Jakarta, CNBC Indonesia – Agenda pemilihan umum sela kongres Amerika Serikat resmi dimulai serentak pada hari Selasa (3/11/2026) waktu setempat. Pesta demokrasi krusial ini diprediksi sanggup merombak peta kekuasaan politik di Washington sekaligus berpotensi mengancam kelangsungan pengaruh kepemimpinan Donald Trump.
Ajang pemilu sela tersebut memperebutkan konfigurasi penting atas 435 kursi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) serta Senat. Hasil pemungutan suara berpeluang menghadiahkan wewenang strategis bagi kubu Demokrat guna mengevaluasi pos belanja anggaran federal sekaligus menggelar investigasi terhadap bermacam korporasi.
"Di beberapa tingkat, industri tidak benar-benar peduli siapa yang terpilih," kata Kepala Strategi Investasi CFRA Research Sam Stovall, kepada Reuters.
"Mereka hanya ingin tahu aturan apa yang akan berlaku untuk tahun mendatang."
Para pengamat politik dari kedua belah pihak menilai Partai Demokrat mengantongi momentum terbaik untuk merebut kursi mayoritas DPR. Di sisi lain, kubu Republik terus berupaya sekuat tenaga mempertahankan hegemoni mereka di parlemen Kongres.
Penurunan Tajam Popularitas Trump
Pelaksanaan pemungutan suara kali ini dibayangi anjloknya tingkat elektabilitas maupun persetujuan publik terhadap Donald Trump sampai menyentuh level terendah. Hampir separuh kalangan pemilih nonpartai mengaku bakal memanfaatkan bilik suara sebagai wadah penolakan terhadap kepemimpinan Trump.
Survei elektoral memperlihatkan 46% masyarakat condong menjatuhkan pilihan pada perwakilan Demokrat, berbanding 38% suara untuk politisi Republik. Sebanyak 78% responden memandang lonjakan beban biaya hidup sehari-hari sebagai alasan utama dalam menentukan preferensi politik mereka pada pemilu ini.
Riset The Misinformation Monitor memaparkan bahwa kemerosotan dukungan ini dipicu melambungnya harga komoditas bahan bakar secara nasional. Kondisi perekonomian domestik tersebut timbul menyusul keputusan diplomasi luar negeri Trump saat mengobarkan konflik bersenjata menghadapi Iran pada Februari kemarin.
Pengaruh Kemenangan Demokrat Bagi Pasar Finansial
Keberhasilan perwakilan Demokrat menguasai DPR dan Senat dinilai sanggup memicu dampak ekonomi riil terhadap iklim bisnis swasta. Kendati Presiden Trump memegang hak veto, kendali legislatif berhak mengalihkan kucuran subsidi pemerintah federal bernilai miliaran dolar.
Fraksi Demokrat diproyeksikan memperketat pemeriksaan pada korporasi pertahanan raksasa, skema jaminan kesehatan, regulasi aset kripto, serta riset kecerdasan buatan (AI). Berbagai konglomerasi multinasional yang dekat dengan lingkar kekuasaan Republik pun berisiko merasakan imbas negatif perubahan peta regulasi.
Walau demikian, pakar dari institusi perbankan Morgan Stanley mengungkapkan bursa saham secara historis kerap menguat ketika sistem pemerintahan terbelah. Kebuntuan legislasi diyakini mampu membatasi manuver undang-undang yang terlalu radikal.
"Kita tidak berpikir cetak biru itu berlaku kali ini, dan kita masih melihat banyak alasan untuk konstruktif pada pasar ekuitas AS," tutur Kepala Riset Kebijakan Publik AS Morgan Stanley Ariana Salvatore.
"Kita pikir pemilu ini dapat memiliki konsekuensi yang berarti, tetapi dengan basis yang sangat terlokalisasi."
