Kementerian Transmigrasi (Kementrans) menyelenggarakan agenda Festival Transmigrasi 2026 yang bertempat di area Rempang Eco City, kawasan Tanjung Banon, Batam, pada Sabtu 10 Oktober 2026.
Ketika berbicara dalam agenda tersebut, Menteri Transmigrasi (Mentrans) Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara memaparkan pendekatan filosofi ada gula ada semut guna memikat antusiasme warga melalui penciptaan geliat ekonomi baru.
"Jadi kita punya strategi 'ada gula, ada semut'. Kita cetak gulanya terlebih dahulu supaya semutnya datang. Acara Festival Transmigrasi seperti ini, ini sebenarnya juga adalah pengejawantahan bahwa kalau ada aktivitas ekonominya, masyarakat juga akan berbondong-bondong datang kemari," ungkap Iftitah secara gamblang.
Ia menuturkan, perhelatan Festival Transmigrasi menjadi salah satu sarana mempromosikan aneka potensi daerah. Agenda tersebut sekaligus memantik ruang komunikasi serta pertukaran gagasan guna menopang percepatan pembangunan wilayah setempat.
Diakui Iftitah, kendati awalnya sempat muncul keraguan mengenai kesuksesan gelaran Festival Transmigrasi 2026, antusiasme masyarakat justru tampak luar biasa saat agenda puncak berlangsung.
Kondisi itu terjadi karena panitia menyertakan agenda sosialisasi kesempatan beasiswa perguruan tinggi ke Jerman, yang digarap bekerja sama dengan Technical University of Munich.
"Kami bersyukur, sejak kemarin kami sudah membuka Festival Transmigrasi ini dengan sosialisasi pengenalan beasiswa untuk kuliah di Jerman, dari rekan-rekan teman-teman sahabat dari negara sahabat dari Jerman, dari TUM, Technical University of Munich, dijelaskan bahwa kesempatan pendidikan di Jerman itu luas sekali," papar Iftitah.
"Dan kalau misalkan adik-adik kita dari Kota Batam ingin bersekolah di Jerman, itu diberikan informasi-informasi yang cukup. Kemarin luar biasa, ratusan orang datang hadir dari Batam ke sini, ke kawasan transmigrasi di Eco Rempang City, Tanjung Banon, untuk mendengar langsung pengalaman, kemudian juga informasi tentang kuliah tersebut," tutur sang menteri.
Raup Masukan Konstruktif
Iftitah menambahkan, selain memberi kemudahan akses informasi jalur studi, kedatangan perwakilan akademisi TUM menuju lokasi transmigrasi berhasil melahirkan rekomendasi positif bagi pembenahan Tanjung Banon.
"Ada empat tadi masukan dari mereka yang sangat baik sekali. Terkait dengan manajemen lahan, termasuk agroforestri. Kemudian yang kedua juga terkait dengan isu lingkungan. Kemudian yang ketiga dengan komunitas, dan yang keempat tentang aktivitas ekonomi yang mereka sarankan adalah pariwisata bahari," terang dirinya.
Menteri mengapresiasi empat butir pertimbangan itu sebagai masukan bernilai tinggi. Kementrans bakal segera memperluas kolaborasi dengan perwakilan Tim Ekspedisi Patriot yang sebelumnya telah bersiaga di lapangan.
"Ada dari UI, ada dari IPB, ada dari ITS, kemudian dari ITB tadi, juga hadir sudah hadir di sini. Nah, inilah pertemuan anak-anak generasi muda di kawasan transmigrasi ini memberikan lebih banyak lagi ide-ide yang sangat baik," kata Iftitah.
"Dan tentu saja, setelah ini kita tidak berhenti hanya di ide, tapi kita sudah bicarakan juga dengan Pak Direktur Jenderal tadi untuk diimplementasikan, digerakkan masyarakat untuk bisa mengatasi persoalan-persoalan yang ada di satuan permukiman di Tanjung Banon ini, Rempang Eco-City, agar mereka bisa-bisa betul-betul mandiri," jelasnya kemudian.
Langkah Nyata Kemandirian Warga
Menurut Iftitah, akademisi asal Jerman menekankan masyarakat tidak semestinya terus menggantungkan harapan ke pihak birokrasi, melainkan harus ditopang lewat penguatan kemandirian lokal.
"Jadi kita ingin ke depan, mudah-mudahan apa yang kita konsepkan dengan strategi "ada gula dan ada semut", dengan kita konsepkan bahwa masyarakat juga berpindah meskipun dalam area yang sama, itu dalam rangka kehidupan yang lebih baik," ucapnya.
Iftitah menegaskan kembali bahwa transmigrasi kini tak lagi dimaknai semata urusan relokasi warga atau perputaran finansial saja.
"Ini adalah juga misi kemanusiaan. Bahwa pada prinsipnya orang itu ingin kehidupan yang lebih baik. Bahwa pada prinsipnya bahkan orang yang berbeda bangsa, dari Jerman sana, bersedia untuk meluangkan waktu, tenaga, pikiran, memberikan kontribusi juga kepada kita," tutup Iftitah.
Dapatkan laporan terhangat serta tepercaya langsung lewat sajian Berita Liputan6
