Hilirisasi Mineral Moncer, Ekspor RI Diproyeksi Tembus Rp900 Triliun

Posted on

Jakarta, CNBC Indonesia – Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memperkirakan perolehan ekspor komoditas hilirisasi, mencakup nikel, aluminium, beserta komponen baterai kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV), berpotensi menyentuh angka US$ 50 miliar atau setara Rp900-an triliun (kurs Rp18.000 per US$). Angka tersebut melonjak berlipat ganda dibanding capaian tahun 2024.

Septian Hario Seto selaku Anggota sekaligus Sekretaris Eksekutif DEN memaparkan, selain komoditas nikel, agenda hilirisasi lain tengah digenjot secara masif di Tanah Air. Beberapa di antaranya mencakup pemrosesan aluminium dan suku cadang baterai lithium. Sebagai gambaran, hilirisasi sektor aluminium melesat tajam dengan proyeksi devisa ekspor tahun ini menembus kisaran US$ 7 miliar hingga US$ 7,2 miliar, naik dari capaian US$ 3,5 miliar pada 2025.

"Yang lain juga yang menarik adalah hilirisasi dari komponen-komponen baterai lithium. Jadi mungkin ini yang menjadi banyak pertanyaan dan kritik dari orang-orang juga terkait dengan hilirisasi di Indonesia," ujar Seto dalam Konferensi Pers di Istana Negara, Selasa (21/10/2026) malam.

Seto menggarisbawahi bahwa sekarang Indonesia telah bertransformasi menjadi salah satu pemasok penting komponen baterai lithium dunia, semisal anoda dan katoda baterai. RI bahkan sudah mengoperasikan fasilitas pemurnian lithium refinery, kendati negeri ini secara alami tidak mempunyai cadangan mineral mentah lithium.

"Artinya Indonesia sudah bisa melakukan industrialisasi dari sumber daya alam yang kita tidak miliki. Tapi industrialisasi ini merupakan bagian dari ekosistem tadi yang lengkap," kata Seto menegaskan.

Berdasarkan kalkulasi DEN, total pengapalan ekspor dari hilirisasi nikel, aluminium, serta komponen baterai lithium pada akhir tahun ini diproyeksikan mengantongi US$ 50 miliar, melonjak mendekati 45% dari realisasi ekspor pada 2024 silam.

"Jadi ini merupakan prestasi yang tadi kami sampaikan sangat baik kepada Bapak Presiden (Prabowo Subianto) karena selama 2 tahun periode pemerintahan beliau ekspor hilirisasi kita itu bisa meningkat sekitar 45%. 2026, US$ 50 miliar dolar dan tadi 2024 sekitar US$ 34,5 miliar," pungkas Seto.

Selain pencapaian tersebut, DEN menaksir ekspor produk hilirisasi aluminium ke depannya berpeluang menembus US$ 10 miliar seiring masuknya ekspansi investasi proyek smelter aluminium baru di Nusantara.