Trik Jitu Menata Investasi Valas Kala Kurs Rupiah Sentuh Ambang Rp18 Ribu

Posted on
banner 336x280

Laju nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih bergerak lesu hingga akhirnya menembus level psikologis Rp18 ribu. Mengakhiri sesi transaksi pada Jumat (16/10) petang, mata uang Garuda tercatat merosot sebesar 89 poin atau terkikis 0,50 persen, bertengger di kisaran Rp18.027 per dolar AS jika dikomparasikan dengan posisi penutupan sebelumnya.

Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa penurunan performa ini diakibatkan oleh dinamika sentimen global yang memberikan tekanan bagi pasar keuangan dalam negeri. Bersamaan dengan kondisi tersebut, arus keluarnya modal asing dari instrumen portofolio domestik diprediksi masih memiliki potensi untuk berlanjut ke depan.

banner 468x60

"Bank Indonesia berkomitmen untuk terus hadir di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah sesuai fundamentalnya dan memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik," terang Erwin Gunawan Hutapea selaku Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI lewat rilis resmi pada Jumat.

Perencana Keuangan Advisors Alliance Group Indonesia Dandy menyampaikan bahwa dinamika fluktuasi rupiah pada waktu sekarang belum memperlihatkan kestabilan menyeluruh. Kendati demikian, dirinya memandang batas Rp18 ribu per dolar AS menjadi batas psikologis yang sangat krusial bagi pelaku pasar.

Jika mata uang tanah air mampu bertahan di rentang angka tersebut tanpa mengalami pelemahan lebih parah, situasi ini berpotensi mengindikasikan bahwa hantaman tekanan pasar mulai berangsur terkendali.

"Namun, terlihat juga rupiah masih tertekan dengan besarnya pengaruh dari arah dolar AS, kebijakan The Fed (Bank Sentral AS) dan Bank Indonesia, geopolitik, serta foreign flow," papar Dandy saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com.

Menghadapi kenyataan moneter tersebut, muncul kebimbangan di tengah publik mengenai peluang instrumen valuta asing (valas), apakah masih potensial untuk dikoleksi di saat kurs telah menyentuh angka terbilang tinggi.

Pilihan Diversifikasi Kekayaan

Dandy memandang penempatan modal pada mata uang asing masih sangat menarik sebagai langkah diversifikasi portofolio. Namun, pada situasi terkini, aset valas jauh lebih ideal dimanfaatkan sebagai sarana lindung nilai (currency hedging) dibanding alat memburu keuntungan modal semata (capital gain).

"(Investasi di valas) akan lebih cocok untuk mereka yang punya kebutuhan dolar seperti untuk kuliah, bisnis, atau investasi dalam dolar," imbuh Dandy.

Metode Masuk Bertahap untuk Redam Risiko

Para pemodal dianjurkan tetap mencermati target finansial pribadi, cakrawala waktu (time horizon), toleransi profil risiko, serta variabel makroekonomi seperti laju inflasi, penetapan suku bunga acuan, hingga kondisi stabilitas politik nasional maupun global.

Guna meminimalkan potensi kerugian finansial, Dandy menyarankan investor menerapkan teknik dollar cost averaging (DCA), yaitu menyerap atau memborong valas secara gradual dan konsisten pada periode tertentu.

Dirinya juga menggarisbawahi agar masyarakat hanya memakai porsi dana investasi tertentu, serta menghindari pemanfaatan alokasi kas kebutuhan jangka pendek demi mengejar spekulasi mata uang semata.

"Kalau masuk sekarang, harga sudah relatif tinggi. Kalau memang ada kebutuhan untuk pakai dolar, maka saran saya masuk bertahap daripada menebak kapan titik terendah," sebut Dandy.

Menyelaraskan Portofolio dengan Profil Pemodal

Dandy turut membagikan panduan seputar alternatif mata uang asing yang dapat dipertimbangkan oleh calon investor.

Bagi kalangan pemodal konservatif, ia menyarankan USD, SGD, atau valuta safe haven layaknya CHF (Franc Swiss) yang fungsi dasarnya condong pada pelestarian nilai kekayaan (wealth preservation) serta diversifikasi perlindungan nilai.

Sedangkan pemodal bertipe moderat disarankan meluaskan jangkauan pada mata uang asing seperti GBP dan juga JPY.

Adapun bagi investor bertipe agresif, Dandy menganggap sejumlah kombinasi pasangan mata uang (currency pair) contohnya GBP/USD, USD/JPY, USD/CHF, serta GBP/JPY sangat layak untuk dimonitor secara ketat.

"Layak dipantau karena pergerakannya dipengaruhi oleh perbedaan kebijakan suku bunga, data ekonomi, serta perubahan sentimen risiko global," tutur Dandy.

Orientasi Rentang Waktu Menengah-Panjang

Pada kesempatan lain, Perencana Keuangan Andy Nugroho berpendapat bahwa penempatan dana pada valas dapat menghasilkan imbal hasil positif, asalkan dirancang dalam durasi investasi menengah sampai panjang atau paling tidak berjalan tiga tahun.

Menurut pemaparan Andy, investor berpeluang memperoleh keuntungan bila posisi rupiah kian merosot di hadapan dolar AS, namun harus berani mengantisipasi kerugian seandainya rupiah justru mengalami pembalikan arah dan menguat.

Menimbang Ragam Alternatif Instrumen Lain

Andy mengingatkan pelaku investasi agar tidak membatasi pilihan hanya pada mata uang asing dan aktif memantau instrumen alternatif lain yang diselaraskan dengan profil risiko masing-masing.

Bagi pemodal dengan profil risiko tinggi (high risk), pasar saham bisa dijadikan pertimbangan.

Akan tetapi, mengingat anjloknya laju IHSG pada penutupan Jumat yang dampaknya diprediksi berlanjut beberapa waktu mendatang, Andy mengimbau kalangan pelaku pasar modal untuk bersikap super waspada atau memilih menunggu sejenak.

"Alternatif lain bisa masuk pasar derivatif yang risiko dan modalnya lebih tinggi dan besar lagi," ucap Andy saat dihubungi terpisah.

Bagi pemodal berprofil moderat, Andy memberikan rekomendasi Surat Berharga Negara Ritel (SBN) atau reksa dana pendapatan tetap. Sementara untuk tipe konservatif, instrumen logam mulia serta reksa dana pasar uang menjadi pilihan yang sangat pas.

banner 336x280