Jakarta, CNBC Indonesia – Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Drajad Hari Wibowo menyatakan bahwa disrupsi teknologi serta dinamika ekonomi memicu transformasi besar yang dampaknya langsung menekan kehidupan masyarakat kelas menengah.
Keterlambatan merespons disrupsi tersebut memicu penurunan jumlah kelas menengah nasional. Pada 2019, kelompok ini tercatat sebanyak 57 juta jiwa, namun menyusut drastis menjadi 47,5 juta orang pada 2024, berkurang hampir 10 juta orang dalam kurun lima tahun. Menyikapi persoalan tersebut, negara mengambil langkah mitigasi lewat penciptaan lapangan kerja berbasis investasi dan hilirisasi, penguatan vokasi serta pemagangan, pemotongan PPh pekerja bergaji di bawah Rp 10 juta, potongan iuran jaminan sosial, hingga fasilitas KPR subsidi.
Sektor pariwisata juga dipacu guna menopang roda ekonomi nasional kendati masih terhambat hambatan birokrasi dan regulasi. Demi menjadikan pariwisata serta ekonomi kreatif motor penggerak perekonomian, pembenahan aturan perizinan serta pemberian stimulus inovasi menjadi prioritas utama.
Pada sektor manufaktur, akselerasi industri terus diperkuat melalui industrialisasi serta hilirisasi komoditas perkebunan kelapa sawit hingga pabrik kertas. Di sisi lain, industri pusat data diproyeksikan menjadi penggerak ekonomi baru, menegaskan urgensi percepatan digitalisasi pada era kecerdasan buatan.
Demi menjaga momentum ekspansi ekonomi, APBN dipastikan siap membiayai program unggulan semisal MBG, Kopdes Merah Putih, hingga Kampung Nelayan Merah Putih. Optimalisasi pendapatan negara juga digenjot via pembaruan sistem perpajakan, termasuk menargetkan kontribusi dari kelompok wajib pajak berpenghasilan tinggi.
Bagaimana ulasan lengkap strategi Kemenko Perekonomian mengawal kebangkitan ekonomi? Saksikan perbincangan Shania Alatas bersama Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Drajad Hari Wibowo pada program Power Lunch di CNBC Indonesia (Jum’at, 06/11/2026).








