Unjuk Rasa Gen Z di Jerman Berujung Ricuh dan Penjarahan di Frankfurt

Posted on
banner 336x280

Aksi demonstrasi yang melibatkan pemuda di sejumlah kota metropolitan Jerman berakhir ricuh. Di Frankfurt, sekelompok massa bertopeng menjarah pertokoan pada Sabtu malam (31/10/2026) waktu setempat, menyusul unjuk rasa yang menyuarakan tuntutan pembenahan mutu pendidikan serta penyelesaian lonjakan biaya hidup di negeri tersebut.

Gelombang perlawanan jalanan ini merupakan bagian dari rentetan demonstrasi yang digerakkan kalangan generasi Z di Eropa sepanjang tahun ini. Di Serbia sebelumnya, pergerakan mahasiswa sukses memainkan andil besar melengserkan pemimpin otoriter melalui pemilihan umum. Di Prancis, eskalasi demonstrasi bahkan memicu kerusuhan dan aksi penjarahan fasilitas komersial.

banner 468x60

Mobilisasi massa di Jerman dimotori aliansi kampanye “Gen Z regelt” yang bermakna “Gen Z mengambil kendali”. Aksi serempak meletus di 34 titik perkotaan, termasuk Berlin, Frankfurt, dan Munich. Aliansi ini menyuarakan penolakan terhadap wacana pemberlakuan kembali program wajib militer serta mendesak pemerintah federal memperbesar kucuran anggaran pendidikan di tengah lonjakan ongkos hidup generasi muda.

Ketegangan paling parah terjadi di Frankfurt, pusat finansial Jerman. Sedikitnya dua toko dijarah dan puluhan gerai lain rusak parah tatkala aksi damai berubah menjadi bentrokan terbuka. Personel kepolisian berjuang keras menguasai kembali situasi ketertiban, sebagaimana dipaparkan saksi mata Reuters.

Melalui media sosial X, Kepolisian Frankfurt menegaskan huru-hara keamanan masih terus terjadi. “Aksi kekerasan dan gangguan ketertiban publik masih terus berlangsung. Di area pusat kota, kaca-kaca jendela pertokoan dihancurkan secara sengaja. Lemparan bom molotov juga diarahkan ke regu aparat dan petugas tanggap darurat. Kami menyerukan kepada seluruh masyarakat agar segera menjauhi atau meninggalkan area pusat kota,” bunyi keterangan kepolisian.

Berdasarkan data kepolisian pada Sabtu petang, jumlah massa berada di bawah kalkulasi awal promotor aksi sebesar 182.000 partisipan. Data otoritas keamanan di Frankfurt, Munich, dan Berlin mencatat total kehadiran massa demonstran hanya menyentuh angka 18.000 partisipan, atau separuh dari klaim 36.000 orang pada portal panitia aksi.

Otoritas pemerintah Jerman mengklaim mayoritas unjuk rasa sepanjang Sabtu tetap berlangsung tertib meski bertepatan dengan malam Halloween. Kendati demikian, penegak hukum menyuarakan ancaman penyusupan kelompok ekstrem yang berupaya membajak momentum gerakan. Sementara itu di Hamburg, beberapa barikade jalanan sempat disulut api.

“Kehadiran kami berhimpun di sini adalah demi memperjuangkan perdamaian sejati serta kebebasan bersama, bukan menyongsong perang terbuka dan pemaksaan kehendak,” tegas juru bicara aliansi Gen Z regelt, Lina Friedrich, ketika berorasi di Berlin, sebagaimana dikutip Reuters.

Friedrich menegaskan substansi tuntutan mencakup perbaikan anggaran sarana kesehatan dan sistem pembelajaran nasional. “Aspek teramat fundamental bagi kami adalah hadirnya dukungan memadai bagi ekosistem kesehatan maupun pendidikan nasional. Kami menentang keras skema wajib militer dan menuntut distribusi beban sosial yang jauh lebih berkeadilan,” paparnya.

Kementerian Dalam Negeri Federal Jerman menyatakan terdeteksinya elemen sayap kiri radikal bersama organisasi terafiliasi jaringan ekstremis internasional yang diduga berupaya menunggangi mobilisasi pemuda demi menghimpun basis massa.

Menteri Dalam Negeri Hesse, Roman Poseck, mengingatkan agar unjuk rasa di Jerman tidak meniru kerusuhan di Prancis. Frankfurt sendiri merupakan kota utama di wilayah Hesse. “Kita segenap publik tentu masih mengingat rekaman nyata dari Prancis: penjarahan, pembakaran permukiman hunian, perusakan mobil polisi, hingga penyerangan aparat,” ujar Poseck. “Kondisi Prancis sama sekali tidak boleh dijadikan kiblat atau rujukan dalam unjuk rasa ini.”

Kecemasan terhadap huru-hara mendorong pelaku ritel menyusun proteksi darurat. Pemilik gerai memasang papan kayu penutup pada etalase dan memajukan jadwal tutup toko. Pengamanan serupa diterapkan butik-butik mewah di Kurfuerstendamm, Berlin.

Peserta unjuk rasa terus menyoroti beban hidup di negara dengan perekonomian terkuat di Benua Eropa tersebut. Steve, pemuda berumur 18 tahun yang berorasi di Munich, melontarkan kritik terbuka terhadap kebijakan Kanselir Friedrich Merz. Ia menilai rezim gagal menghadirkan solusi generasi muda, memangkas belanja publik, dan membebankan pungutan tambahan kepada masyarakat.

“Pihak penguasa tidak menyodorkan solusi konkret bagi kecemasan kami selain melanggengkan pemotongan anggaran serta menumpuk beban tanggungan lebih berat ke pundak kami,” seru Steve. “Kami berikrar konsisten menggunakan hak konstitusional dasar untuk berserikat dan berkumpul hingga Anda semua menyudahi sikap abai terhadap tuntutan kami.”

Di sisi lain, ekonomi Jerman masih tersendat di tengah pembengkakan pembiayaan dana pensiun dan fasilitas publik akibat gelombang pensiun baby boomer serta penyusutan populasi usia produktif.

Seiring memuncaknya aksi, muncul praduga mengenai aktor di balik layar kampanye Gen Z regelt serta kemurnian pergerakan anak muda karena banyaknya faksi politik dan LSM yang bergabung. Asosiasi perwakilan siswa sekolah nasional Jerman (BSK) bahkan menarik diri dan memilih menggelar demonstrasi mandiri pada 20 November mendatang.

Pada kesempatan lain, Sean Baker, mahasiswa Universitas Teknik Berlin, menuturkan bergabung dalam unjuk rasa demi menyuarakan keresahan terhadap fasilitas fisik kampusnya. “Begitu Anda melangkah memasuki ruang kuliah, atmosfernya tampak seperti gedung kosong terbengkalai. Padahal di tempat memprihatinkan inilah kami diwajibkan menyerap ilmu secara rutin,” tutur Baker kepada Reuters.

banner 336x280