Strategi MRT Jakarta Menghidupkan Blok M Hub Sebagai Ruang Publik Interaktif

Posted on

PT MRT Jakarta gencar memaksimalkan aktivasi area Blok M Hub di Jakarta Selatan. Tujuannya adalah mentransformasikan lokasi ini menjadi wadah publik yang ramai dan berdaya guna tinggi bagi warga, lebih dari sekadar perhentian angkutan massal.

Langkah revitalisasi terpadu ini mencatatkan perkembangan yang amat positif. Division Head Property Management Division PT MRT Jakarta, Muchamad Iqbal Bimo Arifianto, mengungkapkan bahwa jumlah kunjungan harian di Blok M Hub saat ini telah menyentuh angka puluhan ribu orang.

"Ini resume untuk yang Blok M Hub, daily visitor-nya sudah lebih dari 25.000. Juga lebih dari 100 hari aktivasi,” kata Bimo di Jakarta, Sabtu (26/9/2026).

Bimo menerangkan, lonjakan angka pengunjung tersebut merupakan buah dari pendekatan MRT Jakarta yang tak melulu memprioritaskan perbaikan infrastruktur fisik semata, melainkan juga menggerakkan peran aktif para tenan, kelompok komunitas, serta ragam agenda bersama masyarakat.

“Jadi pekerjaan kami bukan hanya memastikan fasilitas berfungsi, tapi juga bagaimana menghadirkan aktivasi, tenan, komunitas, dan berbagai bentuk engagement,” ujar Bimo.

Ia berpandangan, sebuah ruang kota yang bermutu semestinya ramah dijangkau sekaligus memberikan keleluasaan optimal untuk kegiatan positif publik.

“Karena bagi kami kawasan yang baik bukan kawasan yang hanya bagus secara fisik tadi ya, tapi juga kawasan yang dapat digunakan masyarakat,” lanjutnya.

Gunakan Pendekatan Placemaking

Mengenang masa-masa permulaan pengelolaan pada 2023, Bimo menuturkan bahwa Blok M dulunya sarat dengan problematika lingkungan kotor, pedagang kaki lima (PKL) tak teratur, sampai maraknya parkir liar.

Pihak MRT Jakarta lantas mengambil tindakan penertiban dengan melibatkan para pelaku UMKM setempat agar roda perputaran ekonomi lokal tetap berjalan rapi.

“Ini beda lagi kalau tadi satu gedung, Dukuh Atas kan kita mengolah, kita start dari satu gedung yang milik kita. Itu mungkin isu sosialnya tidak terlalu banyak, tapi di sini isu sosialnya jadi sangat menarik gitu ya. Itu tantangan,” jelas Bimo.

Dalam pengembangannya, MRT Jakarta menjalankan skema placemaking berlandaskan tiga pilar utama: kemudahan akses, suguhan daya tarik, dan sinergi komunitas. Strategi ini ditujukan untuk membangun ekosistem perekonomian yang kokoh serta berkelanjutan di area itu.

“Dan more business ini kembali lagi karena kita juga perlu gitu ya, karena kita butuh untuk melakukan pengelolaan. Akhirnya more business,” pungkas Bimo.