Wamen ESDM Tegaskan Arah Transformasi Energi RI Tepat Menuju Kedaulatan Nasional

Posted on
banner 336x280

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Wakil Menteri Yuliot menegaskan bahwa arah transformasi energi Indonesia sudah tepat demi menggapai kedaulatan energi, didukung keberhasilan lifting minyak serta penerapan kebijakan B50.

Kabar tersebut disampaikan langsung oleh Wakil Menteri ESDM Yuliot saat menghadiri Malam Penganugerahan Penghargaan Energi Subroto Tahun 2026 di kawasan Jakarta pada Jumat malam. Ia menekankan bahwa transisi energi nasional saat ini berada di trek yang tepat untuk mewujudkan kemandirian energi bagi Republik Indonesia.

“Transformasi energi Indonesia berjalan di jalur yang benar untuk menuju kedaulatan energi nasional, nilai tambah dalam negeri, penciptaan lapangan kerja, dan kesejahteraan masyarakat,” tutur Yuliot dalam sambutannya.

Dalam paparannya, Yuliot menguraikan deretan keberhasilan penting Kementerian ESDM sepanjang beberapa tahun belakangan. Pada sektor minyak dan gas bumi (migas), dirinya memberi apresiasi khusus atas capaian Indonesia yang sukses menembus target lifting minyak bumi pada APBN 2025. Dari patokan sebelumnya 605 ribu barel minyak per hari, angka realisasi terbukti naik menyentuh 605,3 ribu barel setiap harinya.

“Ini selama sembilan tahun terakhir ini merupakan capaian yang cukup signifikan,” sebut Yuliot. Adapun untuk tahun ini, pemerintah memasang sasaran pertumbuhan angka produksi harian ke kisaran 610 ribu barel per hari, kendati pelaksanaannya masih menghadapi berbagai hambatan sehingga target belum berhasil diraih sepenuhnya.

“Tentu ini kami berupaya bersama-sama bagaimana target minimal yang sudah ditetapkan ini bisa kita capai secara bersama-sama,” lanjutnya.

Penerapan Kebijakan Biodiesel B50 Serta Diversifikasi Energi

Beralih ke sektor energi baru dan terbarukan, program unggulan biodiesel B50 telah resmi diberlakukan pemerintah sejak Juli 2026. Menurut penjelasan Yuliot, pemberlakuan B50 sukses menghasilkan diversifikasi dari konsumsi minyak bumi sekitar 310 ribu barel per hari, di tengah konsumsi minyak nasional yang menyentuh angka 1,6 juta barel per hari.

“Tentu atas kekurangan ini kita melakukan pengadaan bahan bakar minyak yang berasal dari impor, baik crude maupun produk yang sudah dilakukan oleh berbagai badan usaha,” terang Yuliot.

Rasio Elektrifikasi Nasional dan Agenda Hilirisasi Strategis

Sementara itu pada aspek ketenagalistrikan, Yuliot memaparkan bahwa tingkat rasio elektrifikasi tanah air sekarang mencapai 99,85 persen. Rekor ini membuktikan keberhasilan nyata otoritas dalam memperluas instalasi listrik ke pelosok perdesaan. “Sehingga masyarakat tidak ada yang tidak merasakan bagaimana kemandirian energi, dan juga secara hak masyarakat itu bisa terpenuhi, ini merupakan bagian tanggung jawab negara untuk menyediakan energi bagi masyarakat,” ungkapnya.

Pada forum tersebut, dirinya juga memaparkan komitmen pemerintah yang memacu 18 agenda prioritas hilirisasi sekaligus ketahanan energi nasional bernilai investasi total sekitar Rp618 triliun. Sebagian besar sebaran lokasi proyek strategis tersebut berfokus di area luar Pulau Jawa.

“Kami menyadari bahwa pekerjaan kita masih jauh dari selesai. Kita masih harus berjuang bersama untuk meningkatkan ketahanan energi nasional, mengurangi ketergantungan impor energi, memperbaiki iklim investasi, serta menjawab tantangan pemerataan dan keandalan pasokan energi secara nasional,” tutup Yuliot.

Materi artikel ini dirangkum menggunakan bantuan AI.

Wamen ESDM: Transformasi Energi Indonesia di Jalur Tepat Menuju Kedaulatan Nasional

Demokrasi Punya Aturan dan Waktunya

Round-up Asian Para Games: Indonesia Tambah Empat Medali Emas

Partin Muhlisin Sumbang Emas ke-14 Indonesia, Pecahkan Rekor Asian Para Games 2026

Lolos Semifinal French Open 2026, Ubed Hadapi Alex Lanier