Nilai tukar rupiah mengawali transaksi di posisi Rp18.139 per dolar AS pada perdagangan Selasa (27/10) pagi. Mata uang Garuda tersebut mengalami penurunan tipis sebesar 4 poin atau setara 0,02 persen dari posisi penutupan sesi sebelumnya.
Kondisi mata uang regional Asia bergerak cukup bervariasi di hadapan greenback. Yuan China terpantau terdepresiasi 0,03 persen, peso Filipina menyusut 0,09 persen, serta yen Jepang mengalami penurunan 0,12 persen.
Sebaliknya, ringgit Malaysia sukses menanjak 0,04 persen, won Korea Selatan melonjak 0,11 persen, serta dolar Hong Kong terangkat 0,01 persen. Sementara itu, dolar Singapura cenderung stagnan tanpa perubahan berarti.
Mata uang utama negara-negara maju juga mencatatkan kinerja beragam. Euro melemah 0,02 persen, dolar Kanada tergelincir 0,04 persen, dan franc Swiss menyusut 0,05 persen. Namun, dolar Australia berhasil melesat 0,13 persen, sedangkan pound sterling Inggris bertahan datar.
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, mengungkapkan bahwa laju rupiah berpotensi volatil di tengah situasi geopolitik Timur Tengah, termasuk risiko serangan Amerika Serikat atas Iran beberapa hari mendatang serta diplomasi perdamaian.
"Rupiah diperkirakan fluktuatif di tengah beragam laporan dari Timur Tengah, mulai dari potensi serangan AS terhadap Iran dalam beberapa hari ke depan hingga upaya diplomatik untuk mencapai perdamaian di kawasan. Arus keluar dana asing di pasar saham domestik juga masih menjadi faktor yang membebani rupiah," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Dirinya memproyeksikan pergerakan kurs rupiah hari ini berada pada kisaran Rp18.100 sampai Rp18.200 per dolar AS.
