Perjuangan Petani Banyuwangi Bangun Beras Organik hingga Sukses Tembus Pasar Global

Posted on
banner 336x280

Saat mula-mula dipercaya menjadi ketua Kelompok Tani Mendo Sampurno pada 1997, Samanhudi sama sekali belum mengantongi pengetahuan seputar dunia agrikultur. Sekarang, di usianya yang telah menginjak 63 tahun, pria yang akrab disapa Haji Saman tersebut dipandang sebagai pelopor pengembangan pertanian padi organik di Banyuwangi. Ia juga menjadi figur kunci di balik kemajuan PT Sirtanio Organik Indonesia, suatu korporasi produsen beras ramah lingkungan yang berakar dari kelompok tani binaannya di Dusun Umbulrejo, Desa Sumberbaru, Kecamatan Singojuruh.

Setiap tiba Jumat pagi, kediaman pribadi sekaligus kantor PT Sirtanio Organik Indonesia selalu diramaikan oleh kehadiran para anggota jemaah Ngaji Tani. Selain memanjatkan doa secara berjamaah, para petani memanfaatkan agenda rutin ini untuk mendiskusikan sistem budidaya organik dari sisi teknis, mencakup penanganan hama secara hayati, pembuatan nutrisi pupuk alami secara mandiri, sampai penentuan mikroorganisme agen hayati yang paling cocok bagi tanaman padi.

banner 468x60

Pada Jumat (7/8), agenda pagi tersebut diisi dengan sharing session bersama perwakilan dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Jember. Dalam kesempatan ini, mereka mengulas perjalanan panjang kemitraan selama lebih dari sepuluh tahun dalam membina kelompok tani Sirtanio hingga menjelma menjadi badan usaha yang modern dan berkembang pesat seperti masa kini.

"Saya tidak punya basic pertanian. Makanya begitu ada pelatihan di Dinas Pertanian di mana saja, saya selalu ikut. Dari situ arahnya rata-rata mengenalkan pertanian organik, pupuk organik, dan agen hayati," tutur Saman mengenang masa-masa awal pembelajarannya.

Langkah Saman meniti karier pertanian bukanlah jalur yang mulus tanpa rintangan. Gagasan beraninya dalam mengadopsi pertanian non-kimia sempat memicu penolakan luas dari lingkungan sekitar. Bahkan, Saman pernah memperoleh cemoohan dari warga dengan sebutan "orang sinting".

Alih-alih merasa putus asa, Saman memilih membalas keraguan masyarakat sekitar melalui bukti nyata pada area persawahannya sendiri. Hanya membutuhkan kurun waktu dua tahun, ia telah mampu menciptakan petak lahan yang seutuhnya terbebas dari zat kimia sintetis.

"Yang saya lakukan adalah mendalami dan memperbaiki apa yang kami punya lalu mengaplikasikannya. Saya tidak menjawab pakai kata-kata, saya jawab dengan pembuktian bahwa produksi (padi) saya saat itu meningkat sampai 50 persen," tegas Saman saat mengisahkan keberhasilannya membungkam keraguan publik.

Menginjak masa tiga belas tahun perjalanan mengembangkan komoditas organik di Desa Sumberbaru, Saman berinisiatif membentuk Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) di wilayahnya. Melalui wadah tersebut, ia kemudian berjejaring dengan rombongan pemuda sarjana lulusan dari berbagai perguruan tinggi pertanian terkemuka di tanah air.

Sinergi nyata antara pengalaman senior dan pemikiran modern anak muda inilah yang kemudian melahirkan entitas komersial berlabel PT Sirtanio Organik Indonesia. Salah seorang intelektual muda yang turut mengawal pertumbuhan usaha tersebut adalah Shohib Qomad Dillah, yang kini mengemban amanah sebagai Direktur PT Sirtanio Organik Indonesia.

"Ketika kami mengawali, Pak Saman sudah merintis namun dari sisi penjualan belum banyak. Saat itu bahkan ada 300 kilogram beras merah yang sempat kesulitan dijual. Kami melihat potensi itu, lalu membuat strategi penjualan dan perbaikan pengemasan. Dalam waktu sebulan, beras tadi habis dan banyak repeat order," ungkap Shohib mengenai strategi transformasi pemasaran yang mereka eksekusi.

