Jakarta, CNBC Indonesia – PT Kereta Api Indonesia (Persero) tengah menggencarkan inovasi layanan transportasi berbasis ekonomi kerakyatan. Armada anyar ini dirancang khusus guna menyasar lapisan masyarakat menengah lewat penawaran harga tiket yang ramah di kantong tanpa mengorbankan daya tampung penumpang dalam jumlah banyak.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menjelaskan bahwa terobosan tersebut adalah wujud komitmen korporasi dalam menyediakan alternatif transportasi rel yang selaras dengan ekspektasi publik. Semenjak resmi dioperasikan pada periode awal tahun, sambutan para pengguna jasa tercatat sangat positif.
"Di awal tahun kami telah meluncurkan 2 kereta yang menunjang ekonomi kerakyatan. Pertama adalah Kereta Kelas Ekonomi Kerakyatan dengan kapasitas harian 1.116 dan okupansinya luar biasa 155%. Rata-rata harian penumpang 1.729 dan total penumpang 142.566," ucap Bobby saat rapat kerja bersama Komisi V DPR RI, dikutip Sabtu (26/9/26).
Ekspansi armada ekonomi kerakyatan ini memiliki keterkaitan erat dengan agenda peremajaan fasilitas gerbong PSO. Manajemen KAI berencana merekayasa susunan kursi penumpang agar pemanfaatan area kabin lebih maksimal serta menghadirkan kenyamanan posisi duduk yang searah laju rangkaian kereta.
"Inisiatif dari KA Ekonomi Kerakyatan ini atas arahan dari Bapak Presiden untuk kita mulai nanti mengganti kereta-kereta PSO yang sekarang per gerbongnya 106 tempat duduk itu menjadi 93 tempat duduk dan tempat duduknya itu searah dengan arah perjalanan kereta," imbuhnya.
Format mutakhir ini diposisikan sebagai kategori tersendiri di antara jajaran fasilitas perjalanan yang telah beroperasi. Dengan mekanisme tersebut, publik disuguhi opsi mobilitas yang biaya perjalanannya berada di bawah kelas ekonomi komersial, tetapi memiliki kapasitas angkut kursi yang lebih banyak.
"Kita coba menciptakan kelas-kelas untuk rakyat menengah jadi contohnya ekonomi kerakyatan itu di bawah ekonomi komersial. Jadi KA ekonomi komersial kalau kapasitasnya 72 ini kita bikin kapasitas 93," tutur Bobby.
Trayek yang kini telah beroperasi melayani perjalanan relasi Stasiun Pasar Senen menuju Stasiun Lempuyangan. Pihak KAI menetapkan harga tiket sebesar Rp125.000 untuk perjalanan tersebut, dengan tingkat keterisian kursi yang senantiasa mencatatkan animo sangat padat.
"Sudah berjalan jadi Pasar Senen ke Lempuyangan itu Rp 125.000 dan ini terus terang penuh," jelasnya.
Operator perkeretaapian pelat merah ini juga tengah merancang perluasan jangkauan layanan lewat modifikasi puluhan unit sarana perkeretaapian. Kebijakan strategis ini dijalankan demi memperluas aksesibilitas warga terhadap transportasi massal bertarif ekonomis.
"Kami merencanakan untuk melakukan konversi lebih dari 75 gerbong yang untuk melayani KA kerakyatan ini," ungkap Bobby.
Kendati demikian, pengoperasian kereta ekonomi kerakyatan dipastikan tidak menyingkirkan program kewajiban pelayanan publik. Justru sebaliknya, manajemen KAI intensif berdiskusi bersama jajaran Kementerian Perhubungan agar rangkaian baru ini dapat memperoleh alokasi dana subsidi pemerintah via skema Public Service Obligation (PSO).
"Sekarang tanpa subsidi kami sudah berkoordinasi dengan perhubungan nanti itu akan disubsidi akan PSO dan jauh lebih murah. Nanti kita hitung harusnya bisa," sebutnya.
Apabila skema integrasi subsidi rampung diterapkan, beban ongkos yang ditanggung konsumen berpeluang menyusut signifikan dibandingkan biaya komersial saat ini. Bobby menakar bahwa besaran nominal tarifnya berpotensi sejajar dengan ketetapan subsidi PSO yang selama ini berlaku.
"Sekarang PSO ini sekitar Rp 80.000, jadi nanti (KA Ekonomi Kerakyatan) akan Rp 80.000 atau bisa di bawah itu," pungkas Bobby.
