Tantangan Utama Ketahanan Pangan RI: Masalah Logistik dan Distribusi Daerah

Posted on

Jakarta, CNBC Indonesia – Kalangan pelaku usaha di sektor agribisnis menyoroti persoalan sejumlah wilayah di tanah air yang kerap didera kelangkaan suplai pangan. Kondisi rentan tersebut dinilai berpangkal dari tata kelola sistem logistik serta rantai pengiriman komoditas pangan yang masih belum optimal.

Direktur Utama Rumah Tani Bahtiar memaparkan bahwa tingkat produksi bahan pangan nasional, khususnya beras, sebenarnya berada pada tren yang cukup memuaskan di tahun ini jika dikomparasikan terhadap periode beberapa tahun sebelumnya. Kendati begitu, persoalan klasik berupa keterbatasan stok di berbagai daerah nyatanya masih terus berulang hingga kini.

"Memang cukup menarik pangan ini, karena kalau bicara mengenai produksi pangan, memang cukup baik pada periode tahun ini, saya akui kita mengalami banyak surplus. Tetapi tantangannya adalah tidak semua daerah memiliki ketersediaan yang cukup. Tantangan yang cukup besar menurut kami adalah dari sisi logistik pangan itu sendiri," beber Bahtiar pada momentum World Food Day CNBC Indonesia, Jumat (30/10/2026).

Dirinya menceritakan temuan faktual tersebut ketika melawat ke kawasan Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Dalam kunjungan kerja itu, terdengar banyak keluh kesah aparat pemerintah setempat mengenai kondisi defisit bahan pangan pokok yang pada akhirnya memicu lonjakan harga di pasar regional.

"Ini menjadi tantangan yang cukup menarik bagi kita semua, ketika kita mencapai sebuah keberhasilan produksi, tetapi kita juga harus memikirkan bagaimana jalur logistik ini bisa efisien, sehingga pada akhirnya bisa mencapai titik akhir, yaitu kepada end-user atau masyarakat di seluruh daerah yang ada di Indonesia," urai Bahtiar.

Jangan Setengah-Setengah

Guna memitigasi imbas dari keterbatasan persediaan komoditas di wilayah Indonesia Timur, Rumah Tani mengambil langkah nyata untuk aktif mengawal rantai pasok pangan. Bahtiar mengingatkan agar langkah pembenahan sektor pertanian nasional tidak dijalankan secara parsial maupun setengah hati.

"Kami mulai mengambil peran di sini sebagai supply chain orchestrator, bahwa pertanian atau pangan memang tidak bisa kita kerjakan secara setengah-setengah atau fokus terhadap produksinya saja. Maka dari itu kami coba menghubungkan dari basis produksi kami, kebutuhan pasar, logistik, distribusi, dan juga sampai ke end-user, sehingga menjadi kesatuan ekosistem," terangnya.

Sebagai realisasi konkrit, perusahaannya secara berkala mengirim aneka komoditas pangan dari Pulau Jawa ke Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua setiap pekan. Mekanisme ini dirancang berjalan dua arah; apabila wilayah penerima berhasil surplus sementara daerah lain defisit, stok berlebih akan langsung didistribusikan ke area yang mengalami kekurangan bahan pangan.

"Seperti yang sekarang kami lakukan, hampir setiap minggu kami kirim beberapa komoditas pangan dari Jawa ke Kalimantan dan juga dari Jawa ke Sulawesi, karena memang di daerah sana terjadi defisit. Begitu pun nanti sebaliknya. Jadi ketika di wilayah Sulawesi maupun di wilayah Kalimantan terjadi surplus, kami bisa serap ke wilayah yang defisit," tutup Bahtiar.