Bantah Kelangkaan Ritel Modern, Bulog Pasok 60 Ribu Ton Beras Premium ke Pasar

Posted on

Ahmad Rizal Ramdhani selaku Direktur Utama Perum Bulog menepis isu bahwa komoditas beras premium masih mengalami kelangkaan di berbagai gerai ritel modern.

Dirinya menerangkan Bulog saat ini mendistribusikan mendekati angka 60 ribu ton beras kualitas premium ke pasaran, termasuk memasok jejaring minimarket seperti Indomaret serta Alfamart.

Rizal mengungkapkan lembaga yang dipimpinnya telah menjalin kesepakatan bersama Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) guna menyuplai kebutuhan pangan ke pasar modern. Dirinya pun mengaku turun langsung memantau ketersediaan pasokan beras pada beberapa gerai di wilayah Kendal dan Semarang.

"Enggak, kita sudah produksi sesuai dengan.. bahkan sudah buat perjanjian dengan teman-teman Aprindo. Semua ritel-ritel modern kita dukung. Kemarin kami baru pulang dari Semarang, ngecek di Semarang. Bahkan di Kendal kami cek pabrik penggilingan kami yang di Semarang itu per hari bisa 30 ton (penyaluran beras)," ucap Rizal saat ditemui di kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat, Selasa (29/9).

Ia menuturkan pemantauan lapangan menyasar jejaring ritel terkemuka, seperti Indomaret, Alfamart, sampai toserba swasta lain. Berdasarkan keterangannya, beras premium olahan Bulog faktanya telah terpajang di berbagai gerai swalayan modern tersebut.

Rizal menyatakan proses distribusi komoditas pangan ini terus dipacu demi menuntaskan instruksi pemerintah dengan target volume 300 ribu ton. Pada periode sebelumnya, sekitar 110 ribu ton beras dilaporkan telah tersalurkan sampai batas waktu 5 September.

Demi mempercepat pemenuhan target suplai itu, Perum Bulog merangkul sekitar 868 unit usaha penggilingan padi berkemampuan memproduksi beras berkualitas tinggi. Mitra penggilingan ini mencakup perusahaan skala raksasa layaknya Topi Koki dan Wilmar, sampai pabrik skala kecil hingga menengah ke atas.

"Perintah Pak Menteri kan mintanya 300 ribu (ton). Kami lagi ngejar ini. Makanya kami melibatkan sekitar 868 penggilingan-penggilingan padi yang mampu membuat beras premium. Bukan penggilingan-penggilingan besar kayak Wilmar saja, Topi Koki, dan lain sebagainya, tapi penggilingan-penggilingan kecil yang menengah ke atas yang mampu membuat beras premium kita libatkan," paparnya.

Rizal menyebutkan dari sasaran yang ditetapkan, hampir 60 ribu ton beras premium sukses digelontorkan merata dari Merauke sampai Sabang. Volume penyaluran tersebut sukses digapai hanya dalam kurun waktu sekitar dua pekan.

Ia menegaskan komoditas beras premium yang disalurkan Bulog memiliki skema berbeda dibanding beras penstabilan harga yang memperoleh kucuran subsidi dari negara.

Beras premium tersebut murni merupakan lini komersial, di mana pengadaannya memanfaatkan gabah yang dibeli memakai skema komersial Bulog.

"Yang namanya beras premium itu tidak ada subsidi, ya. Jadi beras premium yang dibuat Bulog adalah beras komersialnya Bulog. Jadi Bulog belinya bukan pakai beras PSO (public service obligation), bukan beras yang subsidi, tapi beras kita beli gabah-gabah hasil komersial," tegas Rizal.

Namun, fakta ketersediaan komoditas beras premium di kawasan Bekasi justru memperlihatkan kondisi kontras. Penelusuran di sebuah gerai Alfamart Jatiasih menemukan rak beras kemasan 5 kilogram kosong tanpa sisa dan kabarnya telah berlangsung hampir dua bulan lamanya.

Pekerja minimarket setempat bernama Mulyana menuturkan stok belum kunjung terisi akibat belum adanya pengiriman logistik dari pihak distribution center. Ia memperkirakan banderol harga berpotensi terkerek naik sekitar Rp5.000 hingga Rp10 ribu saat komoditas tersebut datang kembali.

Pemandangan serupa tampak di salah satu toko Indomaret pada area terdekat. Area display beras dekat meja kasir terpantau kosong melompong, dan staf toko mengonfirmasi pasokan beras premium sudah lenyap lebih dari sebulan.

Mengacu pada Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP), rata-rata nasional harga beras premium per Selasa (29/9) bertengger di angka Rp15.680 per kilogram. Banderol itu melampaui 5,23 persen dari batas harga eceran tertinggi (HET) ketetapan pemerintah yakni Rp14.900 per kilogram atau setara Rp74.500 per kantong 5 kilogram.

Sampai berita ini disusun, pihak manajemen Indomaret ataupun Alfamart belum menyampaikan konfirmasi resmi terkait kekosongan pasokan beras premium kemasan 5 kilogram tersebut.