Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data Nilai Tukar Petani (NTP) tingkat nasional yang menyentuh angka 132,60 sepanjang Oktober 2026. Capaian ini memperlihatkan pertumbuhan sebesar 1,13 persen apabila dikomparasikan dengan kondisi pada September 2026.
Ukuran NTP umumnya dipergunakan sebagai tolok ukur daya beli serta kesanggupan produsen agrikultur dalam mencukupi ongkos produksi sekaligus kebutuhan sehari-hari lewat hasil panen mereka.
Ateng Hartono selaku Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS menjelaskan bahwa penguatan NTP dipicu laju indeks harga yang diterima petani (It) yang bergerak melampaui indeks harga yang dibayar petani (Ib).
"Peningkatan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani (It) naik sebesar 1,55 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib) sebesar 0,41 persen," tutur Ateng pada konferensi pers BPS, Senin (2/11).
Pada skala nasional, lembaga statistik tersebut memaparkan bahwa komoditas utama pendorong naiknya indeks penerimaan petani mencakup karet, jagung, cabai merah, beserta gabah.
Jika ditinjau menurut subsektor, penguatan NTP tampak di bidang tanaman pangan, perkebunan rakyat, serta hortikultura. Sektor hortikultura tampil memimpin lewat lonjakan paling signifikan sebesar 6,88 persen.
"Hal ini terutama disebabkan indeks harga yang diterima petani hortikultura naik cukup tinggi, yaitu naik 7,12 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar petani hortikultura hanya mengalami kenaikan sebesar 0,23 persen," jelas Ateng.
Faktor komoditas penopang melesatnya indeks penerimaan pada kalangan petani hortikultura terutama bersumber dari pergerakan harga cabai rawit, tomat, serta cabai merah.
Kendati demikian, tren penurunan NTP justru melanda subsektor peternakan maupun perikanan. Dua bidang usaha tersebut masing-masing terkoreksi sebesar 0,88 persen serta 0,51 persen.
Mengenai subsektor perikanan, pelemahan bersumber dari Nilai Tukar Nelayan (NTN) yang merosot 0,99 persen, kendati Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPI) masih sanggup tumbuh tipis 0,26 persen.
"Penurunan nilai tukar nelayan terutama karena indeks harga yang diterima nelayan turun sebesar 0,51 persen. Sedangkan indeks harga yang dibayar nelayan meningkat sebesar 0,49 persen," ungkap Ateng.
Komoditas tangkapan laut yang paling berpengaruh menekan indeks penerimaan nelayan mencakup ikan cakalang, layang, hingga ikan tongkol.
