Netanyahu Disebut Desak Trump Segera Gempur Iran Selepas Pemilu Paruh Waktu AS

Posted on
banner 336x280

Jakarta, CNBC Indonesia – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan meminta Presiden AS Donald Trump untuk segera menggelar gempuran militer anyar terhadap Iran pasca-pemilihan sela, Selasa (3/11/2026). Informasi ini dipublikasikan oleh media Axios, merujuk pada keterangan dari pejabat berwenang di Washington serta Yerusalem Barat.

Pemberitaan tersebut membeberkan isi dialog via telepon antara kedua tokoh dunia terkait potensi peluncuran kembali agresi bersenjata ke Teheran. Komunikasi telepon itu terjadi pada akhir pekan lalu serta sempat diberitakan pertama kali oleh Wall Street Journal.

banner 468x60

Berdasarkan laporan itu, seorang narasumber dari Israel menilai percakapan tersebut berlangsung "keras". Di sisi lain, seorang informan asal pihak Amerika Serikat menyebut interaksi itu berjalan secara "langsung".

Mengacu pada keterangan informan-informan tadi, Trump menerangkan kepada Netanyahu bahwa ketimbang segera membombardir Iran, ia lebih mengutamakan pemberian ruang bagi proses diplomasi antara pihak Washington dan Teheran. Sikap tersebut rupanya membuat Netanyahu merasa cemas dan tidak tenang.

Percakapan via telepon ini bergulir pada fase yang amat genting bagi Netanyahu, yang saat ini sedang menghadapi perundingan koalisi yang rumit usai kubu sayap kanannya tak berhasil mengamankan suara mayoritas parlemen dalam pemilu Israel akhir Oktober ini. Kondisi pelik tersebut menyebabkan posisinya sebagai PM berada di ujung tanduk.

Sementara itu, wartawan AS Tucker Carlson membeberkan lewat akun media sosial X miliknya bahwa Washington "mungkin hanya tinggal beberapa hari lagi" sebelum melepaskan serangan berhulu ledak nuklir ke Iran. Langkah ini mencuat di bawah desakan kuat Netanyahu, sosok yang disebut "menelepon Trump setiap hari untuk membahas hal tersebut".

Menurut narasumber Carlson, Netanyahu mendesak militer Negeri Paman Sam menargetkan sebuah kompleks di Gunung Pickaxe di wilayah Iran tengah. Kawasan perbukitan itu, seturut laporan intelijen Israel, difungsikan Teheran guna mengaktifkan kembali aktivitas pengayaan uranium nuklirnya.

Di sisi lain, Trump berkali-kali melontarkan peringatan keras bakal kembali memukul Iran seandainya Teheran menolak mematuhi syarat-syarat perdamaian yang ia sodorkan. Gertakan ini tetap disuarakan kendati inspektur jenderal Pentagon pada September telah mengingatkan bahwa pemakaian amunisi utama secara masif di Timur Tengah "telah menyebabkan kekurangan dalam inventaris strategis dan mengungkap hambatan pada basis industri untuk pengadaan kembali amunisi".

Berdasarkan data Wall Street Journal, gempuran peluru kendali serta drone Teheran juga sempat memicu kerugian hingga menembus angka US$15 miliar (Rp273,78 triliun) terhadap pangkalan-pangkalan militer AS di wilayah Timur Tengah. Pekan lalu, Wakil Presiden AS J.D. Vance bahkan telah menyurati kepala keamanan nasional Iran Mohsen Rezaei untuk menyodorkan dimulainya kembali dialog damai yang mandek selama berbulan-bulan.

Serangan ke Pulau Qeshm

Di waktu yang sama, militer AS melancarkan operasi serangan menuju Pulau Qeshm milik Iran di Selat Hormuz. Kantor berita Reuters mengungkapkan seorang narasumber pejabat AS mengonfirmasi aksi itu pada Senin malam atau Selasa dini hari.

"Serangan tersebut bersifat terbatas dan bukan merupakan dimulainya kembali operasi tempur skala besar," tegas pejabat itu, yang berbicara dengan syarat kerahasiaan identitas.

"Serangan itu merupakan langkah defensif terhadap pihak Iran yang menggunakan rudal darat-ke-udara untuk menyasar aset-aset AS," tutur pejabat lainnya yang juga meminta anonimitas.

Pihak Pentagon memutuskan melimpahkan konfirmasi kabar ini kepada Komando Pusat AS (US Central Command/CENTCOM), lembaga komando yang membawahi tentara AS di Timur Tengah. Terkait insiden tersebut, kantor berita IRNA milik otoritas Iran sebelumnya sempat mengabarkan kemunculan rentetan dentuman ledakan di Pulau Qeshm.

banner 336x280