik agar proses pergantian identitas visual dapat dilakukan secara kilat saat mereka menerima pesanan dari platform yang berlainan.

Tantangan Serupa dalam Mengelola Banyak Akun Mitra

Menghidupkan sekaligus mengendalikan lima akun penyedia jasa dalam waktu yang sama nyatanya menuntut keahlian khusus dan tak bisa ditangani secara gegabah. Pengemudi seperti Radhit dituntut memiliki keterampilan tinggi dalam mengendalikan setelan notifikasi gawai agar arus order yang datang tidak menimbulkan kekacauan rute di perjalanan.

Konsep pengaturannya sejatinya mengandalkan cara yang cukup taktis: tatkala sebuah aplikasi sudah meloloskan satu pesanan, maka deretan aplikasi kompetitor lainnya segera dipadamkan untuk sementara waktu. Trik ini menjamin pengemudi dapat berkonsentrasi menuntaskan pekerjaan yang sedang berjalan tanpa perlu terdistraksi oleh riuhnya bunyi panggilan pesanan lain.

"Cara memainkan beberapa akun sangat mudah, Kak. Jika aplikasi A bunyi dan mendapatkan food, kalau aplikasi lainnya ada yang penumpang, kita bisa matikan aplikasi lainnya. Kita fokus untuk satu aplikasi tersebut. Jika aplikasi B yang bunyi food, kita bisa nyalakan aplikasi A yang sama-sama hanya melayani food dan paket saja," ungkap Radhit menguraikan strategi pembagian fokusnya.

Persoalan rumit baru terasa tatkala ada dua platform berbeda melemparkan pesanan secara hampir bersamaan, tetapi masing-masing membawa rute pengantaran yang saling bertolak belakang. Pada kondisi persimpangan semacam ini, kecekatan mengambil keputusan menjadi kunci utama untuk memilih pesanan mana yang paling menguntungkan.

Bila arah rute tujuan dinilai saling bertentangan dan memicu pemborosan bensin, ia tak segan untuk mempertahankan satu pilihan terbaik dan mengabaikan atau menolak pesanan lainnya. Parameter penentu keputusan tersebut bukan hanya diukur dari jarak kilometer rute, melainkan juga menimbang potensi nominal argo yang bakal dikantongi.

Sebagai contoh kasus, saat terdapat satu pesanan yang memintanya melaju ke wilayah utara sejauh 10 kilometer, di saat yang beriringan aplikasi lain menyodorkan pesanan ke arah selatan sepanjang 5 kilometer. Sang pengendara dituntut berhitung kilat guna menetapkan arah mana yang secara finansial dan efisiensi waktu jauh lebih bernilai untuk diambil.

Meski begitu, tindakan membatalkan pesanan yang masuk bukannya tanpa konsekuensi berat bagi pengemudi. Radhit sepenuhnya memahami jika pembatalan yang dilakukan berulang-ulang berpotensi merusak indeks rating akun. Efek jangka panjangnya, sistem kecerdasan buatan aplikasi bisa saja menaruh akun tersebut dalam daftar pasif sehingga sepi dari pesanan selanjutnya.

"Tetapi jika kedua aplikasi bentrok atau berbeda tujuan atau tidak searah, biasanya kita lewati atau kita cancel sepihak. Kadang kita juga sortir orderan mana yang argonya bagus, itu yang kita ambil. Risiko cancel sebenarnya berdampak terhadap akun driver. Bisa saja anyep atau seperti dicuekin aplikasi," tuturnya menerangkan ancaman penurunan performa akun.

Dirinya menuturkan bahwa langkah penolakan order terkadang menjadi keputusan pahit yang terpaksa diambil di lapangan, kendati risiko pembekuan algoritma sewaktu-waktu dapat membayangi nasib akun kemitraannya.

"Cancel dapat memengaruhi kinerja akun kita juga sebenarnya, tapi apalah arti daripada tidak mendapatkan orderan sama sekali," kata Radhit mengenai kompromi risiko yang mau tidak mau mesti dihadapinya.

Trik penyesuaian juga merambah ke urusan pakaian kerja di lapangan. Masing-masing perusahaan aplikasi memiliki aturan seragam yang ketat perihal jaket yang wajib dikenakan mitranya. Guna menghemat waktu dan kepraktisan di jalan, Radhit memanfaatkan jaket reversibel yang memiliki dua tampilan berbeda luar dan dalam.

Satu permukaan jaket dicetak dengan identitas visual Shopee, sementara sisi sebaliknya dibubuhi identitas brand Maxim. Dengan rancangan fleksibel ini, ia cukup membalik pakaiannya sesuai dengan identitas pesanan yang sedang diproses agar tetap terlihat tertib di mata pelanggan.

"Saya membeli jaket di online yang memiliki dua sisi. Misal sisi luar Shopee, dalam Maxim. Kita di saat tersebut bisa langsung membalik jaket untuk berhadapan dengan customer," ungkapnya membeberkan siasat seragam yang dipakainya.

Bagi layanan aplikasi lain yang mewajibkan atribut baku secara ketat, kelompok pengemudi kerap menerapkan siasat serupa guna mengelabui kerumitan ganti baju. Penggunaan rompi yang bisa dibolak-balik menjadi jalan pintas yang efektif saat mereka harus berpindah melayani pesanan dari satu platform ke platform lainnya dalam waktu singkat.

