Iran Ajukan Tiga Tuntutan ke AS demi Sudahi Konflik, Nantikan Respons Donald Trump

Posted on
banner 336x280

Jakarta, CNBC Indonesia – Pemerintah Iran secara resmi telah menyerahkan sejumlah ketentuan kepada pihak Amerika Serikat (AS) lewat perantara Qatar guna menyudahi pertempuran di antara kedua pihak. Kini pihak Tehran sedang menantikan tanggapan langsung dari Presiden AS Donald Trump.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei menerangkan bahwa pihak Qatar telah meneruskan poin-poin persyaratan dari Iran kepada pihak Washington sebagai ikhtiar merintis jalan perdamaian untuk memungkasi konflik bersenjata tersebut.

banner 468x60

"Kami tetap berhubungan dengan mediator Qatar, yang telah menyampaikan syarat-syarat kami kepada Washington dengan tujuan mengakhiri perang. Kami menunggu jawaban Presiden [Donald] Trump," tutur Rezaei seperti diberitakan Al Jazeera pada Minggu (20/9/2026).

Rezaei memaparkan bahwa pihak Iran menyodorkan tiga tuntutan pokok terhadap AS, mencakup penghentian pertempuran pada seluruh lini, pencairan aset dana Iran yang dibekukan, hingga penuntasan blokade maritim.

"Syarat kami adalah mengakhiri perang di semua front, membebaskan dana kami yang dibekukan dan mengakhiri blokade laut," ungkapnya secara lugas.

Rezaei menambahkan bahwa menerima tuntutan ini sejatinya amat menguntungkan bagi kepentingan pihak AS sendiri. Ia menegaskan bahwa pihak Tehran mustahil melunakkan pendirian militer mereka semata-mata karena gertakan maupun tekanan dari pihak Washington.

"Ini adalah kepentingan Washington untuk menerima persyaratan ini. Ancaman Trump tidak akan mencapai hasil apa pun. Kami siap menghadapi perang yang menentukan," tegas Rezaei.

Selama periode ini, Qatar bersama Pakistan terus berikhtiar memulihkan jembatan diplomasi antara Iran dan AS sesudah masa berlaku nota kesepahaman (MoU) kedua belah pihak dinyatakan kedaluwarsa sejak bulan lalu.

Berbagai negara di kawasan regional turut mendorong gencatan senjata total atas konflik yang bermula ketika AS beserta Israel melancarkan agresi militer ke wilayah Iran pada pengujung Februari silam. Serangan gabungan tersebut telah merenggut nyawa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Rezaei pun tidak menepis kemungkinan bahwa militer AS bakal kembali melancarkan gempuran baru terhadap Iran. Menurut kalkulasi militer Tehran, potensi terjadinya serangan lanjutan tersebut dinilai masih sangat besar dan terbuka lebar.

Kendati begitu, dirinya menegaskan bahwa seluruh angkatan bersenjata Iran sudah bersiap secara penuh untuk menghadapi segala kemungkinan skenario terburuk.

Rezaei membeberkan bahwa doktrin militer Iran kini mengalami perubahan mendasar selepas melewati dua babak pertempuran terdahulu. Tehran kini mengarahkan konsentrasi pertahanan militernya guna membidik aset-aset angkatan laut AS yang tersebar dari perairan Teluk, Teluk Oman, sampai Laut Arab.

Di sisi lain, sasaran militer yang posisinya berada lebih jauh hingga wilayah perairan Samudra Hindia diakui berada di luar batas jangkauan tembak Iran.

Rezaei juga memaparkan bahwa Iran belum lama ini merampungkan uji coba penembakan rudal antikapal berhulu ledak majemuk di area sekitar kapal atau kapal induk milik AS. Menurut penjelasannya, kapabilitas teknologi hulu ledak tersebut masih berpeluang besar untuk ditingkatkan lebih jauh.

Ia pun melayangkan peringatan keras bahwa seandainya timbul serangan baru, balasan militer dari Iran akan dilancarkan dengan kekuatan yang jauh lebih dahsyat.

Sasarannya tidak sebatas pangkalan militer AS di wilayah Timur Tengah semata sebagaimana perang terdahulu, melainkan juga menyasar entitas bisnis komersial serta berbagai korporasi AS yang beroperasi secara lokal.

Saat disinggung perihal apakah pertempuran bakal lekas usai dalam waktu dekat, Rezaei menggarisbawahi bahwa pada kenyataannya konfrontasi masih terus berlangsung di lapangan.

"Dalam arti praktis, perang masih berlangsung," ucapnya.

Walau demikian, ia menandaskan bahwa Tehran kini tengah mengimplementasikan siasat terbaru untuk mempercepat resolusi penghentian perang.

"Kami bekerja berdasarkan strategi baru untuk mengakhiri perang ini sesegera mungkin," imbuhnya.

Secara terpisah, mantan Direktur Urusan Semenanjung Arab Pentagon David Des Roches berpendapat bahwa pihak Washington tampaknya tidak akan menganggap persyaratan dari Iran tersebut sebagai sinyal perundingan yang serius.

"Sekilas, mungkin tidak serius; mereka akan melihatnya sebagai penyerahan diri," kata Roches saat diwawancarai Al Jazeera.

Kendati demikian, ia menangkap indikasi pergeseran diplomasi dari pihak Tehran. Satu poin signifikan yakni Iran tidak lagi menyertakan tuntutan pembayaran biaya ganti rugi perang yang sebelumnya sempat dipersyaratkan.

"Hal pertama yang Anda perhatikan adalah dia telah menghapus tuntutan reparasi, yang sebelumnya pernah diajukan oleh Iran," pungkas Roches.

banner 336x280