Lonjakan kebutuhan daya untuk kecerdasan buatan mendorong Korea Selatan menjajaki proyek PLTN di tanah air.
Pemerintah Korea Selatan secara terbuka menyambut potensi kolaborasi strategis dalam pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) bersama Indonesia seiring tingginya perkiraan eskalasi konsumsi listrik dampak ekspansi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) serta pusat data. Opsi energi berbasis nuklir dipandang menjadi solusi krusial dalam menyuplai daya skala masif yang ramah lingkungan sekaligus berkesinambungan demi menopang akselerasi sektor ekonomi digital nasional.
Kim Chanwoo selaku Konselor Menteri Urusan Ekonomi di Kedutaan Besar Republik Korea di Jakarta mengungkapkan bahwa negaranya mengantongi jam terbang sangat matang di ranah rekayasa teknologi atom, termasuk kepiawaian merampungkan instalasi pembangkit di kancah global. Rekam jejak mumpuni ini dinilai memberikan ruang kemitraan yang menjanjikan bagi Republik Indonesia yang kini resmi memasukkan tenaga atom ke dalam skema ketenagalistrikan negara.
"Kami juga memiliki pengalaman mengekspor teknologi nuklir dan membangun pembangkit listrik tenaga nuklir di luar negeri. Karena itu, terdapat potensi kerja sama di bidang ini," kata Kim dalam lokakarya Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea yang diselenggarakan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) bersama Korea Foundation di Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Berdasarkan pandangan Kim, pertambahan kebutuhan suplai daya berkaitan erat dengan dinamika lompatan platform digital modern yang menuntut pasokan arus tanpa henti dalam volume luar biasa. Keberadaan fasilitas pangkalan data sebagai penyokong utama algoritma kecerdasan buatan, komputasi awan, hingga beragam aktivitas digital diprediksi melipatgandakan kebutuhan daya Indonesia secara jangka panjang.
Negeri Ginseng dikenal sebagai salah satu kekuatan global dengan kiprah luas dalam memelihara dan mengoperasikan instalasi daya atom. Menilik kompilasi data dari World Nuclear Association (WNA), Korea Selatan mengoperasikan sedikitnya 26 reaktor berstatus aktif yang mengantongi total daya bersih mencapai 25.609 megawatt listrik (MWe).
Deretan fasilitas reaktor tersebut berkontribusi memasok kurang lebih sepertiga dari total kebutuhan listrik di Korea Selatan. Tak hanya itu, otoritas setempat juga sedang membangun empat reaktor tambahan dengan kapasitas terpasang kumulatif sekitar 5.360 MWe merujuk data pangkalan reaktor milik WNA.
Keandalan teknologi atom Negeri Ginseng tidak cuma dibuktikan di dalam teritori domestiknya semata. Aliansi korporasi bentukan Korea Selatan sukses mendirikan empat unit reaktor tipe canggih APR-1400 pada kompleks Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Barakah di Uni Emirat Arab (UEA), yang tercatat menjadi monumen ekspor teknologi nuklir paling prestisius bagi negara tersebut.
Seluruh instalasi di Barakah kini sudah berjalan secara komersial penuh setelah modul reaktor pemungkas mulai mengalirkan suplai listrik komersial pada September 2024. WNA mencatat kompleks pembangkit raksasa tersebut menyumbang sekitar seperempat dari seluruh kebutuhan setrum nasional UEA. Portofolio pembangunan serta pengelolaan mega-proyek berskala global itu menjadi modal utama bagi ekosistem industri nuklir Korea Selatan guna berekspansi ke pasar dunia.
Kebutuhan Listrik Pusat Data Diproyeksi Melonjak
Gejala ledakan permintaan pasokan listrik akibat maraknya penerapan ekosistem AI tidak hanya menyita atensi para pemangku kebijakan di Indonesia. Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) memprediksi konsumsi setrum fasilitas pusat data dunia bakal melesat hampir dua kali lipat, yakni dari sekitar 485 terawatt-jam (TWh) pada 2025 menjadi kisaran 950 TWh pada 2030.
