Jakarta, CNBC Indonesia – Bencana kebakaran hutan di Amazon, Brasil, terus merembet seiring kemarau dahsyat yang terimbas fenomena El Niño. Selubung asap tebal saat ini mengepung banyak kawasan serta menghancurkan mutu udara, menghadirkan kondisi suram yang menyerupai musibah karhutla di Indonesia.
Hasil tangkapan satelit NASA bertanggal 12 Oktober 2026 menampakkan gumpalan asap kebakaran di Amazon area tengah hingga timur, merata pada kedua tepian Sungai Amazon. Pada kawasan Manaus, kota besar di wilayah itu, kadar polutan partikel halus PM2.5 menembus lebih dari 135 mikrogram per meter kubik, memicu penutupan sekolah, penghentian aktivitas warga, hingga pembatalan agenda olahraga.
Ilmuwan Goddard Space Flight Center NASA, Douglas Morton, menjelaskan kebakaran hutan tropis dapat memicu efek berantai di berbagai belahan bumi. Ia menuturkan rentetan kebakaran yang mulanya berkobar di Indonesia saat ini tengah disusul oleh petaka di Amazon.
"Sekarang, di Amazon, kita melihat domino kedua dalam rangkaian ini tumbang," ungkap Morton, menyoroti kobaran api di Pará dan Amazonas, Brasil, dilansir Senin (19/10/2026).
Di Indonesia sendiri karhutla sudah berkecamuk sejak Agustus 2026. Memasuki Oktober, ratusan bangunan rumah warga luluh lantak diamuk si jago merah, beriringan dengan pekatnya asap di banyak pulau. Morton menyebutkan ritme bencana ini sempat berlangsung pada 2015-2016 dan berulang pada 2023.
Kekeringan parah menyebabkan lanskap Amazon sangat rawan terbakar. Catatan Institut Meteorologi Nasional Brasil memperlihatkan presipitasi hujan Manaus merosot 95% di bawah batas normal sepanjang Agustus, serta masih anjlok 60% dari standar rata-rata pada September.
Hampir seluruh karhutla Amazon tersulut oleh ulah manusia, mengingat sambaran petir hanya menyumbang di bawah 1%. Pembakaran yang awalnya ditujukan guna pembukaan kebun atau pengolahan area gembala ternak kerap merembet liar ke rimbunnya vegetasi hutan yang kering kerontang.
Shane Coffield, akademisi University of Maryland mitra NASA Goddard, memprediksi muncul sekitar 50 sampai 70 titik kebakaran tak terkendali di sekitar area Santarém.
Kajiannya mengungkap keberadaan titik api di zona itu sebenarnya sekitar 40% lebih banyak ketimbang deteksi sistem monitor FIRMS, lantaran pekatnya asap, kumpulan awan, serta lebatnya kanopi pohon kerap membatasi pengamatan satelit.
Morton mengingatkan ancaman kebakaran berikutnya siap menerpa Roraima, Pará utara, Amapá, Venezuela, Guyana, dan Suriname selama kurun November hingga Desember. Mengingat kuatnya El Niño, ia menegaskan pencegahan pembakaran lahan sangat mendesak.
"Ini sangat mencolok sekaligus membuat frustrasi karena terjadi lagi," tegasnya. "Dengan intensitas El Niño ini, tahun ini benar-benar menjadi saat bagi orang-orang untuk menghindari pembakaran dengan segala cara."








