Militer Amerika Serikat (AS) kini bersiap menuntaskan pemulangan sisa pasukan mereka dari Irak pada Rabu, 30 September 2026.
Langkah akhir ini memastikan selesainya misi militer AS yang telah berlangsung lebih dari dua dasawarsa terhitung sejak invasi tahun 2003. Saat ini, kondisi di berbagai penjuru Irak telah bergeser sangat jauh bila dibandingkan era pertempuran dahulu. Bundaran Firdos di jantung Kota Baghdad, area runtuhnya patung Presiden Saddam Hussein di depan mata prajurit AS pada 9 April 2003, sekarang sudah beralih kembali menjadi pusat aktivitas harian masyarakat sipil.
Kiprah panjang angkatan bersenjata AS sempat menggoreskan sejarah mendalam di seantero negeri. Sebagai contoh, tank tempur Bradley milik Divisi Kavaleri ke-1 Angkatan Darat AS sempat bersiaga mengamankan rute ke kompleks makam Imam Ali di Najaf pada 27 Agustus 2004. Berselang lebih dari dua puluh tahun, penduduk setempat kini leluasa melintasi rute bersejarah tersebut tanpa keberadaan armada tempur lapis baja asing.
Fokus publik belakangan ini tertuju pada stabilitas keamanan nasional Irak. Komando pasukan khusus Kurdi menggelar rangkaian patroli intensif di kawasan pinggiran Erbil pada 22 September 2026, menyusul munculnya kekhawatiran terkait situasi pertahanan pasca-hengkangnya koalisi militer internasional pimpinan Washington.
Keputusan pemulangan ini bersumber dari kesepakatan bilateral tahun 2024 pada masa Presiden Joe Biden, yang realisasinya dijalankan di era pemerintahan Presiden Donald Trump. Seluruh personel militer AS dijadwalkan secara tuntas mengosongkan markas garnisun terakhir mereka di tanah Irak tepat pada 30 September mendatang.
Keterlibatan panjang selama dua dekade di Irak menelan korban jiwa sekitar 4.500 prajurit AS. Kepergian kontingen terakhir militer AS menjadi titik krusial bagi dinamika keamanan regional serta konstelasi politik Irak, di mana Iran bersama faksi proksinya kini menancapkan pengaruh yang teramat dominan.
Pengamat intelijen dan militer Irak Jasim al-Bahadli memaparkan bahwa kepergian koalisi berpotensi memperbesar keunggulan strategis Teheran. Menurut pandangannya, penempatan kekuatan militer AS selama ini berfungsi sebagai perisai penting penyeimbang pengaruh kuat Iran di Irak.
