Kiprah Holding Ultra Mikro BRI Group Menjaga Eksistensi Sulam Kasab Aceh di Era Modern

Posted on
banner 336x280

Upaya Asra memelihara adat istiadat berjalan beriringan dengan langkahnya memajukan kegiatan usaha mandiri.

KUALA BARU — Gempuran arus modernisasi serta membanjirnya aneka komoditas hasil pabrikan kini menempatkan kelangsungan kerajinan tangan tradisional pada posisi penuh tantangan. Rangkaian pengerjaan yang menyita durasi panjang, penguasaan teknik istimewa, serta kejelian tingkat tinggi membuat tidak banyak generasi penerus yang bersedia merawat kebiasaan leluhur tersebut.

banner 468x60

Kendati demikian, untuk sebagian kalangan, melestarikan karya tangan warisan bukan sekadar urusan mengamankan pendapatan harian semata. Terdapat peninggalan kebudayaan berharga, kepiawaian warga lokal, serta cerminan jati diri kedaerahan yang mesti diwariskan ke pundak angkatan mendatang.

Prinsip kukuh itulah yang senantiasa dipegang teguh oleh sosok Asra, wanita berumur 63 tahun asal Kuala Baru, Aceh. Terhitung semenjak 1990 silam, dirinya secara konsisten menggeluti bisnis sulaman kasab, sebuah kriya khas setempat yang diproduksi secara manual melalui tahapan rumit nan menuntut ketabahan hati.

“Awalnya usaha ini berangkat dari budaya sulam benang kasab yang memang sudah menjadi tradisi di daerah kami. Karena proses pembuatannya cukup lama dan membutuhkan ketelitian, lambat laun banyak warga yang lebih memilih membeli sulam manik-manik kasab daripada membuatnya sendiri,” ujar Asra.

Membaca adanya peluang dari situasi tersebut, Asra berinisiatif menjajakan kepiawaian tangannya melalui penerimaan pesanan dari satu kediaman ke kediaman tetangga. Keahlian merajut yang tadinya hanya ia kerjakan sewaktu luang di sela-sela rutinitas domestik rumah tangga perlahan berevolusi menjadi penggerak ekonomi yang amat menyokong nafkah keluarga.

Aktivitas niaga yang mulanya cuma melayani permintaan warga di lingkungan terdekat itu kian lama kian bertumbuh pesat. Sekarang, kreasi sulaman manik-manik kasab yang dikerjakan Asra telah terdistribusi luas hingga ke aneka penjuru wilayah Provinsi Aceh.

Sulam manik-manik kasab sejatinya mempunyai sistem pengerjaan yang terbilang cukup kompleks. Setiap satuan karya diciptakan murni memakai tangan kosong dan menuntut kemahiran tersendiri. Helaian serat benang wajib ditarik lewat perhitungan matang agar pola rajutan yang terangkai tampak tertata apik.

Aktivitas pembuatannya pun sama sekali tidak dapat dituntaskan secara tergesa-gesa. Aspek kecermatan sekaligus ketelatenan menjadi fondasi krusial sebab timbulnya kekeliruan kecil pada satu titik berpotensi merusak keindahan keseluruhan wujud kriya tersebut.

“Keunikan usaha ini ada pada proses pembuatannya yang cukup rumit. Setiap tarikan benang membutuhkan ketelitian dan kesabaran ekstra. Tidak bisa dikerjakan terburu-buru karena setiap bagian harus dibuat dengan hati-hati supaya hasilnya rapi dan bagus,” jelasnya.

Rentang perjalanan panjang dalam mengembangkan unit usaha ini sempat menemui hambatan di sektor permodalan. Memasuki 2020, Asra memutuskan bergabung menjadi bagian dari nasabah PNM Mekaar demi mengamankan tambahan dana segar guna menopang operasional serta mengekspansi usahanya.

Suntikan pembiayaan tersebut dimanfaatkan guna membiayai segala kebutuhan sarana produksi, termasuk membeli stok material mentah dalam skala lebih besar. Lewat ketersediaan modal kerja yang jauh lebih mencukupi, Asra sanggup mendongkrak kapasitas hasil karya dan menyerap volume pesanan yang terus berdatangan.

“Alhamdulillah, tambahan modal tersebut membantu saya untuk tetap menjalankan usaha dan memenuhi kebutuhan produksi,” katanya.

Tidak hanya menerima kucuran fasilitas pinjaman modal, Asra memperoleh pembinaan terstruktur lewat program pelatihan pemanfaatan benang kasab yang digelar langsung di kawasan Kuala Baru. Agenda edukasi tersebut kian memperkaya wawasan serta mengasah keterampilannya dalam mengelola manajemen kriya tradisional tersebut secara lebih terarah.

Seiring melesatnya kuantitas barang yang berhasil diproduksi, denyut positif dari bisnis ini ikut dirasakan secara nyata oleh warga sekitar. Asra sanggup memfasilitasi lapangan pekerjaan baru sehingga para tetangga dan kaum perempuan setempat mampu meraih tambahan penghasilan harian melalui partisipasi dalam proses kreasi sulaman manik-manik kasab.

Geliat usaha mandiri yang semula diniatkan guna menambal kebutuhan sehari-hari rumah tangga kini menjelma menjadi sumber faedah ekonomi yang berdaya jangkau lebih luas. Pada waktu bersamaan, eksistensi kelompok pengrajin lokal turut berperan besar mengawal supaya tradisi teknik menyulam kasab tidak tergerus zaman di tengah kehidupan warga Kuala Baru.

Potret perjalanan Asra menjadi bukti konkret mengenai bagaimana kemudahan kucuran pembiayaan yang dipadukan program pendampingan sanggup menciptakan efek berganda bagi sektor ekonomi ultra mikro. Terobosan ini amat selaras bersama komitmen sinergi Holding Ultra Mikro (UMi) yang mengolaborasikan keunggulan BRI selaku induk korporasi bersama PT Pegadaian dan PT PNM.

Terhitung sejak resmi berdiri pada 2021, konsorsium Holding UMi memang diorientasikan untuk memperluas jangkauan dan memperdalam penetrasi produk jasa finansial bagi kalangan akar rumput, terkhusus segmen usaha paling bawah, melewati ekosistem terpadu yang memadukan fasilitas pinjaman, instrumen simpanan tabungan, jalur pembayaran transaksi, hingga pemanduan dan edukasi usaha secara berkesinambungan.

Corporate Secretary BRI Dhanny mengutarakan pandangannya bahwa kegiatan pendampingan terpadu merupakan elemen yang sangat krusial dalam menciptakan ekosistem bisnis ultra mikro yang mandiri dan berkelanjutan.

“Melalui Holding Ultra Mikro, kami ingin memastikan bahwa akses keuangan menjadi pintu masuk menuju pemberdayaan yang lebih luas. Pelaku usaha seperti Ibu Asra menunjukkan bahwa ketika akses pembiayaan dipadukan dengan pendampingan dan semangat untuk terus berkembang, usaha ultra mikro dapat memberikan manfaat yang jauh melampaui pemilik usahanya sendiri,” ujar Dhanny.

Bagi sosok Asra, segala wujud bantuan yang mengalir menjadi penguat dalam tapak tilas panjangnya merawat kelestarian sulam kasab selama lebih dari tiga dekade. Menghadapi pergantian era kekinian, tiap lembar sulaman yang terlahir tak sekadar berperan menjadi tumpuan nafkah sanak saudara dan tetangga sekitar, melainkan turut mengokohkan marwah tradisi seni kriya khas Aceh supaya tetap abadi serta dikenal luas oleh generasi penerus bangsa.

banner 336x280