PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA memberikan tanggapan resmi sesudah Badan Pengaturan (BP) BUMN mengungkap situasi finansial perseroan yang dinilai bermasalah.
Badan usaha milik negara tersebut berkomitmen untuk mengakselerasi program transformasi demi memperkokoh fundamental operasional serta menjaga kelangsungan bisnis jangka panjang.
General Manager Corporate Secretary PT INKA (Persero) Bambang Sutrisno menjelaskan bahwa masukan dari BP BUMN dijadikan dorongan strategis untuk merealisasikan perbaikan komprehensif, mencakup rantai operasional internal sampai ketepatan implementasi pekerjaan di lapangan.
"INKA menindaklanjuti arahan BP BUMN dengan mempercepat transformasi yang saat ini terus berjalan. Fokus kami adalah membangun fundamental perusahaan yang lebih sehat, proses bisnis yang semakin efektif, serta kemampuan yang semakin kuat dalam menjalankan dan menyelesaikan setiap proyek," kata Bambang lewat pernyataan tertulis, Rabu (16/9).
Restrukturisasi difokuskan pada penguatan kesinambungan rantai kerja, mulai dari tahapan perencanaan awal, administrasi kontrak, realisasi proyek, aktivitas manufaktur, sampai tahap serah terima barang kepada pihak pemesan.
Bersamaan dengan langkah tersebut, pihak manajemen INKA terus mengupayakan pemulihan terhadap struktur permodalan dan tingkat likuiditas kas internal.
Bambang menekankan bahwa ketertiban tata kelola proyek merupakan pilar krusial bagi peningkatan kinerja korporasi, terutama terkait ketepatan batas waktu, efisiensi anggaran, mitigasi risiko, dan pemenuhan tanggung jawab kerja sama.
"Setiap proyek harus dikelola secara disiplin sejak awal, baik dari aspek teknis, kontraktual maupun finansial. Dengan pengelolaan yang semakin baik, setiap pekerjaan harus mampu memberikan nilai bagi pelanggan sekaligus memperkuat kondisi perusahaan," tambahnya.
Menurut Bambang, INKA konsisten meningkatkan pengawasan jalur perakitan dan kontrol kualitas supaya armada kereta yang diproduksi memenuhi tolok ukur regulasi keselamatan serta keandalan fungsi operasional.
Agenda pembaruan ini diproyeksikan guna merawat dan memperluas kapasitas sektor kereta api domestik, meliputi bidang rekayasa teknik, kapabilitas produksi, tenaga kerja kompeten, teknologi modern, dan ekosistem industri penunjang.
"Yang ingin kami bangun bukan hanya keberlanjutan perusahaan, tetapi juga kemampuan industri perkeretaapian Indonesia. Untuk itu, INKA harus semakin sehat, profesional, berkualitas, dan kompetitif dengan melibatkan seluruh stakeholder perkeretaapian," pungkas Bambang.
Sebelumnya, Kepala BP BUMN yang merangkap COO BPI Danantara Indonesia Dony Oskaria secara terbuka membongkar problem finansial berat yang sedang membelit INKA.
Dony memaparkan bahwa korporasi manufaktur kereta tersebut mengalami kerugian senilai Rp677 miliar, nilai ekuitas berada di zona minus, serta menanggung pinjaman bermasalah atau unsustainable loan menembus kisaran Rp4,7 triliun.
"INKA ini tidak baik-baik saja, saya tahu persis. Equity negatif, unsustainable loan-nya empat koma sekian triliun, jadi menurut saya INKA ini tidak dalam kondisi yang baik-baik saja," ungkap Dony saat memberikan rilis resmi, Selasa (15/9).
Ia pun mengaku heran dengan situasi tersebut lantaran status INKA adalah produsen manufaktur sarana transportasi yang mempunyai target pangsa pasar pasti.
"Kan aneh, masa kita rugi Rp677 miliar, orang perusahaan manufaktur kemudian juga jelas yang diservisnya siapa. Rugi, ada unsustainable loan Rp4,7 triliun, itu lawannya apa dulu gitu," tegasnya.
Dony menuturkan Danantara siap mendorong percepatan pemulihan operasional (turn around) pada INKA, yang harus didasari kebersamaan tekad serta tata kelola transparan.
"Kita ingin melakukan turn around dan turn around itu hanya bisa dilakukan kalau kita punya komitmen yang sama ingin membuat perusahaan ini menjadi lebih baik, dengan governance yang benar," tuturnya.







