Kurs rupiah tergelincir hingga menginjak kisaran Rp18.124 per dolar AS pada sesi transaksi Senin (26/10) siang. Kondisi tersebut menempatkan rupiah kian mendekati rekor terlemah sepanjang tahun 2026.
Mengutip data Bloomberg pada pukul 13.51 WIB, mata uang Garuda bertengger di posisi Rp18.126 per dolar AS. Angka ini mencerminkan koreksi sebesar 44 poin atau setara 0,24 persen bila disandingkan dengan catatan transaksi pagi hari.
Pada awal sesi hari ini, nilai tukar rupiah sesungguhnya sempat dibuka di level Rp18.085 per dolar AS, terdepresiasi tipis 5 poin atau 0,03 persen dari harga penutupan sesi sebelumnya.
Sebagai perbandingan, rupiah tercatat pernah menyentuh posisi yang jauh lebih rendah pada Juni 2026 lalu. Dari data historis yang dihimpun, mata uang nasional sempat anjlok ke level Rp18.188 hingga Rp18.196 per dolar AS tepatnya pada 8 Juni.
Pengamat pasar uang dari DOO Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan pelemahan rupiah kali ini salah satunya dipicu derasnya arus modal keluar dari pasar saham dalam negeri.
"Outflow yang masih intensif di pasar ekuitas domestik, yang sudah melewati Rp1 triliun hanya di sesi pertama," jelas Lukman, Senin (26/10).
Faktor lain yang ikut memberatkan kurs Garuda adalah lonjakan harga minyak mentah global.
"Harga minyak dunia yang masih terus naik juga membebani rupiah," pungkasnya.
