PT MRT Jakarta (Perseroda) tengah mematangkan rencana ekspansi area Lebak Bulus guna dijadikan fasilitas park and ride berskala lebih masif demi menghalau laju kendaraan pribadi agar tidak terus memadati jantung kota Jakarta.
Melalui skema ini, para pengemudi diharapkan bersedia memarkirkan kendaraan mereka di area kantong parkir tersebut sebelum beralih menaiki moda transportasi kereta MRT guna meneruskan perjalanan.
Kepala Divisi Property Management MRT Jakarta M Iqbal Bimo Arifianto menerangkan bahwa pemilihan Lebak Bulus didasari posisinya sebagai salah satu simpul paling selatan pada jalur MRT yang kini beroperasi aktif, ditambah seluruh aset parkir di lokasi tersebut telah resmi dikelola pihak MRT.
"Park and ride dulu, parking, karena MRT Jakarta dan pemerintah kota ini ingin dari Lebak Bulus. Sehingga parkir di sana karena kan paling ujung saat ini, paling ujung selatan," ungkap Iqbal dalam agenda lokakarya MRT Jakarta Fellowship Program 2026 yang berlangsung di Kantor MRT, Jakarta Pusat, Kamis (24/9).
Berdasarkan penuturan Iqbal, pendekatan tersebut dirancang supaya warga terdorong untuk tidak membawa kendaraan pribadi hingga mendekati area pusat Jakarta. Lewat cara ini, kawasan Lebak Bulus diposisikan menjadi titik transit utama pertukaran dari sarana transportasi pribadi ke moda transportasi massal.
"Bagaimana ke titik tengah kota ini tidak menggunakan mobil, sehingga park and ride-nya ini mungkin akan lebih banyak, karena ini yang kita inginkan bahwa masyarakat kota Jakarta tidak membawa mobil ke tengah kota. Udah, parkir di sana aja," tuturnya menjelaskan.
Ia membeberkan bahwa MRT saat ini terus berupaya menjaring mitra guna merealisasikan proyek kawasan itu. Selain memperluas daya tampung sarana park and ride, pihak pengelola juga memikirkan penguatan akses konektivitas antara tempat penampungan parkir dengan bangunan Stasiun MRT Lebak Bulus.
Salah satu alternatif solusi yang dikaji mendalam yaitu mendirikan jembatan penghubung yang merentang langsung dari zona park and ride ke stasiun MRT. Hingga sekarang, sarana jembatan telah terbangun mengarah ke pusat belanja Poins Square dan perseroan membuka ruang integrasi lanjutan menuju kawasan sisi belakang.
"Memang kalau konsepnya tadi, kemungkinan pasti harus ada konektivitas. Itu yang utama dulu, makanya tadi saya bilang accessibility, kita ingin ada jembatan dari stasiun Lebak Bulus menuju ke sini. Konektivitas yang baik," jelas Iqbal.
Untuk visi masa depan jangka panjang, lingkungan Lebak Bulus bukan semata-mata dioptimalkan sebagai lokasi parkir kendaraan saja. Pihak manajemen MRT merancang tata ruang mixed-use terpadu multi-fungsi, kendati model wujud akhirnya masih dalam proses pendalaman kajian.
Iqbal mengungkapkan beragam kemungkinan peruntukan lahan, mulai dari penyediaan unit hunian tempat tinggal, apartemen, perhotelan modern, sampai bangunan rumah susun. Seluruh perancangan tersebut nantinya diselaraskan berdasarkan kebutuhan riil wilayah sekitar beserta para pengguna fasilitas tersebut.
"Lebak Bulus park and ride itu sampai beberapa tahun ke depan masih menjadi park and ride. Tapi nanti ke depannya akan berubah menjadi sebuah kawasan yang mixed-use juga. Dengan konektivitas ke Lebak Bulus, mungkin bisa jadi ada apartemen, hotel, perumahan, rusun atau lain-lain," ucapnya.
Pihak korporasi MRT kini aktif mencari rekanan strategis untuk mengeksekusi rencana tersebut. Iqbal menegaskan bahwa suntikan modal investasi sekaligus kolaborasi sinergis dengan sektor lain mutlak dibutuhkan demi merealisasikan agenda penataan kota dalam skala yang jauh lebih luas.
Lebih jauh, Iqbal menjabarkan bahwa entitas MRT tak dapat bergerak sendirian dalam mengatur pergerakan arus jutaan kendaraan yang membanjiri pusat ibu kota.
Menurutnya, perseroan MRT hanya memegang peranan instrumen penarik atau ‘pull’, berupa daya pikat publik menaiki kendaraan umum lewat tawaran promosi, sementara pihak regulator pemerintah memegang instrumen penekan atau ‘push’ guna memperketat pembatasan laju mobil pribadi.
"MRT itu bisanya hanya pull, tarik aja. Kita ada diskon, ada apa, ayo naik. Tapi yang push, ini push program ini harus dilakukan oleh pemerintah. Bagaimana caranya push program? Tidak ada parkir, tidak ada ini," tandasnya.
Ia memberi gambaran mengenai penerapan tarif retribusi parkir sebagai wujud instrumen yang secara teoritis mampu membuat jurang perbedaan biaya masuk ke inti kota berbanding biaya parkir kawasan penyangga. Kendati demikian, contoh tersebut ditegaskan sekadar simulasi pembanding, bukan suatu regulasi resmi yang telah disahkan.
"Mungkin bisa jadi di tengah-tengah kota saja Rp60 ribu, di Lebak Bulus jangan. Misal, misal. Perlu ada segregasi," terang Iqbal.
Ia berpandangan bahwa keberadaan titik parkir di wilayah pinggiran seperti Lebak Bulus wajib didukung kehadiran konektivitas angkutan publik yang prima, agar warga mempunyai alasan logis meninggalkan kendaraan pribadi sebelum berkendara makin jauh masuk ke pusat Jakarta.
Di sudut lain, percepatan pembangunan Lebak Bulus senantiasa menuntut kerja sama harmonis antara jajaran birokrasi pemerintah, para korporasi pengembang properti, serta komunitas masyarakat sekitar. Iqbal menyatakan MRT memiliki batasan operasional sebagai unit Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang membuat proyek ini mustahil dikerjakan secara tunggal.
"MRT Jakarta tidak bisa sendiri. Kita sebuah entitas perusahaan yang BUMD, yang banyak keterbatasannya sehingga butuh kolaborasi antara pemerintah, developer-developer kawasan, yang terakhir masyarakat," pungkasnya.
Berbekal landasan visi tersebut, simpul Lebak Bulus pada masa depan tidak sekadar berfungsi sebagai kantong parkir sekaligus tempat transfer perpindahan moda transportasi, namun diproyeksikan bertransformasi menjadi kawasan terpadu mixed-use mandiri yang tersambung langsung dengan ekosistem MRT Jakarta. Kendati demikian, ragam jenis hunian, format arsitektur fisik, calon mitra kerja sama, hingga tata letak akhir masih terus digodok secara komprehensif.
