Mentan Amran Beberkan Permintaan Baru Ekspor Beras dari Negara Lain

Posted on

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa terdapat negara lain yang berkeinginan mendatangkan pasokan beras dari Indonesia.

Minat baru tersebut hadir ketika pasar ekspor beras nasional mulai terbuka luas, kendati Amran belum membeberkan identitas negara peminat tersebut secara gamblang.

"Ada lagi permintaan ekspor (beras) ke salah satu negara, tunggu aja beritanya besok atau lusa. Kemarin telepon salah satu negara meminta beras," tutur Amran saat jumpa pers di kantor Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Senin (19/10).

Meski begitu, Amran masih merahasiakan nama negara pemohon anyar maupun kuantitas beras yang dibutuhkan. Informasi lengkap perihal permohonan komoditas tersebut rencananya segera disampaikan pihak pemerintah dalam beberapa hari mendatang.

Ia menjelaskan bahwa agenda negara bukan sekadar merealisasikan swasembada beras, melainkan turut membentuk ekosistem pangan terpadu yang menyatukan hasil panen petani lokal dengan kebutuhan pelaku industri serta pasar luas.

Salah satu langkah konkretnya yakni pola penyerapan produksi jagung panen oleh peternak, di mana sisa surplus produksinya bisa diarahkan menuju Perum Bulog lewat skema sistem resi gudang.

Kementerian terkait juga tengah merancang pendirian fasilitas pabrik guna menampung luapan stok telur ayam. Bersamaan dengan itu, inisiatif Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) komoditas jagung lewat Bulog disiapkan untuk memasok bahan pakan, sehingga Amran mendesak Bulog agar segera mempercepat proses penyalurannya.

Pada aspek lain, Amran memaparkan bahwa neraca perdagangan pada sektor agrikultur tengah menorehkan lompatan signifikan. Ia memproyeksikan ekspor komoditas pertanian 2025 mampu menyentuh Rp166 triliun, diiringi penurunan angka impor sebesar Rp41 triliun.

"Ekspor kita naik 2025 itu Rp166 triliun, impor kita turun Rp41 triliun. Rp208 triliun tambahan nilai dengan kebijakan-kebijakan sektor pertanian," jelas Amran.

Amran turut memaparkan catatan Nilai Tukar Petani (NTP) yang berhasil menembus level 131, rekor capaian yang disebutnya sebagai puncak tertinggi sepanjang sejarah.

Ia menilai keberhasilan rekor ini ditopang kebijakan pemotongan banderol pupuk sebesar 20 persen, serta penetapan kenaikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah menjadi Rp6.500 per kilogram.

Sebelum agenda ini, Indonesia telah menyetujui komitmen pengiriman 1.000 ton beras komersial kualitas premium ke Malaysia, hasil kolaborasi Bulog bersama korporasi Padi dan Beras Borneo Sdn Bhd.

Penyaluran beras tersebut dijadwalkan berjalan secara berkala demi memasok kebutuhan pangan wilayah Sarawak yang ditaksir menyentuh 200 ribu ton setiap tahunnya.

Selain itu, pihak regulator sempat mengajukan rencana pengiriman komoditas beras sekurang-kurangnya 10 ribu ton menuju pasar Singapura.

Adapun penjajakan suplai 2.280 ton beras bagi konsumsi jemaah haji asal Indonesia di Arab Saudi periode 2026 sempat menunggu evaluasi keamanan lintas lembaga akibat memanasnya tensi geopolitik Timur Tengah.