Sebuah fasilitas perkantoran milik raksasa energi milik negara Arab Saudi, Saudi Aramco, yang berlokasi di Dhahran dilaporkan terkena hantaman rudal balistik hingga menimbulkan kobaran api berskala terbatas.
Berdasarkan warta Reuters pada Rabu (14/10/2026), pihak Kementerian Energi Arab Saudi menerangkan bahwa petugas darurat lekas turun tangan menangani kejadian itu pada Selasa larut malam, serta menegaskan sama sekali tidak ada korban cedera atau jiwa. Walau demikian, seorang narasumber internal Aramco membeberkan proyektil balistik itu jatuh tepat di area markas sentral perseroan, memorak-porandakan tiga lantai teratas gedung perkantoran dan menyulut amukan api.
Kawasan operasional vital ini sejatinya menjadi pusat kendali utama bagi korporasi Aramco dalam memantau segenap sistem rig pengeboran, jaringan transmisi pipa minyak mentah, serta fasilitas dermaga pengapalan ekspor.
Faksi pemberontak Houthi asal Yaman yang disokong Iran terbukti mengarahkan gelombang tembakan rudal balistik beserta armada pesawat tanpa awak menuju sejumlah lokasi krusial milik Saudi sepanjang sepekan belakangan. Rentetan agresi militer ini dilancarkan sebagai aksi balasan atas keberpihakan Riyadh kepada militer loyalis pemerintah dalam perang domestik Yaman yang kembali berkecamuk hebat.
Sinyal ancaman tegas sebelumnya sempat disampaikan langsung oleh Juru Bicara Houthi, Yahya Saree, yang bersumpah melancarkan pembalasan setimpal menyusul gempuran jet tempur koalisi Saudi ke Sanaa.
"Target dapat mencakup markas besar Saudi Aramco di Dhahran dan kilang minyak di Riyadh," tegasnya kala itu.
Meningkatnya ketegangan tersebut telah merenggut nyawa masyarakat sipil. Pada Sabtu pekan lalu, lesatan rudal Houthi yang menyasar bandara internasional Riyadh menewaskan sedikitnya 13 orang, menjadi peristiwa paling berdarah di tanah Saudi selama sepuluh tahun ke belakang. Di lain pihak, aparat Pertahanan Sipil Saudi mencatat empat warga luka-luka (mencakup dua wanita, seorang pria dewasa, dan satu anak kecil) serta 15 kediaman pribadi hancur di Riyadh dampak serpihan runtuhan dua rudal Houthi yang dilumpuhkan sistem pertahanan udara pada hari Rabu.
Menjawab gempuran berkelanjutan itu, gabungan militer pimpinan Arab Saudi melancarkan serangan balasan yang menghantam fasilitas stasiun sentral Sabah kepunyaan Korporasi Perminyakan Yaman di wilayah luar kota Sanaa.
"Operasi ini bertujuan menetralkan kemampuan Houthi untuk mengancam Arab Saudi, Yaman, dan perairan internasional," terang koalisi dalam pengumuman resminya.
Dewan Kabinet Saudi yang dinakhodai langsung Putra Mahkota Mohammed bin Salman turut mengeluarkan peringatan keras bahwa milisi Houthi niscaya menanggung akibat yang amat fatal atas seluruh tindakan provokasi berbahaya mereka terhadap wilayah kedaulatan kerajaan.
Bara pertempuran Yaman kembali membara sebagai imbas meluasnya friksi geopolitik antara kubu AS-Israel menghadapi Republik Islam Iran sejak 28 Februari lalu. Pemblokiran alur Selat Hormuz oleh pemerintah Teheran membuat posisi Selat Bab el-Mandeb yang sempat berada di bawah cengkeraman Houthi menjadi arteri distribusi minyak bumi yang luar biasa krusial untuk kestabilan pasokan Saudi maupun kebutuhan energi global.
Di tengah pusaran krisis Timur Tengah ini, Washington selaku mitra pertahanan paling utama bagi Saudi hingga kini memilih tidak terjun langsung dalam aksi militer memerangi faksi Houthi. Di sisi seberang, Teheran lewat Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi malah secara terang-terangan mengajukan diri menjadi fasilitator perdamaian guna menengahi perselisihan antara pihak Riyadh dan gerilyawan Houthi.
