Jakarta, CNBC Indonesia – Sejumlah akademisi dan peneliti diundang oleh Presiden Prabowo Subianto ke Istana Negara pada Kamis (24/9/2026) guna mendengarkan masukan tentang tata kelola dan pemanfaatan lahan gambut. Pertemuan tersebut secara khusus turut mendiskusikan langkah mitigasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Deretan pakar yang terlihat hadir mencakup Bagus Muljadi asal Nottingham University, Azwar Maas dari Universitas Gadjah Mada, Zakaria Amsari asal Universitas Tanjungpura, Haris Gunawan dari UNRI, Darmae Nasir serta Henrik Segah dari Universitas Palangka Raya, Yulianti S Nugroho dari Universitas Indonesia, Asmari Saad asal Universitas Jambi, Puji Lestari dari ITB, hingga Indratmo Soekarno dari ITB.
Hadir pula peneliti Made Hesti Lestari dari BRIN, Ahmad Kurnain asal Universitas Lambung Mangkurat, Bambang Kun Cahyono dari Universitas Gadjah Mada, Sigit Sutikno dari UNRI, Ati Dwi Nurhayati asal IPB, Muhammad Agung Santoso dari UI, serta Leham Sumarga dari ITB.
Rombongan para ilmuwan tersebut tiba di kompleks istana kepresidenan menumpangi dua kendaraan berjenis van.
"Hadi ini kita diundang untuk membahas masalah gambut ya, jadi gambut ini ada dua hal. Pertama tentu masalah karhutla yang harus kita selesaikan. Yang kedua adalah bagaimana sustainable use dari gambut," ujar Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menjelang agenda rapat.
Arif memaparkan total kawasan hidrologis maupun bentang lahan gambut di tanah air terbentang sampai 24 juta hektare. Berdasarkan ketentuan regulasi yang berlaku, pemanfaatan area gambut maksimal dipatok 70 persen sedangkan fungsi lindung ditetapkan 30 persen.
"Sehingga kita harus juga berpikiran satu sisi sustainable use ini benar-benar kita desain dengan baik. Karena di sana ada 41 juta penduduk yang hidup di kawasan hidrologis," ucapnya.
Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani menyampaikan agenda pemaparan hasil monitoring ketersediaan cadangan air pada lahan gambut, terutama hubungannya dengan gelombang cuaca panas belakangan ini.
"Mana yang kurang, ya itu secara detail juga kita berikan. Kemudian juga untuk memberikan masukan terkait dengan pemanfaatannya bagaimana, tanaman apa yang cocok, kemudian untuk gambut yang dangkal, tanah gambut yang kurang dari 1 meter itu bisa ditanami apa," sebutnya.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menambahkan bahwa kepala negara menaruh perhatian serius pada ekosistem gambut, mengingat enam provinsi sasaran utama mitigasi karhutla, seperti Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, serta Kalimantan Tengah didominasi lahan gambut.
"Saya kira bapak presiden punya concern soal gambut. Mungkin nanti kita akan diskusikan dan nanti saya sampaikan hasil ratas nanti ke teman-teman," pungkasnya.
