Buka Festival Wayang Semesta 2026, Wali Kota Semarang Soroti Relevansi Nilai Luhur Budaya

Posted on
banner 336x280

Seni pertunjukan wayang dinilai oleh Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti sebagai peninggalan peradaban sarat pesan kebajikan dan perikemanusiaan yang tak lekang oleh perputaran masa.

Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Agustina Wilujeng Pramestuti saat meresmikan Festival Wayang Semesta 2026 yang dihelat di Lapangan Pancasila kawasan Simpang Lima, Semarang, pada Minggu malam. Dirinya menggarisbawahi kebudayaan warisan nenek moyang ini senantiasa menyajikan pedoman moral bermakna bagi seluruh tingkatan usia.

Agustina menerangkan bahwa kesenian wayang menjadi potret khazanah peradaban yang memaparkan kepribadian umat manusia beserta dinamika kehidupannya. Hakikat dari alur kisahnya dinilai tetap konsisten kendati zaman modern terus mengalami perkembangan pesat.

"Wayang ada adalah kekayaan peradaban kita," tegas Agustina. Seluruh alur pentas maupun figur pewayangan menyimpan pesan tentang arti kehidupan, mulai dari kearifan sikap, kepemimpinan luhur, keberanian membela kebenaran, hingga nilai-nilai kemanusiaan mendalam.

Dirinya pun menambahkan gambaran kondisi sosial masyarakat masa silam kerap dicerminkan atau diistilahkan condro melalui figur wayang. "Dulu dan sekarang, watak, karakter, kejadian, keinginan, emosi sama," tutur sang wali kota menegaskan keterkaitan abadi nilai-nilai tersebut.

Sinergi Tiga Kelompok Wayang Orang Legendaris

Panggung utama Festival Wayang Semesta 2026 menyuguhkan aksi kolaboratif bersejarah dari tiga grup wayang orang ternama dalam satu arena. Para seniman mementaskan pertunjukan akbar dengan membawakan judul "Sekar Mustika".

Deretan sanggar legendaris yang bersatu dalam kolaborasi megah ini terdiri atas Wayang Orang Ngesti Pandowo utusan tuan rumah Semarang, Wayang Orang Sriwedari asal Surakarta, dan Wayang Orang Bharata dari ibu kota Jakarta.

"Saya memberikan penghormatan yang luar biasa kepada seluruh seniman dan pengelola tiga kelompok karena sudah bertemu dan mempertemukan sesuatu untuk bisa dinikmati," puji Agustina.

Kemeriahan festival tak cuma bertumpu pada kolaborasi wayang orang tersebut. Pengunjung disuguhi atraksi Wayang Potehi Tek Gie Hien, pentas dalang cilik wayang kulit, hingga tarian penari Akademi Wayang Semarang. Suasana makin semarak berkat penampilan penyanyi Nugraha Pawestri, grup OM Syalala, Vaganza Band, serta aksi penghibur nasional Gilang Dirga.

Sokong Industri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Agustina menyampaikan komitmen penuh dalam melestarikan gelaran Festival Wayang Semesta supaya tradisi terus berakar kuat di tengah warga. Pihaknya meyakini perhelatan budaya ini berdampak langsung memajukan ekosistem pariwisata sekaligus sektor ekonomi kreatif Semarang.

Penyelenggaraan tontonan cuma-cuma bagi publik di Lapangan Pancasila Simpang Lima berhasil memperkokoh daya tarik wisata kota atlas. "Tahun 2027 akan semakin banyak kita mengadakan acara. Kalau ada acara, ada UMKM yang tumbuh. Apalagi kalau gratis, pertunjukannya gratis, UMKM-nya pasti akan sangat banyak," tuturnya.

Strategi penyelenggaraan semacam ini tak hanya menyelamatkan seni tradisi, melainkan ampuh memutar roda perputaran ekonomi lokal. "Kita dapat menghidupi para seniman wayang di dalam kehidupan perdagangan jasa dan proses perekonomian Kota Semarang yang terus tumbuh ini," kata Agustina menutup sambutannya.