Jakarta, CNBC Indonesia – Menjelang momentum liburan Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 (Nataru), otoritas pemerintah mulai merancang kembali penerapan sistem work from home (WFH) maupun work from anywhere (WFA). Gagasan pola kerja fleksibel ini diajukan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) demi menekan potensi lonjakan mobilitas masyarakat selama masa libur panjang.
Aan Suhanan selaku Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub mengungkapkan bahwa rencana WFH/WFA tersebut bakal dibahas lebih mendalam pada forum rapat koordinasi tingkat kementerian bersama Kemenko PMK.
"Ada usulan juga ya pelaksanaan WFH untuk tanggal-tanggal tertentu, yang sudah kita catat nanti pada saat rapat koordinasi di Kemenko PMK, ini akan diusulkan untuk dijadikan WFH atau work from anywhere," jelas Aan, dikutip Sabtu (7/11/2026).
Berdasarkan skenario awal, kebijakan WFH/WFA disarankan berlaku pada 21 serta 22 Desember 2026, lalu dilanjutkan pada 4 Januari 2027. Opsi dua hari pertama difokuskan sebelum masa puncak mudik, sementara tanggal 4 ditujukan untuk mengurai kemacetan seusai masa puncak arus balik libur akhir tahun.
Pihak Kemenhub mengalkulasi puncak arus mudik Nataru bakal berlangsung pada 23 Desember 2026. Di sisi lain, arus balik diprediksi melonjak tajam pada 3 Januari 2027, sehingga fleksibilitas kerja diyakini efektif memecah titik penumpukan arus lalu lintas kendaraan dan pemudik.
Meski begitu, Aan menggarisbawahi bahwa penetapan hari tersebut masih merupakan rencana awal. "Tadi usulannya tanggal 21-22 di awal ya, kemudian tanggal 4 di akhir dan seterusnya begitulah," imbuhnya.
Estimasi kepadatan mobilitas ini dirumuskan lewat evaluasi data historis dari Badan Kebijakan Transportasi (BKT), serta pertimbangan teknis badan usaha jalan tol (BUJT) dan serikat transportasi terkait.
Walau demikian, rencana WFH/WFA ini belum sah menjadi ketetapan pemerintah. Pembahasan lanjutan melalui rapat lintas kementerian masih diperlukan untuk menentukan jadwal pasti serta petunjuk teknis pelaksanaannya.
