Ikan tuna lokal menyimpan potensi amat besar guna mencukupi kebutuhan asupan protein harian masyarakat di Tanah Air.
JAKARTA – Publik kini didorong untuk membiasakan diri menyantap ikan tuna minimal satu kali setiap pekan sebagai opsi protein keluarga. Selain mampu memperbesar serapan pasar dalam negeri, kebiasaan positif ini dipercaya sanggup menumbuhkan kepedulian para konsumen terhadap tempat asal ikan, teknik penangkapan yang diterapkan, hingga masa depan kelestarian biota maritim.
Himbauan strategis tersebut dikemukakan dalam diskusi Bincang Tuna Episode 3 bertajuk “Know Your Tuna, Value Every Catch” di area Indonesia Tuna Pavilion, yang menjadi bagian dari ajang pameran SIAL Food & Drinks Indonesia 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada Jumat (6/11/2026).
Pemimpin Program Tuna Consortium, Thilma Komaling, memaparkan bahwa geliat konsumsi warga lokal sangat berpotensi melebarkan cakupan pasar komoditas tuna Nusantara. Celah keberhasilan itu hadir persis di tengah capaian ekspor tuna nasional yang berhasil menembus angka di atas satu miliar dolar AS sepanjang 2025.
“Di tengah nilai ekspor tuna Indonesia yang telah melampaui satu miliar dolar AS pada 2025, penguatan konsumsi domestik menjadi peluang untuk memperluas pasar, mendorong inovasi produk olahan, serta menciptakan nilai tambah ekonomi bagi industri perikanan dan komunitas nelayan,” jelas Thilma lewat keterangan tertulisnya, Jumat (6/11/2026).
Menurut penuturan Thilma, penentuan hidangan santapan harian memiliki kaitan amat erat dengan mutu produk pangan, kesejahteraan para penangkap ikan, serta keseimbangan ekosistem laut. Kalangan pembeli idealnya juga mencermati darimana komoditas itu didapat beserta metode panennya supaya terbangun hubungan yang semakin bertanggung jawab pada kelestarian alam perairan.
“Ketika masyarakat mulai mengenali tuna yang mereka konsumsi, memahami bagaimana ikan tersebut ditangkap, serta menghargai nelayan yang bekerja di baliknya, kita sedang membangun hubungan yang lebih bertanggung jawab antara konsumen dan sumber daya laut,” tutur Thilma.
Pada kesempatan serupa, Direktur MDPI Foundation Yasmin Simbolon turut mengimbau publik untuk senantiasa menghadirkan hidangan tuna ke menu makan keluarga minimal sekali sepekan. Baginya, komoditas tuna pantas dijadikan opsi protein bergizi tinggi dalam ragam menu yang kian variatif, didukung oleh beragam metode pemrosesan yang sangat gampang dipraktikkan langsung di dapur rumah tangga.
“Melalui berbagai pilihan olahan, masyarakat dapat menikmati tuna tanpa harus terpaku pada hidangan tertentu atau cara penyajian yang rumit,” kata Yasmin menegaskan.
Di sisi lain, Pendiri sekaligus CEO Asosiasi Perikanan Pole & Line dan Handline Indonesia (AP2HI), Janti Djuari, menekankan signifikansi edukasi mengenai kandungan nutrisi protein tuna serta kepastian keamanan pangannya. Salah satu hal mendasar yang patut dipahami pembeli yakni perihal histamin, senyawa kimia yang berisiko timbul pada kelompok ikan tertentu termasuk komoditas tuna apabila cara penanganan serta proses penyimpanannya kurang higienis.
“Kekhawatiran terhadap histamin perlu dijawab dengan informasi yang tepat, termasuk pentingnya menjaga suhu dan kualitas ikan sejak ditangkap hingga sampai ke tangan konsumen,” tegas Janti memberikan penjelasan.
Sementara itu, Pejabat Urusan Kebijakan dan Pemerintahan Yayasan IPNLF Indonesia, Nilmawati, mengajak para pembeli untuk bersikap lebih kritis dengan menanyakan asal usul tangkapan beserta peranti tangkap yang dipakai kepada penjual, gerai makanan laut, maupun restoran penyedia hidangan. Cara penangkapan individual satu per satu atau one-by-one fishing, seperti pancing ulur (handline) dan huhate (pole-and-line), terbukti jauh lebih ramah lingkungan serta selektif ketimbang sejumlah piranti lainnya.
Kendati demikian, kelangsungan stok tuna tetap menuntut tata kelola perikanan yang cermat serta etika penangkapan yang berwawasan lingkungan. Transparansi alur distribusi pasokan juga mutlak diwujudkan supaya para pembeli memperoleh kepastian sahih mengenai riwayat produk yang mereka bayar.
“Dengan semakin meningkatnya perhatian konsumen terhadap asal-usul produk, diharapkan pelaku usaha perikanan memiliki dorongan lebih besar untuk memperkuat transparansi rantai pasok sekaligus mempertahankan praktik penangkapan yang berkelanjutan,” ungkap Nilmawati.








