Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menerangkan dasar penetapan peserta Program Magang Nasional (MagangHub) ke dalam golongan tenaga kerja lantaran mereka memperoleh imbalan upah serta menjalankan aktivitas kerja aktif sepanjang enam bulan.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, – Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan keterangan formal seputar faktor yang mendasari para partisipan Program Magang Nasional atau MagangHub dihitung sebagai kalangan yang bekerja. Penetapan status ketenagakerjaan tersebut merujuk langsung pada keterlibatan kegiatan produktif dan penerimaan penghasilan rutin yang dinikmati peserta selama masa pemagangan berjalan.
Berdasarkan penuturan Airlangga, identitas sebagai orang bekerja melekat lantaran seluruh peserta MagangHub telah memenuhi parameter pokok, yaitu menjalankan rutinitas profesi nyata sekaligus mengantongi gaji per bulan secara penuh selama setengah tahun. "Sesuai dengan kriteria, mereka (peserta MagangHub) bekerja selama enam bulan," tutur Airlangga ketika menyampaikan keterangan pers di Jakarta, hari Kamis.
Bukan hanya itu, Airlangga juga menegaskan pengaruh nyata program unggulan ini terhadap kesinambungan karier profesional para pemuda binaan. Pasca menuntaskan fase penugasan magang, tercatat hampir separuh dari keseluruhan peserta MagangHub langsung direkrut kembali oleh instansi maupun korporasi yang sama.
"Sesudah enam bulan, sebagian, 40 persen kerja di tempat yang sama dan sisanya nanti mereka mencari pekerjaan yang berbeda," imbuhnya. Bukti statistik tersebut membuktikan peranan efektif MagangHub sebagai jembatan strategis penghubung angkatan pencari kerja dengan kebutuhan sektor industri modern.
Perekrutan Tenaga Kerja Nasional Memperlihatkan Penguatan
Pada konteks yang lebih luas, Badan Pusat Statistik (BPS) menghimpun laporan mengenai pertambahan jumlah penyerapan tenaga kerja dalam rentang Agustus 2025 sampai Agustus 2026, yakni menjangkau 1,443 juta orang. Perkembangan positif ini sejalan beriringan dengan laju ekspansi angkatan kerja dalam kurun waktu serupa.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud mengemukakan total angkatan kerja pada periode tersebut berhasil menyentuh 155,37 juta jiwa, mengalami lompatan pertambahan hingga 1,366 juta orang. "Kemudian dari angkatan kerja tersebut sebanyak 147,99 juta orang di antaranya berstatus bekerja. Jumlah penduduk yang bekerja ini bertambah sebanyak 1,44 juta orang dibandingkan dengan Agustus 2025," sebut Edy.
Secara lebih mendalam, data BPS per Agustus 2026 memperlihatkan dari total 155,37 juta angkatan kerja, sejumlah 147,99 juta individu menyandang predikat bekerja, sedangkan 7,38 juta orang tercatat masih menganggur. Bila disandingkan data Agustus 2025, angka masyarakat bekerja terdongkrak 1,44 juta jiwa, sementara populasi tunakarya susut sebesar 77 ribu orang.
Sektor usaha yang mencatat porsi serapan tenaga kerja paling tinggi hingga Agustus 2026 dipuncaki oleh ranah pertanian sebesar 28,20 persen, sektor perdagangan besar serta eceran menyumbang 17,86 persen, lalu disusul sektor perindustrian dengan angka 13,75 persen.
Persentase Pengangguran Terbuka Bergerak Turun Tipis
Lembaga BPS turut membeberkan indikator Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pada Agustus 2026 berada pada tingkat 70,33 persen, atau merosot sejumlah 0,26 persen poin jika dibandingkan data Agustus 2025 yang bertengger di posisi 70,59 persen. "TPAK pada Agustus 2026 sebesar 70,33 persen atau lebih rendah jika dibandingkan kondisi Agustus tahun 2025," papar Edy.
Apabila dipilah menurut demografi gender, capaian TPAK kalangan pria tampak jauh melampaui capaian perempuan. Partisipasi kerja kaum laki-laki tercatat mencapai persentase 84,16 persen, berbanding dengan partisipasi perempuan yang berada di angka 56,37 persen.
Di waktu yang sama, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) untuk periode Agustus 2026 tercatat mengalami penurunan tipis sebesar 0,09 persen poin ketimbang posisi Agustus 2025. "Pada bulan Agustus 2026 terdapat sebanyak 7,38 juta penganggur atau setara dengan tingkat pengangguran terbuka sebesar 4,75 persen. Angka ini lebih rendah jika dibandingkan dengan bulan Agustus tahun 2025," terang Edy.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.