Berdasarkan riset mendalam IEA seputar korelasi sektor energi dan komputasi cerdas, laju konsumsi listrik pangkalan data khusus AI melompat jauh lebih cepat dibandingkan sarana pusat data reguler. Pembengkakan kebutuhan daya tersebut dipicu oleh pemakaian unit prosesor berdaya komputasi ekstrem, algoritma intensif, serta perangkat infrastruktur penunjang berkapasitas besar.
Tantangan mendasar yang dihadapi sektor industri teknologi saat ini bukan hanya soal menghadirkan volume daya melimpah, melainkan memastikan reliabilitas suplai energi secara konsisten setiap detik. Sarana data center memerlukan stabilitas energi untuk menggerakkan ribuan unit server, mekanisme pendingin suhu, jaringan transmisi komunikasi, hingga sistem proteksi ketat yang tidak boleh padam sekejap pun agar operasional terhindar dari risiko kelumpuhan.
Kiprah badan usaha asal Korea Selatan pada industri fasilitas komputasi awan dan data di Indonesia pun semakin nyata. Korea Overseas Infrastructure & Urban Development Corporation (KIND) pada Oktober 2026 telah mempublikasikan keikutsertaan konsorsium entitas Korea pada proyek pangkalan data cerdas berkemampuan AI di kawasan Jakarta lewat komitmen investasi 320 juta dolar AS.
Inisiatif strategis ini melibatkan kontribusi LG CNS bersama deretan firma Korea Selatan lain dalam mendirikan konstruksi fisik sekaligus pengadaan sistem pendingin mutakhir serta baterai cadangan penopang daya darurat. Pada Jumat (30/10/2026), pihak manajemen LG CNS menegaskan target penyelesaian sarana pusat data Jakarta berada pada awal November. Realitas ini menegaskan keterlibatan aktif Seoul dalam membangun infrastruktur digital domestik, kendati belum bersinggungan langsung dengan pengadaan reaktor daya atom.
Melihat situasi tersebut, pemanfaatan pembangkit berbasis atom tampil menjadi alternatif penghasil energi rendah emisi karbon yang mampu bekerja prima tanpa jeda. Kendati demikian, fasilitas atom bukanlah instrumen tunggal karena pemenuhan daya data center tetap mewajibkan penguatan jaringan transmisi andal, sarana penampung energi, dan diversifikasi pasokan listrik bersih lainnya.
Indonesia Targetkan PLTN Pertama Beroperasi pada 2032
Peluang sinergi erat bersama Korea Selatan sangat selaras dengan arah peta jalan pemerintah Republik Indonesia yang mulai memposisikan energi nuklir ke dalam bauran kelistrikan tanah air.
Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034, pemerintah menetapkan target ekspansi pembangkit nasional sebesar 69,5 gigawatt (GW). Sebagian besar porsi tersebut, yakni 42,6 GW, bakal ditopang sektor energi baru terbarukan, disusul 10,3 GW dari infrastruktur sistem penyimpanan daya cadangan.
Melalui lembar panduan strategis ketenagalistrikan itu, kuota instalasi pembangkit nuklir yang dialokasikan mencapai besaran 0,5 GW atau setara 500 MW. Kendati persentase tersebut tampak sederhana bila disandingkan dengan total proyeksi penambahan kapasitas terpasang nasional, penetapan ini menjadi tonggak sejarah masuknya PLTN ke dalam cetak biru pembangunan energi Indonesia.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menerangkan bahwa realisasi perdana akan dibagi dalam dua unit pembangkit berkapasitas masing-masing 250 MW. Fasilitas perdana ditargetkan aktif beroperasi pada 2032 guna melayani sistem transmisi Sumatera, sementara unit kedua dibidik menyala pada 2033 guna menyuplai kebutuhan jaringan kelistrikan Kalimantan.







