Kurs rupiah bertengger di posisi Rp18.173 per dolar AS saat sesi pembukaan transaksi pada Rabu (28/10) pagi. Posisi mata uang nasional tersebut merosot sebesar 17 poin atau menyusut 0,09 persen dari level penutupan sebelumnya.
Kondisi mata uang di kawasan Asia bergerak cukup variatif terhadap keperkasaan dolar AS. Peso Filipina mampu naik 0,14 persen, ringgit Malaysia bertambah kuat 0,13 persen, serta dolar Hong Kong naik tipis 0,01 persen.
Sebaliknya, won Korea Selatan tertekan sampai 0,66 persen, dolar Singapura turun 0,05 persen, yuan China merosot 0,02 persen, dan yen Jepang tergerus 0,01 persen.
Di sisi lain, jajaran mata uang utama dunia turut menunjukkan performa yang beragam saat menghadapi dolar AS. Dolar Australia tercatat naik 0,22 persen. Namun, dolar Kanada justru terpangkas 0,07 persen, franc Swiss berkurang 0,08 persen, poundsterling Inggris terkoreksi 0,05 persen, dan euro Eropa melemah 0,01 persen.
Lukman Leong selaku Analis mata uang DOO Financial Futures menyebutkan bahwa rupiah masih berpeluang tertekan akibat melesatnya indeks dolar AS menjelang agenda pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) nanti malam.
"Rupiah diperkirakan masih berpotensi melemah di tengah kenaikan indeks dolar AS akibat antisipasi sikap hawkish The Fed dalam pertemuan FOMC malam ini. Harga minyak yang masih tinggi dan aksi jual bersih investor asing di pasar saham domestik juga masih membebani rupiah," ungkapnya kepada CNNIndonesia.com.
Lukman memproyeksikan laju nilai tukar rupiah bakal bergulir di kisaran Rp18.100 sampai Rp18.200 per dolar AS sepanjang sesi perdagangan hari ini.
