Integrasi lebih dari 30 aplikasi internal kini disatukan ke dalam satu ekosistem digital terpadu.
JAKARTA — Langkah transformasi digital yang ditempuh PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) sukses memangkas durasi evaluasi awal pendanaan proyek infrastruktur hingga 30 persen. Lembaga keuangan ini menyatukan lebih dari 30 aplikasi internal ke dalam satu sistem terintegrasi demi mempercepat penanganan proposal, analisis mitigasi risiko, serta pengawasan alokasi pembiayaan proyek secara menyeluruh.
Inisiatif modernisasi operasional ini direalisasikan melalui sistem inovatif bernama Credit Sentinel. Platform pintar tersebut menyelaraskan alur kerja pembiayaan sejak berkas permohonan masuk sampai tahap monitoring proyek berjalan, menciptakan mekanisme peninjauan yang jauh lebih lekas, akuntabel, dan transparan bagi pihak pengembang maupun para pemodal.
Ke depan, IIF berniat memperluas fungsionalitas Credit Sentinel lewat integrasi analitik mutakhir serta otomatisasi alur kerja. Pembaruan berkelanjutan ini ditujukan guna mengoptimalkan produktivitas operasional seraya memperkokoh sistem manajemen risiko dalam menyalurkan kredit proyek infrastruktur strategis nasional.
Presiden Direktur dan CEO IIF Rizki Pribadi Hasan menegaskan, akselerasi pemrosesan berkas beserta kredibilitas di mata investor merupakan pilar krusial pada sektor pendanaan infrastruktur. Dirinya memandang adopsi solusi teknologi mutlak dipadukan dengan penguatan prinsip tata kelola korporasi yang sehat.
“Tantangan infrastruktur Indonesia bukan hanya soal permodalan, tetapi juga soal kecepatan dan kepercayaan. Credit Sentinel hanyalah permulaan. Kami akan terus berinovasi dan memanfaatkan teknologi untuk membuat pembiayaan lebih cepat, lebih transparan, dan lebih responsif terhadap kebutuhan klien yang terus berkembang, dengan tetap menjaga standar tata kelola tertinggi,” kata Rizki dalam pernyataan tertulis, Selasa (13/10/2026).
Keberhasilan perombakan teknologi ini mengantarkan perseroan meraih apresiasi pada Indonesia Technology Excellence Awards 2026 untuk nominasi Enterprise Software – Financial Services. Penghargaan bergengsi itu diraih berkat keandalan arsitektur teknologi informasi yang dimanfaatkan perseroan dalam memfasilitasi transaksi pembiayaan.
Tak cuma berfokus pada teknologi, perseroan memperketat pilar kepatuhan, tata kelola, dan mitigasi risiko regulasi guna mengawal pembiayaan jangka panjang. Penguatan fondasi ini bernilai vital karena pendanaan sektor infrastruktur selalu diwarnai skema transaksi yang rumit.
Di bidang penegakan hukum korporasi, IIF mengukir prestasi pada Asia Legal Awards 2026 sebagai Top 10 General Counsel of the Year. Perseroan juga menyabet titel Regional Leadership in Non-Bank Financial Services pada ajang In-House Counsel Summit & Awards (IHCSA) 2026.
IIF menegaskan komitmennya memperluas inovasi digital demi mendorong ekspansi portofolio pembiayaan infrastruktur. Penyatuan sistem dan digitalisasi diharapkan mampu mempercepat realisasi kesepakatan pembiayaan tanpa mengesampingkan kehati-hatian terhadap risiko pendanaan.


