Jakarta, CNBC Indonesia – Wilayah Kutub Utara kini dinilai berpeluang menjadi gelanggang rivalitas anyar bagi Amerika Serikat (AS) serta Eropa, kendati kedua kubu tergabung dalam pakta pertahanan militer NATO.
Kondisi tersebut diulas melalui kolom opini media Rusia, RT, terbitan 26 September 2026. Tulisan bertajuk "The next war will be fought here: America and Europe will be enemies" dirilis Ksenia Smertina, pengajar senior di HSE Institute for Media sekaligus analis pada Russian International Affairs Council.
Lewat analisanya, Smertina memaparkan bahwa rivalitas di Kutub Utara sudah bergeser melampaui perkara lingkungan hidup semata, melainkan merambah ke ranah rivalitas geopolitik, trayek maritim, ketahanan wilayah, serta potensi kekayaan alam.
"Perang berikutnya akan terjadi di sini. Amerika dan Eropa akan menjadi musuh," ungkap Smertina pada tajuk analisanya, dikutip Selasa (29/9/2026).
Berdasarkan amatan Smertina, lonjakan perhatian pada kawasan Arktik didorong oleh kalkulasi strategis kekuatan global terhadap wilayah Greenland, pembukaan rute pelayaran alternatif, serta simpanan mineral berharga di perairan beku tersebut.
Dirinya menuturkan bahwa Washington telah sejak lama menancapkan jejak militernya di lingkar kutub lewat operasional instalasi udara, stasiun radar canggih, hingga ekspansi kapal pemecah lapisan es.
Di sisi berlawanan, Uni Eropa berupaya memperkokoh posisinya lewat dorongan koordinasi pertahanan bersama, pendanaan sarana infrastruktur, serta merapatkan hubungan diplomasi dengan negara mitra layaknya Kanada.
"Arktik telah berubah menjadi zona persaingan ekonomi dan geopolitik, termasuk perebutan pelabuhan, jalur perdagangan, serta sumber daya kutub," jelas Smertina.
Smertina pun menggarisbawahi urgensi Greenland sebagai simpul paling penting. Daerah otonom milik Denmark ini memegang posisi kunci lantaran terletak di tengah perbatasan Amerika Utara dan benua Eropa, sekaligus menyimpan cadangan mineral krusial.
Berdasarkan kajiannya, kendali geopolitik atas Greenland bakal menyodorkan profit luar biasa, baik pada aspek pengamanan militer ataupun pemanfaatan cadangan energi serta komoditas alam.
Kendati demikian, pandangan Smertina murni telaah individual penulis dan bukan merupakan konsensus resmi para pemangku kebijakan global. Kemitraan Washington dan negara-negara Eropa sendiri sejatinya tetap kokoh di bawah naungan payung NATO, meskipun friksi ekonomi dan regulasi kerap timbul di beberapa sektor.
Di samping kubu barat, ulasan tersebut turut menyinggung peran signifikan Rusia serta China dalam dinamika Kutub Utara. Moskow tercatat memprioritaskan kontrol atas Jalur Laut Utara (Northern Sea Route), sedangkan Beijing mengusung agenda "Jalur Sutra Es" demi memperluas jangkauan niaga mereka di kawasan lingkar kutub.
Seiring penyusutan tudung es akibat laju perubahan iklim, perairan Arktik semakin lapang untuk rute kapal dagang dan proyek ekstraksi tambang, menjadikannya pusaran geopolitik baru yang menyita fokus para pemimpin dunia.