Titik balik tersebut menjadi landasan kokoh bagi terbangunnya jalinan kemitraan mutualisme bersama ratusan petani lokal, dipayungi oleh slogan utama "Menyejahterakan petani, menyehatkan dunia".

Haji Saman memahami sepenuhnya bahwa ikatan kerja sama dapat bertahan lama apabila para produsen pangan lokal menerima manfaat finansial konkret berupa harga tebus gabah yang lebih kompetitif dan menguntungkan. Mekanisme penetapan harga yang adil ini sukses mendorong lonjakan volume panen, sampai-sampai Sirtanio sanggup mendistribusikan puluhan ton pasokan beras organik setiap bulan ke penjuru nusantara, termasuk menembus pasar ekspor seperti Italia, China, dan Amerika Serikat.

Langkah BI Kendalikan Gejolak Inflasi Sektor Pangan

Gagasan kedaulatan pangan mandiri yang dimotori oleh Saman bersama manajemen PT Sirtanio Organik Indonesia rupanya sangat selaras dengan target otoritas Bank Indonesia dalam mengamankan stabilitas moneter serta menekan laju inflasi harga pangan pokok.

Lewat payung program Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS), Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember resmi menggandeng Sirtanio untuk menjadi kelompok binaan unggulan semenjak tahun 2011.

Pada rantai hulu, tim pendamping dari Bank Indonesia menerapkan pola intervensi menyeluruh yang menitikberatkan pada peningkatan efisiensi hasil panen milik Sirtanio beserta segenap jaringan petani mitranya. Sementara itu, intervensi hilir disalurkan pada penyempurnaan sarana pengolahan produk (processing), desain kemasan berstandar komersial (packaging), kegiatan promosi berkala, serta pembukaan akses pemasaran yang lebih luas.

Serangkaian intervensi ini dipandang sangat penting guna menjawab berbagai ketidakpastian iklim ekonomi masa depan. Pada kuartal pertama tahun 2026, laju perekonomian Provinsi Jawa Timur tercatat mengalami penguatan sebesar 5,96 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Kendati demikian, kestabilan harga komoditas pangan tetap menghadapi kerentanan akibat cuaca ekstrem, dampak pemanasan iklim, dan hambatan rantai pasokan global.

Kepala Divisi Implementasi KEKDA Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Yono Haryono, menegaskan urgensi efisiensi pengeluaran di tingkat produsen melalui pengembangan model klaster pangan guna meredam lonjakan fluktuasi harga di pasaran.

Menurut Yono, saat mengonsep inisiatif strategis ini, Bank Indonesia menaruh fokus penuh untuk menstabilkan pergerakan harga komoditas secara konsisten lewat penguatan ketahanan stok pangan nasional.

Guna mewujudkan rencana tersebut, dijalankan serangkaian program peningkatan kapasitas panen lewat pembinaan klaster yang memprioritaskan tata cara Good Agricultural Practices (GAP), pemupukan terukur, serta penyediaan bibit unggul bermutu.

"Kedua, kami mendorong efisiensi biaya. Kadang-kadang petani tidak concern mencatat biaya operasional sehingga biayanya tinggi. Kita dorong mitigasi itu melalui program digitalisasi atau penerapan teknologi IoT (Internet of Things). Keberhasilan Sirtanio ini adalah contoh success story yang coba kita replikasi di tempat lain agar klaster pangan mitra BI di seluruh Indonesia bisa menerapkan standarisasi yang sama," terang Yono.

Pihak Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember yang setia mengawal evolusi Sirtanio sedari awal, kembali menegaskan komitmennya untuk mengokohkan struktur kelembagaan kelompok tani di lini produksi guna menjamin ketercukupan stok beras organik di tingkat nasional secara berkelanjutan.

Bentuk komitmen berkelanjutan tersebut diterapkan lewat bimbingan terarah yang menempatkan Sirtanio sebagai contoh percontohan klaster pangan binaan Bank Indonesia. Di samping mempererat koordinasi harian antara petani dan jajaran manajemen operasional, pendampingan BI turut mencakup aspek pengawasan mutu secara ketat hingga konsolidasi logistik hasil panen.

Keberhasilan panen beras organik yang diraih para petani binaan Sirtanio bersama Bank Indonesia ini kian mempertegas fungsi strategis agrikultur daerah dalam menopang ketahanan pangan nasional secara utuh.

banner 336x280