Bahaya Mengintai di Balik Pengejaran Pesanan di Aspal Jalanan

Membuka pintu penerimaan pesanan dari lima pintu aplikasi sekaligus memang memperlebar peluang masuknya rupiah ke dalam kantong. Akan tetapi, di balik mobilitas yang tinggi tersebut, terdapat segudang ancaman bahaya serta risiko nyata yang senantiasa mengintai keselamatan dan keberlangsungan mata pencaharian mereka setiap hari.

Radhit menuturkan, seorang pekerja transportasi roda dua kerap kali dihadapkan pada ancaman sanksi pemutusan kemitraan alias penangguhan akun (suspend) dampak dari pembatalan tugas, teror pesanan fiktif (order palsu) yang memakan modal uang besar, hingga kerentanan insiden kecelakaan lalu lintas akibat tuntutan mengemudi tergesa-gesa demi mengejar estimasi durasi pengantaran pesanan konsumen.

Tantangan tersebut masih ditambah dengan kendala-kendala teknis yang kerap menguras kesabaran di lapangan. Tatkala mengemban amanah membelikan pesanan kuliner makanan, misalnya, pengemudi ojol kerap kali dipaksa mengantre di gerai restoran selama durasi sedikitnya 15 menit, atau bahkan tidak jarang menelan waktu tunggu yang jauh lebih lama dari durasi tersebut.

Hambatan lainnya kerap bersumber dari ketidaksempurnaan sistem navigasi peta digital. Radhit mengeluhkan rute peta virtual yang kerap kali meleset dari koordinat akurat, titik jemput yang berpindah tempat secara acak dengan sendirinya, hingga arahan jalur yang menyesatkan yang justru menggiring kendaraan melintasi lorong-lorong sempit atau jalanan buntu yang tak bisa dilalui motor.

Pengeluaran-pengeluaran receh yang tampak sepele seperti karcis retribusi parkir liar di berbagai lokasi jemputan juga menjadi beban tersendiri yang wajib dikalkulasikan. Semua remeh-temeh pemotongan tak terduga tersebut pada akhirnya secara perlahan memangkas sisa uang bersih yang dapat diserahkan ke keluarga di rumah, di saat tenaga raga dan waktu hidup terus-menerus diperas di jalanan.

Menghadapi tumpukan problematika yang kian hari kian menumpuk tersebut, Radhit menaruh asa besar agar pihak pembuat kebijakan pemerintah serta jajaran manajemen perusahaan aplikator bersedia membuka mata dan lebih peka melihat kondisi riil penderitaan para pengemudi di tataran akar rumput. Dirinya mendesak agar sistem rekrutmen penerimaan calon pengemudi baru lekas disetop atau dievaluasi secara menyeluruh, utamanya pada kantong-kantong wilayah yang rasio mitranya dinilai telah melampaui batas kejenuhan.

Bersamaan dengan itu, ia sangat mengharapkan adanya perombakan serta penyesuaian kembali batas dasar tarif ongkos pengantaran, agar nilai upah yang dikantongi mitra terasa seimbang dan sepadan jika dikomparasikan dengan lonjakan ongkos perawatan dan pengorbanan keringat di lapangan.

"Harapan ke depannya, sudahi penerimaan driver baru dan survei lah di jalan. Argo juga saya rasa harus disesuaikan lagi yang lebih manusiawi dan tak banyak peraturan yang membebankan driver. Jadi, wajar bila para driver mengeluh tentang nasibnya saat ini, apalagi yang 100 persen bergantung dari ojol saja," pintanya menegaskan jeritan nurani rekan seprofesinya.

Bagi sanubari Radhit pribadi, tuntutan yang disuarakan rekan-rekannya sejatinya bukan melulu soal hasrat mengejar nominal penghasilan yang melimpah ruah. Inti dari harapan tersebut yakni terwujudnya keadilan di mana aspirasi, suara, dan keluh kesah para pejuang kemudi di jalanan benar-benar didengar dan dijadikan pertimbangan kebijakan oleh pemilik modal, alih-alih cuma mementingkan kepuasan konsumen semata.

"Poin besarnya, kita sebenarnya cuma ingin argo dan aturan yang layak, keluh kesah kita dapat didengarkan tidak hanya dari sisi customer saja," pungkasnya menutup keluh kesah.

Dapatkan rangkuman informasi teranyar dan tepercaya melalui sajian Berita Liputan6

Di Balik Pemangkasan Potongan Ojol 8%, Muncul Cerita Perjuangan Mitra yang Bertahan

Driver Ojek Online dalam Kondisi Kritis Usai Ditembak OTK saat Menunggu Pesanan di Sukabumi

Dituding sebagai Maling, Empat Oknum Mata Elang Terjebak Kepungan Warga di Wilayah Bogor

Profesi Ojol Dimasukkan ke RUU LLAJ: Standar Kelaikan Pengemudi dan Motor Bakal Ditata

Top 3: Terbitnya Perpres Ojol, Pihak Asosiasi Pengemudi Nantikan Regulasi Petunjuk Teknis

Perusahaan Aplikator Diimbau Beri Pendampingan Servis Kendaraan Berkala bagi Pengemudi

Curahan Hati Pengemudi Ojol Wanita Mengais Rezeki dan Beratnya Mengejar Rp 100 Ribu per Hari

Regulasi Perpres Ojol Mulai Diberlakukan, Driver Persoalkan Sistem Bagi Hasil Komisi 8 Persen

Aturan Perpres Ojol Resmi Rilis, Gojek Paparkan Penyesuaian Potongan 8% serta Format Layanan Pengantaran

banner 336x280