Optimalisasi Kinerja Karyawan Sektor Manufaktur Harus Lebih Terukur dan Terintegrasi

Posted on
banner 336x280

Staffinc menekankan urgensi penyelarasan sumber daya manusia dengan adopsi teknologi.

CIKARANG — Sektor manufaktur kini didorong guna menerapkan sistem tata kelola pekerja yang tidak sekadar berfokus pada kuantitas SDM, melainkan wajib menghitung dampaknya secara konkret terhadap capaian operasional. Langkah tersebut krusial mengingat industri tengah menghadapi lonjakan beban operasional, pergeseran ritme produksi, serta tingginya kerumitan aktivitas pabrikasi.

banner 468x60

Pandangan strategis ini mencuat dalam agenda Staffinc Industry Executive Forum (SIEF) 2026 yang berlangsung di Cikarang, Kamis (22/10). Mengangkat tajuk Achieving Operational Excellence at Scale: Managing Complexity Across People, Processes & Technology in the Manufacturing Industry, forum ini mempertemukan para praktisi untuk mengupas tuntas rintangan tata kelola pekerja industri.

Pada kesempatan tersebut, Tety Yanuati, Ketua FKHR EJIP sekaligus GM PT Kanefusa Indonesia, menguraikan lanskap manufaktur terkini, khususnya tekanan finansial dan kepatuhan hukum yang menjadi ujian berat bagi korporasi dalam mempertahankan keunggulan bersaing.

Tety menegaskan esensi pengelolaan SDM yang adaptif terhadap dinamika pasar. Pelaku usaha wajib menjamin ketersediaan tenaga kerja benar-benar selaras dengan agenda operasional supaya seluruh rangkaian produksi berlangsung maksimal tanpa hambatan.

Di sisi lain, Senior HR Management Practitioner, Dr. Wahyitno, membedah dinamika fluktuasi produksi, manajemen shift kerja, serta kesiapan hingga penempatan personel yang presisi sesuai tuntutan riil di area pabrik.

Head of Business Development Staffinc, Febriandi, memaparkan strategi Result Driven Workforce Solutions bagi manajemen SDM. Ia menegaskan, pemenuhan kuota staf semestinya dibarengi evaluasi kinerja terukur yang berkorelasi langsung dengan indikator utama operasional dan sasaran strategis perseroan.

Febriandi menguraikan pentingnya memadukan pekerja bersama instrumen teknologi, basis data, serta alur kerja sistematis. Sinergi ini mempermudah entitas bisnis memantau performa karyawan secara komprehensif, mengerek stabilitas operasional, dan memastikan kontribusi tiap individu sejalan dengan ritme pabrikasi.

Manajemen ketenagakerjaan dewasa ini melampaui urusan kuantitas personel semata. Kecakapan teknis, alur penugasan, supervisi berkala, hingga optimalisasi perangkat digital berperan besar menjaga daya saing pabrik di tengah dinamisnya volume pesanan.

Pertemuan tersebut turut menyajikan agenda SIEF Live Assessment serta diskusi terarah yang dipandu Nadya Yosephine. Seluruh partisipan mendiskusikan problematika lapangan, mulai dari transparansi data, sinkronisasi divisi personalia dengan divisi teknis, hingga ketidaksesuaian antara skema perencanaan dan implementasi riil.

Tidak ketinggalan, diadakan sesi APTIKNAS AI Executive Workshop menghadirkan Sandy Kusuma, Wakil Ketua I Bidang Digital Talent APTIKNAS. Workshop ini mendalami pemanfaatan kecerdasan artifisial guna menopang efisiensi operasional industri.

SIEF sendiri termasuk dalam rangkaian konferensi Staffinc Group yang digelar melintasi beberapa sentra industri, seperti Bekasi, Cikarang, Jakarta, dan Bandung, sepanjang Oktober sampai November 2026.

Pengelolaan Tenaga Kerja Manufaktur Dituntut Lebih Terukur

Sumpah Pemuda dan Inovasi Pertanian Ala Ella dan Asri

Kendaraan Listrik di Sumut Capai 9.800 Unit, Komisaris PLN Ingatkan Kesiapan SPKLU

Kinerja Astra Makin Solid pada Kuartal III 2026

OJK Ungkap Saham Bank Besar Diborong Investor Saat Harga Terkoreksi

banner 336x280