Liputan6.com, Tangerang Selatan – Momen seremonial kelulusan barangkali cuma berlangsung selama beberapa jam saja, akan tetapi jalan panjang penuh perjuangan telah ditempuh jauh sebelum hari membahagiakan itu tiba. Sebanyak 2.052 wisudawan Universitas Terbuka (UT) Jakarta resmi mengenakan jubah toga kebanggaan yang menjadi lambang keberhasilan merampungkan studi akademis di tengah padatnya rutinitas pekerjaan harian dan amanah keluarga masing-masing.
Keahlian membagi waktu serta pengalaman belajar tersebut dipandang menjadi modal krusial tatkala mereka kembali berkecimpung di lingkungan masyarakat luas. Terlebih lagi, derasnya gelombang transformasi teknologi dan tingginya ekspektasi dunia industri menuntut individu untuk selalu adaptif serta konsisten memperbarui wawasan kendati prosesi wisuda dan ijazah sarjana telah resmi diraih.
Nilai ketangguhan itu menjadi sorotan utama dalam agenda Wisuda UT Jakarta Periode II Tahun 2026 yang berlangsung di gedung Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Pondok Cabe, Tangerang Selatan, pada hari Minggu (27/9/2026). Mengusung tajuk “Membangun Mentalitas Adaptif dalam Menghadapi Tatanan Dunia Baru”, acara sakral ini dihadiri secara langsung oleh 2.052 wisudawan terpilih.
Berdasarkan rekapan data kelulusan universitas, tercatat sebanyak 4.488 orang sarjana telah terdaftar resmi melalui payung hukum SK 698: 4.397 Tahun 2026 serta SK 1099: 91 Tahun 2026. Seluruh lulusan tersebut merepresentasikan bermacam strata pendidikan tinggi dan beragam rumpun keilmuan strategis.
Sebagian Besar Mahasiswa UT Tercatat Telah Memiliki Pekerjaan Menjelang Kelulusan
Rektor UT Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si. menyampaikan pandangannya bahwa kehadiran seluruh alumni merupakan cerminan nyata dari dedikasi UT dalam memperluas jangkauan kebermanfaatan pendidikan tinggi nasional. Fenomena ini terlihat sangat nyata dari tingginya rasio mahasiswa yang telah bekerja secara mapan, baik sejak awal mula masuk perkuliahan maupun saat mendekati garis akhir kelulusan studi mereka.
“Dampak yang paling nyata adalah kalau secara statistik mahasiswa UT saat bergabung rata-rata jumlahnya adalah 80% sudah bekerja. Pada saat menjelang lulus itu 90%, itu survei internal ya, 90% telah bekerja,” kata Prof. Ali.
Di sisi lain, terdapat sekitar 10 persen mahasiswa yang tidak menyertakan keterangan profesi dalam sistem data kampus. Sebagian kalangan dari kelompok tersebut memutuskan untuk fokus mengurus rumah tangga maupun menekuni berbagai kesibukan privat lainnya di luar dunia kerja formal.
Bagi mahasiswa yang belum terserap di sektor ketenagakerjaan, pihak kampus UT secara intensif merancang program peningkatan kapasitas profesional lewat pelatihan khusus serta penyediaan ujian sertifikasi resmi. Langkah strategis ini dirancang agar para lulusan memiliki keunggulan kompetensi terukur dan siap bersaing di kancah industri kerja modern.
“Salah satu pembekalan yang kita berikan, jadi semenjak tahun ini kita berikan kewajiban, mungkin wisuda sekarang belum, tapi setelah ini adalah mahasiswa yang akan lulus itu setidaknya memiliki empat kompetensi, ya memiliki empat sertifikasi,” tuturnya.
Strategi penguatan kapabilitas ini berjalan beriringan dengan pembaruan platform teknologi pendidikan internal UT. Di wilayah operasional UT Jakarta yang kini menaungi hampir 100.000 mahasiswa aktif, unit layanan inovatif “Jakarta 2” dihadirkan dengan konsep digital menyeluruh untuk merangkul preferensi generasi muda sekalian mempermudah akses layanan perkuliahan.
Transformasi modern ini mencerminkan langkah UT beralih dari skema Open and Distance Learning (ODL) menuju sistem Open Distance Digital Flexible Learning (ODDFL). Ekosistem akademik diperkuat via implementasi kurikulum Outcome-Based Education (OBE) yang selaras dengan industri, pemanfaatan Learning Management System terpadu mulai registrasi sampai ujian, modul berbasis micro-credential, dan tes daring lewat ponsel pintar.
“Moga-moga bagi gen-z ini merasa nyaman dan cocok untuk pendidikan jarak jauh yang full digital. Semoga dengan cara ini kita terus berlari-lari sehingga masa depan itu kita yang menghadirkan, bukan menunggu masa depan itu hadir,” ujar Prof. Ali.
Ribuan Lulusan Berasal dari Berbagai Jenjang dan Program Studi
Dari total 2.052 wisudawan yang memadati ruangan, sebanyak 38 orang merupakan lulusan jenjang Pascasarjana yang mencakup dua orang lulusan doktor dan 36 lulusan magister. Sementara itu, rincian per fakultas terdiri dari FEB dengan 1.841 lulusan, FHISIP sebanyak 1.412 lulusan, FST meluluskan 280 orang, FKIP sebanyak 558 orang, serta Sekolah Vokasi meluluskan 359 orang yang terdiri dari 48 jenjang D4 dan 311 jenjang D3.
Dari ribuan nama tersebut, sejumlah sarjana sukses menorehkan prestasi nilai istimewa. Juliani dari Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemahan meraih IPK 3,87, Nurul Safitri dari Akuntansi meraih IPK 3,78, Melvin Marthin Pattinaya dari Sistem Informasi meraih IPK 3,71, dan Diah Mustika Ratih dari PGSD Dalam Jabatan (In Service) mencatat IPK 3,84.
Direktur UT Jakarta Drs. Moh. Muzammil, M.M. menuturkan bahwa pengalaman mengenyam studi di UT menjadi kawah candradimuka berharga dalam menempa kesiapan mahasiswa menghadapi dinamika karier. Skema belajar fleksibel menuntut kemandirian penuh dalam mengelola waktu, menjadi bekal berharga yang langsung relevan bagi kehidupan sehari-hari maupun karier profesional lulusan.
Kini, ribuan alumni siap kembali mengabdi ke penjuru negeri berbekal latar belakang, profesi, serta cita-cita unik. Di sanalah makna pendidikan berlanjut lewat karya nyata, integritas kerja, dan pelayanan publik secara berkelanjutan, bukan sekadar pencapaian selembar ijazah semata.
Nilai luhur ini senapas dengan komitmen SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, yang menempatkan pemerataan akses belajar seumur hidup sebagai fondasi kemajuan peradaban bangsa yang berkelanjutan.
Dapatkan rangkuman warta terkini dan tepercaya lainnya di laman Berita Liputan6
