Insiden penembakan massal yang mengerikan mengguncang jantung Kota Krakow, Polandia, pada hari Sabtu (7/11/2026). Peristiwa berdarah tersebut menelan sedikitnya enam korban jiwa serta mengakibatkan 15 orang mengalami cedera, yang mencakup aparat penegak hukum serta warga negara asing.
Mengutip laporan Al Jazeera pada Minggu (8/11/2026), pihak kepolisian setempat menginformasikan bahwa seorang pengemudi mobil mengarahkan kendaraannya menuju alun-alun utama Main Market Square sekitar jam 15.00 waktu setempat. Pelaku lantas menembakkan peluru tanpa kendali menyasar kerumunan publik langsung dari dalam mobilnya.
Serangan mematikan itu merenggut nyawa empat wanita serta dua pria. Kepolisian mengonfirmasi pria bersenjata itu beroperasi secara mandiri. Aparat kemudian melepaskan tembakan balasan guna melumpuhkan sang pelaku sebelum akhirnya berhasil diringkus. Tersangka yang menderita luka-luka kini telah dipindahkan ke fasilitas medis demi memperoleh perawatan intensif.
Kementerian Dalam Negeri Polandia menegaskan pelaku berstatus warga negara setempat. Mendagri Marcin Kierwinski menyampaikan bahwa tersangka diyakini terpapar serta meminati ideologi ekstremisme sayap kanan.
"Berdasarkan data yang dihimpun tim aparat, tersangka kedapatan mengenakan busana bernuansa militer," ungkap seorang juru bicara aparat kepolisian di hadapan awak media.
"Dalam upaya penindakan, regu petugas memakai senjata dinas mereka, akan tetapi orang itu justru membalas tembakan. Akibat peristiwa baku tembak tersebut, dua personel polisi masuk daftar korban luka," imbuhnya.
Kierwinski turut membeberkan bahwa seorang anggota kepolisian yang terluka tengah berada dalam situasi amat kritis. Bukan hanya itu, tercatat lima orang warga negara asing turut dirawat di rumah sakit akibat cedera fisik, sementara satu warga asing dipastikan telah tewas.
Sikap Tegas Perdana Menteri Polandia
Perdana Menteri Donald Tusk mengutuk keras insiden penembakan keji tersebut sembari memuji kesigapan para personel kepolisian selama menangani ancaman. Lewat unggahannya pada media sosial X, Tusk menyebut langkah para petugas kepolisian adalah tindakan kepahlawanan dalam menyikapi petaka berdarah itu.
"Saya secara berkala memperoleh laporan terkini dari Menteri Dalam Negeri mengenai perkembangan situasi di Krakow," tulis Tusk.
Dirinya melanjutkan, korps kepolisian sedang menelisik rekam jejak pelaku bersama seluruh faktor yang berkelindan dengan peristiwa tragis tersebut. Presiden Polandia Karol Nawrocki pun menyampaikan rasa duka cita mendalam bagi seluruh korban dan keluarga yang ditinggalkan.
Pada kesempatan lain, Menlu Radoslaw Sikorski menyatakan pihaknya sudah menerima puluhan ungkapan belasungkawa resmi dari deretan menteri luar negeri dunia. Dubes AS untuk Polandia, Tom Rose, mengutuk aksi teror massal itu sebagai serangan kejam yang mencabik kedamaian publik Polandia.
"Amerika berdiri bersama Polandia pada masa kelam ini," tegasnya via akun X.
Gelombang kecaman juga disuarakan Kepala Urusan Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas, yang memastikan Polandia tak sendirian menghadapi cobaan berat ini.
"Tragedi hilangnya nyawa dalam penembakan di Krakow akan dirasakan jauh melampaui Polandia," sebutnya.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy tak ketinggalan mengekspresikan simpati seraya mengecam aksi teror tersebut sebagai tindak kriminalitas yang sungguh mengejutkan dunia.
"Ukraina berdiri dalam solidaritas bersama Polandia dan rakyat Polandia. Setiap orang berhak atas keamanan," ungkap Zelenskyy melalui kanal media sosial.
Krakow merupakan kota terbesar kedua di seantero Polandia yang berjarak sekitar 250 kilometer ke arah selatan ibu kota Warsawa. Kawasan bersejarah ini merupakan magnet wisata utama yang sanggup memikat sekitar 15 juta turis setiap tahunnya.
Kasus penembakan brutal terhitung sangat langka terjadi di Polandia, negara berpopulasi 38 juta jiwa yang bernaung di bawah Uni Eropa dan aliansi militer NATO.
Walau demikian, otoritas keamanan Polandia kini memperketat kewaspadaan menyusul rentetan teror penusukan yang melanda pada bulan Oktober lalu. Sebelumnya, PM Tusk pernah melontarkan kritik keras kepada serbuan kekerasan itu sebagai wujud "kultus kekerasan".
