Bank Indonesia (BI) membeberkan bahwa permintaan valuta asing (valas) oleh kalangan importir lazimnya mengalami kenaikan signifikan pada penutupan kuartal III atau September. Fenomena musiman semacam ini menjadi salah satu faktor penentu yang memengaruhi pergerakan pasar valas beserta stabilitas kurs rupiah.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menerangkan, lonjakan permintaan mata uang asing pada rentang waktu tersebut mayoritas dipicu oleh pemenuhan kewajiban transaksi impor. Di samping pembayaran barang luar negeri, keperluan valas turut didorong oleh agenda repatriasi dana perusahaan.
"Kalau kita lihat historisnya, memang biasanya kebutuhan valas itu di kuartal III meningkat, terutama kebutuhan untuk impor dan juga repatriasi," tutur Erwin saat agenda Taklimat Media BI di Gedung BI, Jakarta, Rabu (30/9).
Erwin memaparkan lebih lanjut, pasca-berakhirnya kuartal III, intensitas permintaan mata uang asing secara musiman umumnya bakal melandai sampai pengujung tahun. Kendati demikian, arah tren musiman tersebut masih berpotensi bergeser selaras dengan perkembangan situasi perekonomian internasional.
"Kalau kita lihat setelah kuartal III ini biasanya kebutuhan itu akan lebih rendah sampai dengan akhir tahun. Tapi sekali lagi, dinamika global itu kita tidak bisa prediksi," jelas Erwin.
Dirinya juga menggarisbawahi bahwa fluktuasi nilai tukar rupiah tidak semata-mata dipengaruhi oleh perputaran kebutuhan valas di pasar dalam negeri. Otoritas moneter senantiasa memantau pergerakan transaksi di pasar luar negeri atau offshore melalui instrumen Non-Deliverable Forward (NDF).
Erwin menguraikan bahwa NDF adalah pasar offshore yang terus bergerak aktif sekalipun perdagangan domestik tanah air telah rampung. Jam perdagangan valas dalam negeri berlangsung dari jam 09.00 sampai 15.00 WIB, sementara aktivitas transaksi NDF konsisten berjalan menyelaraskan bursa di luar negeri.
"NDF ini kan offshore market, jadi ketika pasar domestik buka jam 9 sampai jam 3 sore itu NDF tetap ada di luar," paparnya.
Walaupun transaksi tersebut sama sekali tidak menyertakan pertukaran mata uang rupiah fisik, Erwin menegaskan efek dinamika NDF tetap bisa merembet ke pasar lokal, terutama sewaktu operasional pasar Indonesia telah ditutup.
"Transaksi yang terjadi di pasar NDF ini bagaimanapun suka atau tidak suka itu ada rambatan ke domestik kita, khususnya ketika kita tutup," imbuhnya.
Ia memaparkan ketika pasar domestik Indonesia usai beroperasi pada jam 15.00 WIB, dinamika bursa NDF masih berlangsung saat pasar kawasan Eropa dan disusul bursa Amerika Serikat (AS) beroperasi.
Pergeseran nilai di pasar NDF kerap dijadikan rujukan bagi para pelaku ekonomi domestik sewaktu perdagangan tanah air kembali dibuka esok paginya. Oleh sebab itu, Bank Indonesia memandang penting intervensi aktif di pasar NDF guna meredam lonjakan volatilitas akibat pengaruh sentimen internasional.
Erwin menekankan bahwa fluktuasi pada pasar NDF belum tentu menggambarkan permintaan riil dolar AS di ranah lokal. Gejolak harga acap kali timbul murni akibat pergeseran opini atau persepsi global semata.
"Untuk mencegah rambatan-rambatan yang khususnya berasal dari hal-hal sifatnya persepsi, sentimen, yang tidak ada kebutuhan supply dan demand dolar AS domestik, tapi NDF-nya lompat," sebutnya.
Guna mengatasi kondisi itu, BI terus menjalankan langkah stabilisasi terpadu pada tiga lini pasar sekaligus, yaitu pasar spot dalam negeri, bursa NDF di luar negeri (offshore), serta transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) pada bursa domestik.
"Sehingga kami tetap beroperasi di tiga pasar itu," pungkas Erwin.







