Jakarta, CNBC Indonesia – Pengelolaan mineral logam tanah jarang (LTJ) dari aktivitas tambang timah kini resmi mulai digarap oleh PT Timah Tbk. Langkah strategis ini ditempuh perseroan guna memaksimalkan potensi sisa hasil produksi (SHP) timah yang pada masa sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal.
Restu Widiyantoro selaku Direktur Utama PT Timah Tbk mengungkapkan bahwa emiten pelat merah tersebut awalnya memang tidak mengantongi penugasan guna mengolah mineral tanah jarang. Walakin, perseroan kini sudah mulai menggerakkan langkah pengolahan komoditas strategis bernilai tinggi tersebut.
"Jadi kami laporkan sebelumnya kami tidak diberi tugas untuk melakukan pengelolaan mineral tanah jarang, tetapi di kotak yang paling kanan atas itu, jadi kami sudah mulai memproses untuk melakukan pengelolaan mineral tanah jarang," ujar Restu ketika berbicara dalam RDP bersama jajaran Komisi XII DPR RI, dikutip Kamis (17/9/2026).
Dirinya pun menyadari bahwa pengolahan LTJ menghadirkan tantangan teknis tersendiri. Kendati demikian, manajemen perseroan tetap menaruh keyakinan penuh sanggup menuntaskannya berbekal kapabilitas sumber daya internal serta sokongan kuat dari beragam pemangku kepentingan.
"Dan ini sangat challenging, tetapi kami yakin dengan sumber daya yang ada di Timah, dengan support dari kementerian-kementerian terkait termasuk dari DPR, itu membuat kami yakin," tuturnya.
Restu memaparkan bahwa peranan krusial PT Timah pada peta ekosistem industri LTJ didasari atas ketersediaan bahan baku utama yang memang banyak terkandung dari rangkaian operasional penambangan bijih timah.
"Karena sebagian besar bahan untuk pengelolaan mineral tanah jarang ada di penambangan timah," imbuhnya.
Lebih lanjut ia menuturkan bahwa pemanfaatan terak atau SHP yang terbengkalai kini mulai dioptimalkan perseroan. Demi memperlancar proses hilirisasi ini, PT Timah menjalin kolaborasi sekaligus merangkul dukungan dari Badan Industri Mineral (BIM) dan Perminas.
"Perminas ini yang mendapat mandat untuk mengelola mineral tanah jarang dari hulu sampai ke hilirnya. Tapi kami dalam hal ini secara langsung menjadi penyedia bahan baku untuk industri mineral tanah jarang," pungkas Restu.
