Jakarta, CNBC Indonesia – Skor kepuasan masyarakat terhadap kinerja Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tercatat mengalami kenaikan sangat tipis ke level 32%. Perolehan tersebut hanya bertambah satu poin persentase bila dikomparasikan dengan titik terendah pada pekan sebelumnya, tepat sebelum pemilu sela 3 November yang bakal menjadi ajang perebutan kendali mutlak di parlemen.
Sebagaimana diberitakan Reuters pada Selasa (27/10/2026), kubu politisi Partai Republik pendukung Trump sedang berjibaku mengamankan dominasi kursi mereka di Senat maupun Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Berdasarkan survei nasional yang dirangkum selama durasi lima hari, mayoritas konstituen terdaftar tampak jauh lebih condong mendukung kubu Demokrat ketimbang Republik melalui perbandingan angka 47% melawan 36% pada kertas suara generik.
Sementara itu, porsi sekitar 11% responden lainnya masih berstatus bimbang dan belum menetapkan pilihan politik mereka andai pemungutan suara diselenggarakan saat ini.
Perbedaan suara sebanyak 11 poin persentase tersebut memperlihatkan kompetisi yang menyempit 1 poin persentase dibandingkan survei terdahulu yang berakhir pada 19 Oktober lalu. Apabila kecenderungan para pemilih mengambang mulai dihitung ke dalam kalkulasi akhir, rivalitas elektoral nasional menjadi semakin rapat dengan keunggulan Demokrat di kisaran 9 poin persentase, yaitu mencapai 50% berbanding 41%.
"Bagi Partai Republik, kehilangan kendali atas salah satu majelis dapat mempersulit agenda Trump dalam dua tahun terakhir dari masa jabatan keduanya sebagai presiden," papar jurnalis Reuters, Jason Lange.
"Meskipun jajak pendapat generik ini memberikan pandangan tentang sentimen publik nasional, mereka tidak menangkap nuansa kontes dari negara bagian ke negara bagian dan distrik ke distrik yang menentukan kendali Senat dan DPR."
Meskipun demikian, Partai Republik sejatinya masih mengantongi sejumlah faktor keunggulan struktural dalam gelanggang penentuan kepemimpinan parlemen. Sebagian besar pengamat politik memperkirakan Demokrat mempunyai kans besar guna merebut kendali DPR, kendati tantangan untuk menguasai Senat tergolong amat berat. Namun, barisan konstituen yang paling berpotensi datang ke bilik suara terpantau konsisten memihak Demokrat lewat jarak keunggulan 9 poin, yakni 53% melawan 44%.
Pertarungan ketat demi mengamankan kursi legislatif ini sangat berkaitan erat dengan sentimen publik mengenai permasalahan inflasi. Laju pembengkakan inflasi di Negeri Paman Sam melonjak drastis pasca instruksi aksi militer Trump terhadap Iran pada Februari silam yang otomatis melambungkan harga bahan bakar minyak. Sebanyak 73% partisipan survei menilai kondisi beban biaya hidup mereka kian bergerak ke arah yang keliru.
"Sebelum dimulainya perang, jajak pendapat menunjukkan pemilih lebih menyukai Republik daripada Demokrat sebagai pengelola ekonomi AS yang lebih baik," ungkapnya.
"Namun jajak pendapat terbaru menunjukkan 37% pemilih mengatakan Demokrat memiliki pendekatan yang lebih baik terhadap ekonomi, dibandingkan dengan 33% yang memilih Republik pada isu tersebut."
Selain itu, derajat antusiasme para pendukung turut bertindak sebagai elemen pembeda krusial pada kontestasi politik periode ini. Tercatat sebanyak 46% basis pendukung Demokrat menyatakan amat antusias menyambut pemilu sela, jauh melampaui kubu Republik yang persentasenya hanya berada di kisaran 30%.
"Jajak pendapat yang dilakukan secara daring ini mengumpulkan tanggapan dari 1.679 orang dewasa AS, termasuk 1.280 pemilih terdaftar," pungkas Jason.
Sebagai data pelengkap, survei opini publik berskala nasional tersebut menerapkan toleransi kesalahan atau margin of error sebesar 2 poin persentase bagi populasi dewasa secara keseluruhan, serta 3 poin persentase bagi kategori pemilih terdaftar.
