Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan proporsi pelajar yang tiba di sekolah dalam keadaan lapar menyusut drastis dari sebelumnya melampaui 50 persen menjadi kisaran 14 persen setelah program Makan Bergizi Gratis (MBG) bergulir.
Kepala BGN Sudaryono menuturkan bahwa merosotnya angka murid yang kelaparan merupakan wujud nyata manfaat positif yang dihasilkan dari implementasi skema MBG tersebut.
"Sebelumnya sekitar 50 persen lebih siswa datang ke sekolah dalam keadaan lapar. Sekarang, angkanya turun menjadi sekitar 14 persen," ungkap Sudaryono selepas memantau jalannya MBG di SD Cot Meuraja, Aceh Besar, Selasa (13/10).
Dirinya memperkirakan anak-anak yang masih merasakan lapar saat tiba di sekolah kemungkinan bertempat tinggal di area yang belum terlayani fasilitas dapur MBG. Asumsi itu, lanjutnya, masih memerlukan pembuktian lewat data lapangan yang lebih detail.
Sudaryono menggarisbawahi bahwa peninjauan efektivitas program MBG tak boleh sekadar berkaca pada situasi anak-anak di Jakarta maupun kawasan perkotaan besar. Baginya, potret komprehensif mesti dipetik dari kenyataan yang dialami seluruh pelajar se-Nusantara.
"Data yang harus dilihat adalah kondisi secara agregat di seluruh Indonesia," tegasnya.
Ia menambahkan, distribusi layanan MBG secara merata kini menjadi fokus pemerintah, khususnya bagi kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta kantong-kantong daerah dengan tingkat kerawanan stunting tinggi.
Sudaryono menilai lokasi berpravelensi stunting tinggi memang wajib diutamakan lantaran masalah kecukupan asupan nutrisi masih merupakan rintangan serius yang mesti segera dituntaskan.
Tak cuma memangkas jumlah murid yang lapar di kelas, Sudaryono memaparkan keberhasilan program MBG dalam mengerek tingkat penyerapan protein harian bagi anak didik.
Ia mengungkapkan bahwa rasio asupan protein yang semula cuma bertengger di rentang 30-40 persen kini melonjak drastis hingga mendekati kisaran 80 persen.
"Konsumsi protein anak-anak juga meningkat melalui program MBG. Jika tidak salah, sebelumnya berada pada kisaran 30-40 persen, kemudian meningkat hingga hampir 80 persen," pungkasnya.
