Menag Nasaruddin Umar Dorong Pesantren Bangkitkan Kejayaan Tradisi Keilmuan Baitul Hikmah

Posted on
banner 336x280

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak seluruh pondok pesantren di tanah air untuk menghidupkan kembali etos intelektual Baitul Hikmah sebagai sentra riset sains modern sekaligus wadah kemitraan lintas cabang keilmuan.

Ajakan tersebut diutarakan Menag saat menghadiri perhelatan Munajat Santri untuk Negeri yang bertempat di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada hari Jumat. Beliau sangat berhasrat agar lembaga pendidikan Islam di Nusantara mampu merevitalisasi warisan sejarah emas keilmuan Islam tersebut ke dalam ekosistem pendidikan masa kini.

"Kalau perlu Baitul Hikmah akan bangkit kembali di lingkungan pondok pesantren di Indonesia," tegas Nasaruddin Umar dalam pidatonya di hadapan para santri dan undangan yang hadir.

Nasaruddin menerangkan, Baitul Hikmah menyajikan teladan nyata perihal bagaimana institusi pendidikan Islam masa silam sanggup menjelma menjadi pusat riset, elaborasi gagasan, serta ruang temu para pakar dari beraneka disiplin. Lembaga prestisius tersebut didirikan semasa kepemimpinan Khalifah Harun Ar-Rasyid pada tahun 786 Masehi, lalu diperluas secara masif oleh sang putra, Khalifah Al-Ma'mun, pada era 813 Masehi.

Menurutnya, atmosfer akademik di Baitul Hikmah telah melahirkan deretan tokoh cendekiawan terkemuka yang meletakkan fondasi sains bagi kemajuan peradaban global masa kini. Ia menyebutkan nama Jabir bin Hayyan di ranah kimia, Al-Khawarizmi pada matematika, Ibnu Haitsam di cabang optika, Ibnu Sina pada kedokteran, serta Al-Razi yang memajukan ilmu medis. Tidak ketinggalan sosok polimatik Ibnu Rusyd yang merajai aneka keilmuan secara komprehensif, mulai dari ranah kedokteran, kajian filsafat, sampai fikih peribadatan.

Menteri Agama memandang, rekam jejak tokoh-tokoh besar tersebut membuktikan bahwa kapasitas intelektual semestinya tidak terkungkung oleh sekat-sekat sektoral satu bidang belaka. Beliau juga menggarisbawahi inklusivitas Baitul Hikmah yang dahulu berhasil mempertemukan sarjana Muslim, penganut Kristen, Yahudi, pemikir Hindu, dan komunitas lainnya dalam wadah riset kolaboratif yang harmonis.

"Di dalam satu majelis mereka mendirikan laboratorium. Nah, ini yang dilakukan di abad pertengahan," tuturnya kembali mengenang keterbukaan zaman itu.

Menag menekankan bahwa spirit tersebut harus menjadi cetak biru bagi pondok pesantren modern agar senantiasa membuka diri terhadap akselerasi sains kontemporer dan memperkuat kolaborasi lintas disiplin. Tantangan pesantren hari ini, imbuhnya, tak sekadar menjaga kelestarian tradisi kitab kuning, melainkan juga menempa santri supaya cakap menguasai sains serta teknologi canggih.

Sosok yang juga menjabat sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal tersebut menaruh harapan besar agar di masa depan semakin banyak santri bertransformasi menjadi ilmuwan, dokter spesialis, insinyur andal, wirausahawan, pakar teknologi digital, figur tokoh publik, hingga pemimpin puncak Republik Indonesia. "Zaman telah berubah, tetapi semangat pengabdian tidak boleh berubah," pungkasnya berpesan.